Cogitans

Alter ego

An alter ego (Latin, “the other I”) is a second self, which is believed to be distinct from a person’s normal or original personality. The term was coined in the early nineteenth century when dissociative identity disorder was first described by psychologists.[1] A person who has an alter ego is said to lead a double life.

Wikipedia

Alter ego, kamu punya? Everybody got one, I guess. Dalam skala yang berbeda, ya. Porsi kecil lah, semua orang pasti punya.

Apalagi sekarang zamannya online. Semua orang (oke, mayoritas) punya akun di dunia maya. Minimal email deh. Tapi mengingat makin murahnya biaya internet, hampir semua punya akun sosial media (Facebook, Twitter, dll). Entah sadar atau enggak, akun socmed itu jadi ajang pencitraan. Mulai dari apa yang tiap hari kamu lakukan: kamu lagi makan dimana, foto sama siapa, lagi kuliah, lagi di kantor, dsb. Kalau makan, kadang makanannya di foto, lagi makan es krim Häagen-Dazs buat pamer nunjukkin kalau kamu keren. Kalau lagi foto, kamu nunjukkin lagi akrab sama orang itu, padahal mungkin nggak deket-deket banget, cuma buat pencitraan aja apalagi kalau yang di foto bareng termasuk orang beken jadi biar disangka ikut beken juga.

Selain itu, yang namanya status. Medianya sering jadi tempat curhat. Apalagi kalau galau. Padahal di dunia nyata keliatan normal-normal aja, eh begitu di lihat statusnya penuh dengan kegalauan, kayak beban dunia semua runtuh di pundaknya. Trus, kadang pasang kata-kata mutiara yang cuma modal copy/paste doang. Parahnya lagi kalau uda pasang status sok bijak trus belagu, ngerasa dirinya paling bener sedunia karena bisa menggurui orang lain. Beuuh..

Don’t worry, you’re not alone, I did it too before, a lot.

Kita punya hak buat berekspresi. Apalagi di dunia maya, fenomena menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh sudah nggak asing ya. Karena di dunia maya ini kita bisa bikin akun pseudonym. Tahu kan, macam @poconggg dulu, sebelum identitas aslinya ketahuan. Hal-hal yang nggak bisa kita ungkapkan di dunia nyata, bocor semua di dunia maya. Keluhanmu, opinimu, yang aslinya diem jadi cerewet, and sometimes your darkest secret. Semua tumpah ruah di socmed. There, kamu tunjukkin ke dunia sisi dirimu yang malu atau sengaja atau mungkin nggak bisa kamu tunjukkan di dunia nyata.

That’s, I think, your alter ego.

Cogitans

Don’t be RT or TimeLine abuser. Be a smart twitter user!

Kadang kita memaafkan orang karena kita masih pengen mereka ada dalam kehidupan kita.

True, saya masih pengen banget follow kamu, jadi selama ini saya menahan diri dengan tindakan RT abusing karena masih pengen temenan. Pengen tahu kabar kamu melalui tweet-tweet kamu, pengen baca tweet menarik dari kamu.

Jadi, kalau kamu baca ini, please jangan tersinggung. Bukan mau ngata-ngatain, tapi tulisan ini ada karena aku nggak pengen hubungan kita renggang dan karena aku sayang kamu #eaa.

I wanna be forever your lovely friend, and I hope you feel and act the same. And I will still be the one. So, please jangan marah ya~

Jangan marah setelah baca tulisan ini, well, boleh deh marah bentar, tapi jangan lama-lama ya marahnya. Dan jangan di close sebelum selesai bacanya, karena nanti nggak berkah lho #ngancem

Apa yang saya maksud dengan RT or TimeLine abuser?

Lihat ini:

Bikinin gue dong.. RT @Temennya_Aak Ga ada ya bikinlah, dodol lu RT @Aak Ga ada sambelnya di rumah RT @Temennya_Aak Mkn

Ga ada ya bikinlah, dodol lu RT @Aak Ga ada sambelnya di rumah RT @Temennya_Aak Mkn sambel terong aja RT @Aak Lapar nih, ena

Ga ada sambelnya di rumah RT @Temennya_Aak Mkn sambel terong aja RT @Aak Lapar nih, enaknya makan apa ya?

Mkn sambel terong aja RT @Aak Lapar nih, enaknya makan apa ya?

@Temennya_Aak Lapar nih, enaknya makan apa ya? RT @Temennya_Aak : @Aak Lagi ngapain?

@Aak Lagi ngapain?

Kagetlah saya kenapa TL saya penuh dengan obrolan sambel terong punya Aak.  Kirain salah buka twitter punya orang. Kadang pas buka TL sampe bertanya2, “Ini TL gue apa TL ‘dia’ ya?” *sambil berkali2 ngecek akun, siapa tau tiba-tiba akun kita ketuker*

Penting gitu ya sambel terong buat saya yang lagi sibuk mikirin hal dan masalah lain? Okelah saya tahu situ laper dan pengen makan sambel terong, but that’s it. Nggak perlulah saya baca obrolan kamu dan temenmu itu. Apalagi kalau kalian ngegosip sampe puanjaaaaang gitu kan?

Twitter itu uda kayak lingkungan bertetangga. Kalau kalian nyampah sembarangan, ya tetangga juga yg nggak nyaman.

Di lingkungan rumah nih misalnya. Kalau si A nyampah numpuk nggak dibersihkan sebulan, nyampahnya di depan rumah dia sih. Tapi kita tetangga sebelah rumahnya nih, tiap kita buka pintu, duuuh baunya sampe masuk ke dalam rumah tiap kita buka pintu depan. Apalagi pas kita mau berangkat sekolah tiap hari bisa bolak balik lewat depan rumahnya yang bau sampah. Kan malesin banget ya. Sebagai tetangga kita ngerasa nggak nyaman.

Menurut The Twitter Glossary, RT (Retweet) adalah:

Retweet (noun)

A Tweet by another user, forwarded to you by someone you follow. Often used to spread news or share valuable findings on Twitter.

Retweet (verb)

To retweet, retweeting, retweeted. The act of forwarding another user’s Tweet to all of your followers.

Tentu, menurut definisi diatas, RT yang dilakukan Aak dan temannya itu Benar–secara teknis. Tapi secara etis?

Ketika RT di abuse sedemikian rupa, sama aja dengan sewenang-wenang ikut menodai TL orang lain (Follower a.k.a Aku dan teman-temanmu lainnya). Kayak kata Kartika di blognya: untukku tweetku, untukmu tweetmu…tapi tweetmu muncul di timelineku.

Saya nggak keberatan kalau kamu RT banyak, asal sesuai konteks ajah, misal MT yang menurut The Twitter Glossary adalah:

MT

Similar to RT, an abbreviation for “Modified Tweet.” Placed before the retweeted text when users manually retweet a message with modifications, for example shortening a Tweet.

Itu mirip tuh sama contoh obrolannya si Aak dan temannya tentang sambel terong… secara teknis bener. Tapi yang di maksud Twitter tentunya sebuat tweet informasi yang bener-bener penting dan layak lho ya. Nih yang saya maksud RT sesuai konteks:

HEADLINE NEWS @MakNEWS

Diduga blog yang digunakan pembunuh bayaran untuk mempromosikan jasanya adalah milik Tuan Punjabb Termehe-mehe. Saat ini polisi sedang mengusut kasusnya http://bit.ly769h

di Retweet Eneng jadinya kepanjangan deh, karena di MT jadi begini:

Neng Manis @Eneng

Baca deh, serem ya sekarang » RT @MakNEWS Diduga blog yang digunakan pembunuh bayaran untuk mempromosikan jasanya adalah milik Tuan Punjabb  http://bit.ly769h

Tuh, enak kan kalau cuma gitu. Saya yang kuper jadi tahu kalau zaman sekarang jual jasa pembunuhan ternyata uda bisa lewat blog. Ih wow, terbantu banget deh dengan info yg di MT sama si Eneng, jauh lebih bermanfaat daripada sambel terong.

Begitulah..

Padahal kalau aku kepo, aku bisa selalu main ke Profil Timeline kamu dan baca setiap jejak yang telah kamu bicarakan bersama temanmu itu. Apalagi sekarang twitter kan keren, ada yang namanya tombol Expand, kalau saya klik itu, nongol semua history pembicaraan kamu dan temenmu itu~

Fitur Expand ini juga ada kok buat aplikasi HP, contohnya di Ubersoc itu tinggal klik View Conversations, fungsinya sama kayak Expand. Jadi nggak ada alasan karena kamu nggak buka twitter di web, kamu malah abuse TimeLine follower dengan RTmu itu.

Udah ada beberapa temen yang saya unfollow karena nggak tahan TL di abuse sedemikian parah. Masa iya, suatu pagi ketika saya buka TL sekitar 70an tweets isinya obrolan RT dia semua. Sampe capek scroll-loadingnya ke bawah. Mau ngecek tweets temen lain ketimbun semua. Buyaaarrrrr.. Karena sebel, langsung unfollow.

Tapi ya, setuju lagi dengan Kartika nih kalau Unfollow itu bukan solusi.

Trus gimana dong kalau si temen itu sering kasih info tentang perkuliahan yang bermanfaat banget?

Yah sayangnya percuma sih kalo tweet info itu ketimbun RTan dia.

Gimana dong, si temen itu aslinya baik dan asik banget. Malah, dia itu temen akrab di lingkungan sekolah/kuliah/kerja dan lumayan sering ngasih tweet menghibur. Masa unfollow?

Tapi saya ngerasa keganggu tiap liat tweet abusive dia di TL, sampe pusing dan parno sendiri lihat TL.

Makanya, mau nggak mau ya speak up. Seperti yang saya lakukan sekarang ini, saya mau ngomong sejujurnya kalau saya ngerasa nggak nyaman dengan kebiasaan kamu. Dan saya yakin, follower kamu (walau belum tentu akan merasakan hal yang sama) pasti juga mengalami hal yang sama (TLnya penuh obrolanmu)

Gimana dong, kalau aku unfollow trus dia marah, trus kita jadi renggang, trus kita jadi nggak temenan lagi?

Ya makanya itu harus ada kesamaan persepsi. Baik kamu maupun aku harus sama-sama menjaga TL twitter supaya bersih dan nyaman dihuni.

Gimana caranya?

Be a smart twitter user!

So please, please banget. Gunakanlah tombol Reply biasa, seperti yang selama ini sudah di sediakan dan dimaksudkan untuk digunakan dengan benar oleh twitter. Tapi jangan karena aku ngomong gini kamunya pake tombol Reply itu khusus buat interaksi dengan saya doang. Itu sih sama aja bohong. Praktekkan ke semuanya juga ya~

Namanya juga twitter media 140 karakter doang, ya usahakanlah ngetweet sesuai kadarnya ya~

Peace~

Saya nggak bermaksud sok paling bener dan menggurui lho. Saya hanya bicara karena saya nggak nyaman, apalagi ini yang namanya kenyamanan bertetangga dan kenyamanan publik. Kalau pun ada yang nggak nyaman dengan kelakuan saya, boleh-boleh aja gantian tegur saya, silakan aja saya terbuka. Insyaallah, saya akan berubah semampu saya.

Kalau pun mau ekstrim, yo nggak apa-apa unfollow saya, no hard feeling. Toh, di biodata twitter juga saya tulis tagline: Follow di twitter itu satu arah. Follow balik itu bukan suatu kewajiban.

Jadi jangan marah dan jangan tersinggung ya, I still wanna be your follower & fellow friend. Yuk mari kita saling menghormati di mulai dari ranah timeline masing-masing.

Salam sayang,

@okeyzz