Cogitans

Meninggalkan AirAsia Indonesia

Menarik sekali membaca kisah perjalanan seseorang yang bekerja dengan passionnya. Akhir-akhir ini saya selalu kecantol sama tema ini. Entah itu ketika saya sedang berada di toko buku, lalu mengambil sebuah buku random yang rupanya bertema passion, atau seperti sekarang, saat browsing, eh, malah mampir ke tulisan Om Felix (iye, emang sok akrab manggilnya). Yah, topik ini salah satu from among other things sih, but for now I want to talk about Om Felix.

Om Felix salah satu dari sekian banyak orang yang berani jujur dengan dirinya sendiri. Dan salah satu dari segelintir orang yang berani mengejar mimpinya. Habis bensin, katanya. Setelah kehilangan motivasi untuk pekerjaan ini (which he did extremely great, btw), ia pun menggapai obsesi baru.

Bagi sebagian orang, untuk bermimpi saja sudah merupakan kemewahan tersendiri. Saya pernah bertanya kepada seorang anak SD di Labuhan, Lombok Timur, apa mimpi mereka? Mereka tidak (dan kebingungan) menjawabnya. Bayangkan, untuk sekedar menjawab dengan jawaban standar seperti, “Saya ingin jadi dokter.” “Pilot” dan “Guru” saja tidak. Mereka bahkan tidak tahu apakah akan lanjut ke SMA dan sebagian malah tidak repot-repot ingin lanjut ke jenjang SMP. Sebuah potret nyata ketidakmerataan pendidikan dan kesejahteraan di Indonesia.

Saya pernah menanyakan kepada kurang lebih 100 ask.fm user yang saya ikuti  “Do you think to dream is the ultimate dare?”

Kebanyakan dari mereka menjawab, bermimpi itu mudah, mengejar mimpi itu lah tantangan sesungguhnya. It’s true. Bahkan saya sendiri, malah lebih parah. Saya belum tahu apa passion saya. Yang ada hanya rasa gelisah. Haha. But I believe, one day I’ll find it. It’s a process and it takes time. Might as well enjoy it. Om Felix aja belum berhenti berproses, kok. Ya, nggak Om? (sok akrab lagi, biarin).

Jadi, apakah kalian sudah berani bermimpi? Apakah sudah siap dengan segala konsekuensinya? Kalau jawabannya, iya. Then, go follow your dream. Mumpung masih muda, you have nothing to lose. Live your life.

Felix Dass | felix@felixdass.com

08

Perjalanan panjang nyaris lima tahun ini menemui akhir. Banyak kenangan dalam kepala minta disebutkan. Pada akhirnya cerita berjalan ke depan, yang ada di belakang tidak bisa diganti.

Saya meninggalkan pekerjaan saya di AirAsia Indonesia. Ya, kamu tidak salah baca; saya mengundurkan diri dari sebuah rumah yang begitu dicintai.

Menulis tulisan ini tidaklah mudah. Saya bahkan harus membuat outline untuk memastikan bahwa seluruh kisah besar di dalam perjalanan empat tahun sebelas bulan ini terekam dengan baik.

Sepanjang karir profesional yang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun, AirAsia Indonesia adalah rumah yang paling lama saya tinggali. Kisah-kisah di dalamnya berlari kencang dan menembus banyak batasan akal sehat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Mari kita mundur ke tahun 2010, bulan Mei, tanggal 13.

Saya masih ingat dengan jelas momen-momen ketika mata saya menerawang ke angkasa lepas di pagi hari yang datang terlalu awal itu. Saya terbang dari Kota Lombok, pulang menuju Jakarta. Jika biasanya…

View original post 4,114 more words

Advertisements
Cogitans

Alter ego

An alter ego (Latin, “the other I”) is a second self, which is believed to be distinct from a person’s normal or original personality. The term was coined in the early nineteenth century when dissociative identity disorder was first described by psychologists.[1] A person who has an alter ego is said to lead a double life.

Wikipedia

Alter ego, kamu punya? Everybody got one, I guess. Dalam skala yang berbeda, ya. Porsi kecil lah, semua orang pasti punya.

Apalagi sekarang zamannya online. Semua orang (oke, mayoritas) punya akun di dunia maya. Minimal email deh. Tapi mengingat makin murahnya biaya internet, hampir semua punya akun sosial media (Facebook, Twitter, dll). Entah sadar atau enggak, akun socmed itu jadi ajang pencitraan. Mulai dari apa yang tiap hari kamu lakukan: kamu lagi makan dimana, foto sama siapa, lagi kuliah, lagi di kantor, dsb. Kalau makan, kadang makanannya di foto, lagi makan es krim Häagen-Dazs buat pamer nunjukkin kalau kamu keren. Kalau lagi foto, kamu nunjukkin lagi akrab sama orang itu, padahal mungkin nggak deket-deket banget, cuma buat pencitraan aja apalagi kalau yang di foto bareng termasuk orang beken jadi biar disangka ikut beken juga.

Selain itu, yang namanya status. Medianya sering jadi tempat curhat. Apalagi kalau galau. Padahal di dunia nyata keliatan normal-normal aja, eh begitu di lihat statusnya penuh dengan kegalauan, kayak beban dunia semua runtuh di pundaknya. Trus, kadang pasang kata-kata mutiara yang cuma modal copy/paste doang. Parahnya lagi kalau uda pasang status sok bijak trus belagu, ngerasa dirinya paling bener sedunia karena bisa menggurui orang lain. Beuuh..

Don’t worry, you’re not alone, I did it too before, a lot.

Kita punya hak buat berekspresi. Apalagi di dunia maya, fenomena menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh sudah nggak asing ya. Karena di dunia maya ini kita bisa bikin akun pseudonym. Tahu kan, macam @poconggg dulu, sebelum identitas aslinya ketahuan. Hal-hal yang nggak bisa kita ungkapkan di dunia nyata, bocor semua di dunia maya. Keluhanmu, opinimu, yang aslinya diem jadi cerewet, and sometimes your darkest secret. Semua tumpah ruah di socmed. There, kamu tunjukkin ke dunia sisi dirimu yang malu atau sengaja atau mungkin nggak bisa kamu tunjukkan di dunia nyata.

That’s, I think, your alter ego.