Cogitans · Relationship

We accept the love we think we deserve

Hi Kak Oky, thanks for advice. Ak kadang nyamper dia buat lunch bareng gt tp emang jarang bisa ber2 krn temennya pasti gabung. Sama circle dia sih kadang aja cemburu, krn emg sering hangout sm temen kantor tp i still can help it 🙂 – anon yg pacarnya lawyer

Hi anon yg pacarnya lawyer,

Aku juga sering bgt kencan dikintilin temen-temen dan kliennya. I know it sucks karena sebenernya kamu pengennya quality time berdua aja, gitu kan? But he’s just what he is.

Aku sendiri tipe yg ga suka direcokin kalau lagi kerja atau beraktivitas. So, I never poking him at office hour. Malah bojoku yg sering tlp di siang hari nanyain lagi apa, sudah makan blm, dll. Padahal aku ga kerja, aku di rumah ajah ga yg sibuk gmn2. Kebalik ya? But, if he really cares about you, he’ll make time and will show you semaksimal yg ia bisa kok. And that’s enough. Hargai dia, mampunya dia ya cuma itu (for now).

Coba deh tell him what you want. Bilang aja pengen quality time berduaan sama dia pas weekend. Suggest a gateaway date, going somewhere far, dinner, or just go to cinema. Just the two of you. I’m sure he’ll try to fit you in in his busy schedule.

Tapiii kalau kamu pengennya cowok yg bisa diajak kencan kemana2 berdua tiap weekend secara terjadwal, atau ngapelin after office hour, yaaa cari cowok lain aja yg punya bny waktu or at least jam kerjanya jelas. Mumpung masih pacaran ini, kan masih bisa ganti sesuka hati, ya kan.

Kalau kamu ga cocok sama prioritas hidupnya dan jam kerjanya, putus. Ga suka sama circlenya, putus. Ga suka karena dia ga ngasih perhatian seperti yg kamu inginkan, putus. Cari yg lain, yg cocok dg semua yg kamu inginkan dari pacar, atau at least yg mau berubah sesuai keinginanmu deh. Jangan nyusahin diri sendiri. Don’t waste it for the wrong kind of man, the kind you can’t accept for who he really is.

 

Someone asked me this on my ask.fm page. She is recently in relationship with a lawyer for 5 month now. And she was lonely because her new boyfriend is so busy with work all the time. She is dying to have quality time just two of them. Tapi dia nggak enak ngambil jatah waktu cowoknya dengan keluarga saat weekend. Kalau weekdays, mereka pasti lunch dikintilin sama temen-temen kerja cowoknya. I sense a clingy person here, but actually there is nothing wrong with that. People have different needs. I think she just needs a lot of together-lovey-dovey-boyfriend more than I do. I realized I’m not that clingy even my husband had protested about it a couple of time.

Tapi menurut saya, dalam suatu hubungan yang dewasa apalagi buat yang nyari pasangan serius, kita harus punya standar. Untuk bikin kriteria dan standar, yang pertama dilakukan adalah mengenal diri sendiri dulu. Kayak penanya diatas, sudah jelas dia adalah tipe orang yang butuh banyak afeksi dari pasangannya. Mungkin tipe yang terbiasa harus sering komunikasi setiap saat kayak

“Lagi apa, Yang?”

“Lagi makan nih, kamu?”

“….”

 

Dan itu dilakukan setiap saat, setiap hari kayak anak ABG. Harus banget nanyain udah makan belum, lagi apa, dsb. Sehari kita makan 3x, chattingnya pun harus 3x menanyakan udah makan atau belum. Bangun tidur juga nyapa selamat pagi, kalau malam harus ngucapin selamat bobok. Saya pribadi tidak kuat kalau disuruh begitu. Menurut saya, ini kelakuan yang ABG banget, nggak wajar (menurut kewajaran versi saya) dilakukan oleh orang dewasa. Orang dewasa punya terlalu banyak hal penting lainnya untuk dipikirkan dan dilakukan. Dan ternyata, si penanya masih muda lho, baru 21 tahun. Oke deh.. dimaklumi. Eh padahal cuma beda 2 tahun sama saya, tapi ya ternyata masih ada yang gaya pacarannya begitu, but it’s okay.

No offense, nggak ada yang salah dengan pasangan dewasa yang mempertahankan gaya berpacaran ala anak ABG diatas. Sekali lagi, setiap orang punya kebutuhan afeksi yang berbeda. Kalau dengan cara itu mereka merasa disayang, keduanya bahagia, dan berhasil melanggengkan hubungan, who am I to judge? It’s just not for me but doesn’t mean everyone will do my way.

Dan ternyata suami saya sendiri juga tipe seperti itu, eng ing eng. Hahahaha. But that’s another story.

Di sini saya mau bilang, dalam hubungan yang dewasa (dewasa as in, a very serious relationship, bukan hubungan buat senang-senang ala ABG), kita harus tahu apa yang kita mau. Yang simple aja nih contohnya..

Kita maunya pasangan yang tiap hari ngabarin via chat kayak ABG, ya jangan nyari yang cuek kayak saya.

Kita maunya pasangan yang bisa sering antar jemput, ya jangan cari orang yang sukanya hal praktis seperti minta ketemu langsung di tempat kencan kayak saya.

Kita maunya pasangan yang at least seminggu 3x dinner diluar, nemenin shopping, dan piknik tiap weekend.. ya jangan cari yang profesinya jelas-jelas tidak memungkinkan untuk sering kencan macam lawyer-nya anon diatas. Cari aja yang jam kerjanya jelas 8-5, weekend libur nggak ada meeting atau lemburan lainnya.

Huhu aku pacaran sm yg ini aja udah syukuuur bgt kak. Mungkin krn background pendidikan beda makanya agak aneh ngrasanya, dan beda umur 6th jg hehe. Makanya kan sebenernya pacar yg di idamkan sm lawyer kaya apa, kebetulan Kak Uti lawyer jg jd ak minta pendapat dr her point of view hehe

 

Note: Saya bukan Kak Uti yang dia maksud.Waktu itu saya nyamber jawaban dia dari ask.fm page-nya Uti.

Untuk apa bertahan pada hubungan yang sebenarnya tidak kita inginkan lantaran dia ganteng, misalnya. Atau mapan. Atau bermasa depan cerah. Oke, mungkin standar anon yang pacarnya lawyer itu (ganteng, mapan dan bermasa depan cerah) sudah paket komplit dimiliki si cowok. Kekurangannya cuma satu, dia sibuk banget nggak bisa diajak kencan sesering yang anon inginkan. Dan problemnya, si anon tidak (atau belum) bisa menerima kenyataan tersebut.

Pertanyaan saya, memangnya nggak ada apa paket cowok ganteng, mapan, dan bermasa depan cerah lainnya yang juga punya banyak waktu untuk dia? Saya yakin ada. Karena kemapanan bisa dicari, ketampanan bisa ditolerir, masa depan cerah bisa diusahakan. Tapi kalau kebutuhan emosional? Saya rasa tidak bisa dikompromikan. Ya bisa aja sih.. tergantung dari kitanya, mau apa tidak.

Nah ini masuk ke pertanyaan kedua: bisa nggak kita menerima profesinya yang makan waktu itu untuk seumur hidup? Kan udah jelas, profesi dia itu menjadi bekal mencari nafkah at least sampe 40 tahun ke depan. Kalau dia nyantai jarang ketemu klien dan neglect kerjaannya demi kencan, ya mana bisa dapat penghasilan.

Lebih baik cari yang lain. Kalau takut nggak dapat yang lebih baik dan ngeyel pada pilihan lama, ya simple aja. Grow up! Siap-siap terima konsekuensi kekurangan waktu bersama pasangan untuk seumur hidup dan jangan pernah mengeluhkan hal yang sama lagi.

Saya tahu nggak semua sepemikiran dengan saya. Feel free to speak up your mind. But there is no use to merepotkan dan menyiksa diri sendiri. You deserved to be happy with someone who actually can make you happy more than him. Begitu juga si lawyer, he deserved a girl who respect and appreciate his profession juga effortnya untuk menjaga hubungan yang sudah semaksimal mungkin ia berikan untuk ceweknya.

Advertisements
Relationship

Dilema long-term relationship

Waktu saya nonton vloggg #23 nya Arief Tipang yg berjudul QnA Part 1 tentang Relationship ada followers yg nanya:

“Bang gimana kalau kita sama-sama sudah nggak merasa nyaman, tapi hubungan udah berlangsung lama?”

Arief jawab: Lo pacarannya lama karena lo beneran sayang, atau lo sayang aja gitu putus karena pacarannya udah lama.

 

I know some people who are already in a long-term relationship. Kebanyakan berakhir begitu saja setelah sekian lama, dan satu-dua sisanya beruntung naik kasta ke pelaminan. Ada juga yang ironis, setelah menikah nggak nyampe 5 tahun udah cerai. But, that’s life.

Saya sangat salut dengan mereka yang bisa mempertahankan hubungan selama itu sampai menikah dan bahkan mampu bertahan lama setelah pernikahan. They must be loves each other immensely. It must be tough, boring, through lots of ups and downs, and maybe lot’s of breaking-up and getting back together. Kayak lingkaran gitu, muter terus.

Kalau beneran sampai segitu lamanya pacaran dan ketahuan bobrok-bobroknya, apakah itu sudah jadi pilihan aman untuk menikahinya? Like, ya daripada sama orang baru lagi, mending sama yang udah lama kan udah tahu dalem-dalemnya gimana. Dan sayang aja gitu, udah terlanjur berjuang dan berinvestasi waktu selama itu masa mau putus sampai disini.

I’m genuinely asking this: Is he/she worth it?

Kalau emang benar dia worthed, kenapa nggak sejak dulu aja dinikahin? What took you so long to make that decision?

I mean, oke lah kemapanan dan mungkin restu ortu got in the way, but, seriously? What makes u think you won’t change, ever?

What if in 2 years you have a career that requiers you to focus on your job. You like it very much and don’t want anyone get in your way.

What if you met someone else? Someone more in everything than your current bf/gf. 

I bet you don’t see things the same way anymore

Then what about married couple?

Gimana mereka bisa bertahan bersama untuk seumur hidup ya? Marriage life is full of ups and downs. More than those who are just in a long-term dating relationship. Marriage life is not just about passionate loves, it’s a means to sharing responsibility for the rest of your life. It’s hard and needs a lot of works. How will they survive for.. the next 40-60 years of their life, with the same person?

Relationship

Pre-wedding jitters

avatar

19 September 2015

“Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.”

J.R.R. Tolkien

 

 

Menurut saya, menikah adalah salah satu keputusan paling besar yang pernah dialami manusia. Karena menikah sepenuhnya dapat merubah seluruh hidup yang akan menentukan masa depanmu. It’s the biggest gamble, ever. Kalau salah pilih pasangan, rusaklah bayangan masa depan yang indah-indah itu. Isinya hanyalah hati yang tersakiti dan hidup yang sengsara. Oke, lebay.

But, it’s true.

Pre-wedding jitters, kalau disini sih akrab dengan sebutan ujian pra-nikah. It happens to all soon-to-be married couple. Kalau sampai ada yang nggak merasakan hal ini, wah selamat ya, kamu pasti sedang berada di dunia imajinasi terindah ala dongeng happy ending. And I hope the best for you.

For me..  Alhamdulillah persiapan pernikahan berjalan lancar dan semulus jalan tol. But, my biggest jitter was I’m not sure if my husband-to-be were into me. We didn’t spent long enough time to be in relationship before married. Lah, boro-boro. Sejak awal suami udah langsung ngajakin kawin aja, ya habis itu langsung lamaran trus langsung nikah. Nggak ada tuh yang namanya pacaran. Total kami ketemu setelah lamaran resmi cuma 3 kali. Pertemuan ke-4 langsung di depan penghulu. Kami pacarannya setelah menikah.

Alhamdulillah semua persiapan dilancarkan. Awal-awal setelah dilamar suami, memang ada perasaan ragu. Tapi sebenarnya sejak awal saya memang sudah mantap menikah. Selama setahun sebelumnya saya memantapkan diri, meminta petunjuk sama Allah. Alhamdulillah hati ini sudah siap untuk menikah. Hanya saja, dengan calon suami yang tidak disangka dan di waktu yang tidak terduga. Dan juga diusia saya yang sangat muda pula. Who knows I’m getting married in 2015? Sungguh semua diluar ekspektasi dan rencana hidup saya, masya Allah.

Perjalanan hidup ini lucu juga ya kalau dipikir-pikir. Jodoh yang ditakdirkan Tuhan, siapa yang tahu. Makanya, saya sekarang saya selalu bilang ke teman-teman yang nggak sabar pengen segera menikah juga; kalau memang udah beneran siap menikah, inshaAllah jodoh akan datang sendiri disaat yang tepat kok. So chill, take your time.

Banyak sekali yang menanyakan bagaimana perasaan saya menjelang detik-detik akan menikah. Anehnya, saya merasa BIASA SAJA. Sumpah, saya nggak ada rasa deg-degan, takut, terharu, ataupun rasa sedih karena akan meninggalkan ortu. Padahal beberapa bulan sebelumnya, saya agak-agak kepikiran, apakah calon suami pilihan saya ini sudah tepat?

Ini semua berkat ilmu pasrah. Eh, salah. Harusnya yang betul tuh ilmu ikhlas.

Saya pasrahkan semuanya ke Tuhan sama seperti ketika saya meminta kemantapan hati setahun sebelumnya. Saya ikhlas, jika seandainya dia bukan jodoh terbaik untuk saya, bukan jodoh yang saya minta ke Tuhan selama setahun belakangan, saya yakin walau saya sudah terima lamarannya dan segala persiapan pernikahan sudah selesai, dia tidak akan mengucapkan ijab kabul dihadapan Bapak karena satu dan lain hal. Dan saya terima segala konsekuensi maupun resiko menikah diusia muda bersama dengan suami pilihan saya sendiri, apapun itu. Makanya, hati saya seketika menjadi tenang dan damai.

Sejak momen calon suami datang menghadap penghulu dan Bapak, saya bisa lihat betapa tegang wajahnya dan segera berubah lega ketika ijab kabul selesai terucap. Saya? Saya malah cengengesan dan sibuk pose untuk foto-foto. Beneran tanpa beban. Menangis terharu pun tidak. Karena rasanya di hati ini hanya ada damai dan mantap. Alhamdulillah.

Kata Bapak, yang akan selalu teringat beberapa jam sebelum akad:

“Menikah itu hal yang paling dibenci setan. Mereka tidak bisa panen dosa layaknya pasangan yang pacaran. Makanya, godaan dan ujian menikah itu sangat berat. Karena setan tidak suka dengan apa yang tadinya merupakan tindakan dosa, sekarang menjadi ladang pahala. Kalau sampai kamu merasa tenang dan mantab, tandanya hatimu sudah dijaga dan dilindungi Allah. Bersyukurlah.”