Relationship

Dilema long-term relationship

Waktu saya nonton vloggg #23 nya Arief Tipang yg berjudul QnA Part 1 tentang Relationship ada followers yg nanya:

“Bang gimana kalau kita sama-sama sudah nggak merasa nyaman, tapi hubungan udah berlangsung lama?”

Arief jawab: Lo pacarannya lama karena lo beneran sayang, atau lo sayang aja gitu putus karena pacarannya udah lama.

 

I know some people who are already in a long-term relationship. Kebanyakan berakhir begitu saja setelah sekian lama, dan satu-dua sisanya beruntung naik kasta ke pelaminan. Ada juga yang ironis, setelah menikah nggak nyampe 5 tahun udah cerai. But, that’s life.

Saya sangat salut dengan mereka yang bisa mempertahankan hubungan selama itu sampai menikah dan bahkan mampu bertahan lama setelah pernikahan. They must be loves each other immensely. It must be tough, boring, through lots of ups and downs, and maybe lot’s of breaking-up and getting back together. Kayak lingkaran gitu, muter terus.

Kalau beneran sampai segitu lamanya pacaran dan ketahuan bobrok-bobroknya, apakah itu sudah jadi pilihan aman untuk menikahinya? Like, ya daripada sama orang baru lagi, mending sama yang udah lama kan udah tahu dalem-dalemnya gimana. Dan sayang aja gitu, udah terlanjur berjuang dan berinvestasi waktu selama itu masa mau putus sampai disini.

I’m genuinely asking this: Is he/she worth it?

Kalau emang benar dia worthed, kenapa nggak sejak dulu aja dinikahin? What took you so long to make that decision?

I mean, oke lah kemapanan dan mungkin restu ortu got in the way, but, seriously? What makes u think you won’t change, ever?

What if in 2 years you have a career that requiers you to focus on your job. You like it very much and don’t want anyone get in your way.

What if you met someone else? Someone more in everything than your current bf/gf. 

I bet you don’t see things the same way anymore

Then what about married couple?

Gimana mereka bisa bertahan bersama untuk seumur hidup ya? Marriage life is full of ups and downs. More than those who are just in a long-term dating relationship. Marriage life is not just about passionate loves, it’s a means to sharing responsibility for the rest of your life. It’s hard and needs a lot of works. How will they survive for.. the next 40-60 years of their life, with the same person?

Cogitans · Daily · Relationship

Kencan menyenangkan versi kamu

Kalau versi saya..

Saya gampang bosan orangnya. So, ngedate yang menyenangkan itu justru yang simple aja, asalkan kami bisa melakukan aktivitas baru yang belum pernah dilakukan bareng-bareng.

Kayak pergi ke museum (iya museum!), nonton teater, main ke pasar malam, ngopi di lesehan pinggir jalan, naik sepeda berdua, masak bareng, makan jagung bakar, nyoba bungee jumping, dll. Sambil ngobrolin apa aja, soal hal-hal ga penting, ngetawain kejadian apes, ngetawain satu sama lain, dan sesekali curhat serius.

Setelah semua udah pernah dilakukan, ngulangin lagi kencan-kencan dengan aktivitas yg paling kami suka.

..and then ended up in bed, being intimate. Talks about our deepest insecurity, our fears, our future, everything.. or just enjoying the silence until we drifted to sleep. It’s my favorite part.

Kalau suami, kencan yang menyenangkan versi dia itu kalau istrinya bisa diajak jalan-jalan keliling kota di malam hari ketika jalanan sudah sepi dan bebas dari macet. Sambil ngobrol, atau cuma diem aja menikmati malam mendengarkan musik. Itu penghilang stres dan kencan berkualitas versi dia.

Beda banget ya? Haha.

Kadang kalau saya lagi pengen adventurous sedangkan dianya cuma lagi pengen muter-muter karena capek, saya dengan senang hati mengizinkan dia keliling sendiri supaya saya bisa senang-senang sendiri. Oke, ini terdengar agak jahat, tapi ini jarang saya lakukan dan hanya saya lakukan kalau beneran sudah bosan sampai diubun-ubun. Seringnya sih saya yang mengalah karena, ya nggak asyik aja gitu sekalinya bisa berduaan kok malah senang-senang sendiri.

Saya jadi tahu kalau suami sayang saya ketika saya rewel karena bosan setengah mati dan minta diturunkan saja supaya saya bisa senang-senang sendiri. Saat itu, kami sedang long distance marriage (LDM) dan nggak ketemu selama sebulan. Akhirnya saya ada waktu selama dua minggu untuk spending time dengan suami. Karena suami sibuk sekali, saya selalu ngikut maunya suami kemana dan ngapain ketika kami punya waktu berduaan.

Nah, di hari terakhir sebelum kami LDM lagi, rasa bosan saya pun memuncak. Mata suami sudah merah karena mengantuk dan capek. Kami baru saja touring ke lembang dan cimahi seharian dengan kondisi jalanan yang macet. Saya tahu dia kurang istirahat karena banyak kerjaan tapi tetap memaksakan diri untuk spending time with me, versi dia. Dan saya sudah bersabar karena menemani dia keliling dan kencan, versi dia. Jadi, saya minta diturunkan saja di Trans Studio Mall just because I feel like to ride a roller coaster at that moment. And I don’t mind to play alone. Mengizinkan dia pulang untuk tidur. Saya bahkan tidak keberatan pulang naik taksi sendirian. I felt like I was gonna explode, I felt bored to death.

But he insisted to accompanied me. Sayangnya arena trans studio sudah mau tutup karena waktu sudah menjelang sore. Saya rasanya pengen window shopping atau nonton dan lebih nyaman melakukan itu sendirian. Tapi karena suami ngintilin, literally ngintilin dibelakang walau saya udah lari-lari kecil ninggalin dia sekitar 3 meter dibelakang (rasanya aneh ke mall dikintilin suami, nggak bebas belanja hahaha), he still tried to keeping up with me walaupun sudah saya suruh ngopi-ngopi cantik aja dari pada capek ngikutin istrinya yang betah ngemall berjam-jam.

There.. right there I realised. Kalau dia beneran sayang sama kamu, dia akan lakukan apapun semaksimal yang ia mampu untuk bikin kamu senang. Walau cuma sebatas ngintilin istrinya yang bosen padahal dia sudah capek banget, suaranya serak, dan matanya merah. And I really appreciate his effort. Hal-hal sederhana itu sudah bisa bikin saya bahagia. That’s our version of a date.

Kalau versi kamu, kencan yang menyenangkan itu seperti apa?

Relationship

Pre-wedding jitters

avatar

19 September 2015

“Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.”

J.R.R. Tolkien

 

 

Menurut saya, menikah adalah salah satu keputusan paling besar yang pernah dialami manusia. Karena menikah sepenuhnya dapat merubah seluruh hidup yang akan menentukan masa depanmu. It’s the biggest gamble, ever. Kalau salah pilih pasangan, rusaklah bayangan masa depan yang indah-indah itu. Isinya hanyalah hati yang tersakiti dan hidup yang sengsara. Oke, lebay.

But, it’s true.

Pre-wedding jitters, kalau disini sih akrab dengan sebutan ujian pra-nikah. It happens to all soon-to-be married couple. Kalau sampai ada yang nggak merasakan hal ini, wah selamat ya, kamu pasti sedang berada di dunia imajinasi terindah ala dongeng happy ending. And I hope the best for you.

For me..  Alhamdulillah persiapan pernikahan berjalan lancar dan semulus jalan tol. But, my biggest jitter was I’m not sure if my husband-to-be were into me. We didn’t spent long enough time to be in relationship before married. Lah, boro-boro. Sejak awal suami udah langsung ngajakin kawin aja, ya habis itu langsung lamaran trus langsung nikah. Nggak ada tuh yang namanya pacaran. Total kami ketemu setelah lamaran resmi cuma 3 kali. Pertemuan ke-4 langsung di depan penghulu. Kami pacarannya setelah menikah.

Alhamdulillah semua persiapan dilancarkan. Awal-awal setelah dilamar suami, memang ada perasaan ragu. Tapi sebenarnya sejak awal saya memang sudah mantap menikah. Selama setahun sebelumnya saya memantapkan diri, meminta petunjuk sama Allah. Alhamdulillah hati ini sudah siap untuk menikah. Hanya saja, dengan calon suami yang tidak disangka dan di waktu yang tidak terduga. Dan juga diusia saya yang sangat muda pula. Who knows I’m getting married in 2015? Sungguh semua diluar ekspektasi dan rencana hidup saya, masya Allah.

Perjalanan hidup ini lucu juga ya kalau dipikir-pikir. Jodoh yang ditakdirkan Tuhan, siapa yang tahu. Makanya, saya sekarang saya selalu bilang ke teman-teman yang nggak sabar pengen segera menikah juga; kalau memang udah beneran siap menikah, inshaAllah jodoh akan datang sendiri disaat yang tepat kok. So chill, take your time.

Banyak sekali yang menanyakan bagaimana perasaan saya menjelang detik-detik akan menikah. Anehnya, saya merasa BIASA SAJA. Sumpah, saya nggak ada rasa deg-degan, takut, terharu, ataupun rasa sedih karena akan meninggalkan ortu. Padahal beberapa bulan sebelumnya, saya agak-agak kepikiran, apakah calon suami pilihan saya ini sudah tepat?

Ini semua berkat ilmu pasrah. Eh, salah. Harusnya yang betul tuh ilmu ikhlas.

Saya pasrahkan semuanya ke Tuhan sama seperti ketika saya meminta kemantapan hati setahun sebelumnya. Saya ikhlas, jika seandainya dia bukan jodoh terbaik untuk saya, bukan jodoh yang saya minta ke Tuhan selama setahun belakangan, saya yakin walau saya sudah terima lamarannya dan segala persiapan pernikahan sudah selesai, dia tidak akan mengucapkan ijab kabul dihadapan Bapak karena satu dan lain hal. Dan saya terima segala konsekuensi maupun resiko menikah diusia muda bersama dengan suami pilihan saya sendiri, apapun itu. Makanya, hati saya seketika menjadi tenang dan damai.

Sejak momen calon suami datang menghadap penghulu dan Bapak, saya bisa lihat betapa tegang wajahnya dan segera berubah lega ketika ijab kabul selesai terucap. Saya? Saya malah cengengesan dan sibuk pose untuk foto-foto. Beneran tanpa beban. Menangis terharu pun tidak. Karena rasanya di hati ini hanya ada damai dan mantap. Alhamdulillah.

Kata Bapak, yang akan selalu teringat beberapa jam sebelum akad:

“Menikah itu hal yang paling dibenci setan. Mereka tidak bisa panen dosa layaknya pasangan yang pacaran. Makanya, godaan dan ujian menikah itu sangat berat. Karena setan tidak suka dengan apa yang tadinya merupakan tindakan dosa, sekarang menjadi ladang pahala. Kalau sampai kamu merasa tenang dan mantab, tandanya hatimu sudah dijaga dan dilindungi Allah. Bersyukurlah.”