Cogitans · Daily

Yang Dicari Ya Pahalanya

Saya emang berniat untuk totalitas saat sudah di lokasi KKN kali ini untuk menebus ketidakaktifan saya selama masa penyusunan awal proposal, perijinan, dsb. Then, I’m really go for it.

Salah satu program kerja yang saya paling saya niatin adalah Program Pengentasan Buta Aksara di Dusun Prerenan, Labuhan Lombok. Untuk program yang satu ini, saya nggak nyari jam kerjanya, tapi nyari pahalanya.

Walau cuma ilmu ‘membaca’ dan ‘menulis’ tapi kepuasan yang datang saat bisa mengajari Ibu-Ibu cara membaca dan menulis yang paling basic itu sungguh tak terkira. Apalagi kalau Ibu-Ibunya pada semangat. Subhanallah sekali… bikin bahagia. Begini toh rasanya jadi guru yang bisa menebar ilmu~ luar biasa.

 Jadi, biarpun lagi puasa di pulau yang super panas ini, saya tetep semangat pergi jauh-jauh ke Desa Prerenan di siang hari demi mengentaskan Buta Aksara. Honestly, I’m not much a lecturer kind of person. Saya orangnya nggak sabaran dan paling nggak bisa ngajarin orang lain. Tapi untuk yang satu ini, saya berusaha sebaik mungkin pelan-pelan sabar mengajar.

Meskipun ‘kebetulan yang bukan kebetulan’ itu belum datang dalam bentuk real, semoga kelak hadir dalam bentuk lainnya yang lebih bermanfaat.. Amin.

Advertisements
Cogitans

Semangat Tapi Malas

Salah satu program utama saya disini adalah Mengajar SD. Emang program mainstream sih, tapi yah begitulah kebutuhan yang ada disini. Selama mengajar, saya menemukan fakta mengenai dunia pendidikan yang sebenarnya sudah jadi rahasia umum. Soal ketidakmerataan SDM.

Sekolah di luar pulau Jawa memang amat sangat jauh tertinggal baik dalam metode pembelajaran maupun pencapaian standar sesuai kurikulum pendidikannya. Bukannya mereka anak-anak bodoh, tapi lingkungan pendidikan yang kurang kondusif yang membuat mereka tertinggal.

Contohnya, dalam pelajaran bahasa Inggris, mereka masih belum paham mengenai alfabet, angka dan vocab. Padahal Labuhan ini sudah diresmikan jadi daerah wisata lho. Masa iya, hal sederhana aja mereka masih belum mampu, padahal saya ngajar mulai dari kelas 4, 5, dan 6. Akibatnya, pas saya mau kasih materi yang lebih advance jadi susah. Ya udah sih, tiga kelas itu materinya sama semua~ materi dasar: Pengenalan Alfabet dan Angka dalam Bahasa Inggris.

Selain itu anak-anaknya juga lebih susah di atur. Nakal-nakal tapi sebenarnya anak baik. Yah, yang namanya anak SD dimana aja sama aja kok. Yang membedakan, disini salah satu sekolah yang saya datangi saya menemukan fakta lain. Di SD yang ini, murid-muridnya semangat belajar, tapi gurunya yang males, saya rasa sih mereka terlalu santai dan lebih suka gabut. Nggak kayak di Jawa, gurunya pada semangat mengajar, tapi muridnya yang kadang masih sering males, huehehe.
Anyway, nggak semua sekolah kayak gitu kok, soalnya di SD sebelah guru-guru dan murid-muridnya pada semangat mengajar dan belajar. Jadi, kembali lagi ke masing-masing individunya aja sih. Apakah mereka punya integritas dan kedisiplinan untuk maju atau enggak.

Daily

Anjing Cemen

Salah satu problem yang kami temukan di Dusun Kampung Baru, Labuhan Lombok adalah soal anjing liar yang merajalela. Disini Anjing udah kayak kucing liar ajah. Berkeliaran di jalan, nggak terhitung jumlahnya sambil bawa-bawa rabies. Jadi anjingnya ini pada penyakitan gitu. Belum lagi ‘ranjau’ yang bertebaran di sepanjang jalan yg bikin saya was-was tiap menapakkan kaki.

Nah, saya ituh paling takut sama anjing. Sejak kecil nggak pernah enggak dikejar sama anjing. Makanya saya agak syok dan ketar-ketir waktu baru pertama kali sampai disini. Tapi rupanya, percaya nggak percaya anjing liar disini pada cemeeen, meeen. Sama kucing liar di Jawa aja kalah.. baru di gertak dikit ini anjing uda lari ketakutan, ealaaa..

Cuma di Labuhan saya berani bentakin anjing, kalau di Jawa sih yang ada malah saya yang di kejar balik. Huhu~

Oh ya, anjing liar disini ternyata nge-geng loh. Mereka kayak punya perkumpulan sendiri. Tiap malam gabung sama gengnya trus menguasai jalanan sambil bergerombol, cari mangsa. Kadang rame menggonggong sendiri, soalnya lagi ngeroyok sesama anjing. Udah kayak preman ajah pokoknya.

Dan fakta ngeselin lainnya, disini para anjing liar ini sering banget ngacak-ngacak sampah rumah kami. Bete deh kalau liat sampah diberantakin, kayak kucing aja sih -.-a

Fakta super ngeselin lagi adalah Anjing = Maling. Mereka suka banget nyolong sepatu anak-anak rumah kami. Mana yang diambil cuma sebelah doang, nanggung amat. Sejauh ini sudah ada 4 korban sepatu di maling anjing. Korban kelima, Pak Kormasit sempet kehilangan juga tapi langsung ketemu gitu deh, jadi nggak bisa dianggap korban lagi. Trus, sandal jepit saya sepasang sempet hilang sehari, tapi besoknya dibalikin sama anak tetangga, katanya sih di bawa anjing. Bener-bener An***g deh pokoknya.

Btw, kami jadi terbiasa mengucapkan kata ‘Anjing’ tanpa ragu lagi sejak sampai disini. Anjing bukanlah suatu kata tabu.