Relationship

Pre-wedding jitters

avatar

19 September 2015

“Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.”

J.R.R. Tolkien

 

 

Menurut saya, menikah adalah salah satu keputusan paling besar yang pernah dialami manusia. Karena menikah sepenuhnya dapat merubah seluruh hidup yang akan menentukan masa depanmu. It’s the biggest gamble, ever. Kalau salah pilih pasangan, rusaklah bayangan masa depan yang indah-indah itu. Isinya hanyalah hati yang tersakiti dan hidup yang sengsara. Oke, lebay.

But, it’s true.

Pre-wedding jitters, kalau disini sih akrab dengan sebutan ujian pra-nikah. It happens to all soon-to-be married couple. Kalau sampai ada yang nggak merasakan hal ini, wah selamat ya, kamu pasti sedang berada di dunia imajinasi terindah ala dongeng happy ending. And I hope the best for you.

For me..  Alhamdulillah persiapan pernikahan berjalan lancar dan semulus jalan tol. But, my biggest jitter was I’m not sure if my husband-to-be were into me. We didn’t spent long enough time to be in relationship before married. Lah, boro-boro. Sejak awal suami udah langsung ngajakin kawin aja, ya habis itu langsung lamaran trus langsung nikah. Nggak ada tuh yang namanya pacaran. Total kami ketemu setelah lamaran resmi cuma 3 kali. Pertemuan ke-4 langsung di depan penghulu. Kami pacarannya setelah menikah.

Alhamdulillah semua persiapan dilancarkan. Awal-awal setelah dilamar suami, memang ada perasaan ragu. Tapi sebenarnya sejak awal saya memang sudah mantap menikah. Selama setahun sebelumnya saya memantapkan diri, meminta petunjuk sama Allah. Alhamdulillah hati ini sudah siap untuk menikah. Hanya saja, dengan calon suami yang tidak disangka dan di waktu yang tidak terduga. Dan juga diusia saya yang sangat muda pula. Who knows I’m getting married in 2015? Sungguh semua diluar ekspektasi dan rencana hidup saya, masya Allah.

Perjalanan hidup ini lucu juga ya kalau dipikir-pikir. Jodoh yang ditakdirkan Tuhan, siapa yang tahu. Makanya, saya sekarang saya selalu bilang ke teman-teman yang nggak sabar pengen segera menikah juga; kalau memang udah beneran siap menikah, inshaAllah jodoh akan datang sendiri disaat yang tepat kok. So chill, take your time.

Banyak sekali yang menanyakan bagaimana perasaan saya menjelang detik-detik akan menikah. Anehnya, saya merasa BIASA SAJA. Sumpah, saya nggak ada rasa deg-degan, takut, terharu, ataupun rasa sedih karena akan meninggalkan ortu. Padahal beberapa bulan sebelumnya, saya agak-agak kepikiran, apakah calon suami pilihan saya ini sudah tepat?

Ini semua berkat ilmu pasrah. Eh, salah. Harusnya yang betul tuh ilmu ikhlas.

Saya pasrahkan semuanya ke Tuhan sama seperti ketika saya meminta kemantapan hati setahun sebelumnya. Saya ikhlas, jika seandainya dia bukan jodoh terbaik untuk saya, bukan jodoh yang saya minta ke Tuhan selama setahun belakangan, saya yakin walau saya sudah terima lamarannya dan segala persiapan pernikahan sudah selesai, dia tidak akan mengucapkan ijab kabul dihadapan Bapak karena satu dan lain hal. Dan saya terima segala konsekuensi maupun resiko menikah diusia muda bersama dengan suami pilihan saya sendiri, apapun itu. Makanya, hati saya seketika menjadi tenang dan damai.

Sejak momen calon suami datang menghadap penghulu dan Bapak, saya bisa lihat betapa tegang wajahnya dan segera berubah lega ketika ijab kabul selesai terucap. Saya? Saya malah cengengesan dan sibuk pose untuk foto-foto. Beneran tanpa beban. Menangis terharu pun tidak. Karena rasanya di hati ini hanya ada damai dan mantap. Alhamdulillah.

Kata Bapak, yang akan selalu teringat beberapa jam sebelum akad:

“Menikah itu hal yang paling dibenci setan. Mereka tidak bisa panen dosa layaknya pasangan yang pacaran. Makanya, godaan dan ujian menikah itu sangat berat. Karena setan tidak suka dengan apa yang tadinya merupakan tindakan dosa, sekarang menjadi ladang pahala. Kalau sampai kamu merasa tenang dan mantab, tandanya hatimu sudah dijaga dan dilindungi Allah. Bersyukurlah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s