Cogitans

Betapa Dangkal, Betapa Nistanya Saya

Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? – Ar Rahman (55:14)

Saya teringat drama jepang One Litre of Tears yang benar-benar bikin banjir air mata di setiap episodenya. Masih ingat kan 1LoT yang diperankan Erika Sawajiri dan sempat booming banget beberapa tahun lalu. Saking boomingnya sampe dijiplak jadi sinetron Buku Harian Nayla. Ceritanya tentang gadis SMA yang cemerlang dan punya masa depan cerah tapi semua itu musnah karena ia menderita penyakit degenerative sipnocerebellar. Perlahan ia kehilangan seluruh kemampuan motoriknya sehingga lumpuh termasuk organ dalamnya. Semuanya. Kecuali otaknya yang masih berfungsi dengan baik.

Nah, saya nggak nyangka bakal beneran nemu orang yang terserang penyakit itu, I mean in real life and in my life spectrum. Kemarin saya mendengar cerita dari seorang teman bahwa temannya menderita degeneratif skoliosis. Saya nggak tahu itu penyakit yang sama atau hanya serupa, tapi kurang lebih sama deh, soalnya kan sama-sama degeneratif.

Kata temen saya itu lagi, penyakit ini sepertinya menyerang orang-orang yang gila kerja. Nggak tahu deh dari mana dia dapat teori itu. Dia yakin begitu soalnya temennya yang terserang ini gila kerja, dalam artian temannya ini seseorang yang benar-benar suka dan passionate dalam bekerja. Mungkin karena itu capeknya raga akibat bekerja tak dirasa. Hm, padahal setahu saya penyakit ini bisa karena keturunan dan penyebab tak jelas lainnya. Ah, sotoy memang teman saya itu.

Tapi bukan itu poin yang ingin saya bicarakan. Yang ingin saya bicarakan disini adalah betapa Allah itu Maha Besar.

Untuk seseorang yang sangat aktif dan produktif. Apalagi yang mencintai pekerjaannya karena pekerjaannya itu sesuatu yang keren dan menyenangkan, bahkan penghasilannya pun besar sekali. Untuk seseorang yang sangat passionate seperti itu, Tuhan mengambil nikmatnya dalam sekejap. Sehingga membuatnya lumpuh dan kehilangan hampir semuanya. Sama seperti Aya dalam 1LoT, cantik, populer, pintar, atletis, tapi ketika ia terserang penyakit ini, musnah sudah segala impian dan masa depannya. Betapa sedihnya dia. Saya yang mendengar musibah itu saja jadi ikut sedih.

Kalau melihat diri saya, alangkah beruntungnya saya. Masih bisa makan, tidur, dan belajar. Masih punya orang tua yang utuh dan penyayang. I have a better life than some other people. Jangankan hal-hal semacam materi, katakanlah, hal paling sederhana pun saya masih diberi, you know, saya masih bisa melihat, bergerak, kaki-tangan utuh, punya hidung, bisa mendengar, melihat walau mata minus, insyaallah kalau pun saya mau berlari, lonjak-lonjak, renang, kelejotan pun saya masih bisa.

Alhamdulillah..

Lalu saya merenung.. astgahfirullah, berarti selama ini saya sombong. Saya kurang bersyukur. Padahal Tuhan sudah sayang banget sama saya. Masa saya yang masih bisa gerak mau solat aja masih mepet-mepet waktu solat selanjutnya. Kenapa saya yang masih bisa makan, mau makan aja kadang males banget. Kenapa saya yang diberi keistimewaan untuk kuliah, mau masuk kelas aja masih bolos-bolos? Astaghfirullah, saya malu banget.

Hari ini adek saya ulang tahun. Wah nggak nyambung ya? Tapi memang faktanya adek saya ulang tahun. Kebetulan tanggalnya sama dengan teman kuliah saya sendiri. Saya jadi ingat nanti harus sms ngucapin selamat ulang tahun juga ke teman saya itu. Kebetulan teman saya ini juga terkena musibah. Bukan penyakit degeneratif, tapi penyakit yang sama-sama melumpuhkan aktivitasnya. Lupus. Iya, temen saya ini terserang lupus sejak dua tahun lalu.

Padahal dia seseorang yang pintar, rajin masuk kuliah, penuh vitalitas, sehat wal afiat, kemana-mana aja dia naik sepeda. Nggak seperti saya yang bisa dibilang lebih pemalas dan kurang motivasi. Tapi tiba-tiba ia jatuh sakit dan opname berbulan-bulan. Kuliahnya keteteran, bahkan ia mengulang beberapa mata kuliah paketan. Saya yang tadinya selalu mengira ia akan lulus dengan cemerlang, jadi ikut sedih mengetahui ia harus cuti semester dan mengulang kelas bersama adek tingkat.

Beberapa waktu yang lalu saya dengar ia kembali masuk rumah sakit untuk sekian bulan. Alhamdulillah, sekarang sudah masuk lagi. Ia terselamatkan karena ada pemutihan absensi, jadi seberapa banyak pun dia bolos, tidak masalah. Ia masih bisa mengikuti ujian akhir semester. Saya senang banget waktu melihatnya di kampus beberapa hari yang lalu.

Sekali lagi, saya merenung. Astaghfirullah, nikmat Tuhan mana yang berkali-kali saya dustakan? Teman saya yang punya masa depan cerah terpaksa harus cuti sekian lama dan langganan masuk rumah sakit. Studinya tertunda. Hidupnya sudah tak sama lagi. Nah saya? Capek sedikit malah ngeluh, sering malas masuk kuliah, lapar sedikit menjelang buka puasa sudah kelejotan, mau ngerjain skripsi nunda-nunda, belajar buat ujian pake sks.

Astaghfirullah, astaghfirullah… Nggak terbayang kalau nikmat saya diambil. Astaghfirullah ya Allah..

Untuk orang yang sinis dan nyiyir mungkin bakal bilang kalau semua orang dapat ujian yang sama beratnya. Hidup itu sama susahnya. Semacam hidupmu ya urusanmu sendiri. Buat apa kita ngabisin waktu buat ngurusin atau kasihan sama hidupnya orang lain kalau hidup kita sendiri nggak bener. Yap, di satu sisi, that’s true. Tapi disisi lain, saya rasa kita punya kapasitas untuk berempati dan bersimpati terhadap kehidupan orang lain.

Kalau melihat musibah dua orang diatas itu, mau nggak mau saya jadi sadar betapa kecilnya kita dihadapan Allah. Kalau Tuhan berkehendak, nggak ada yang nggak mungkin. Tapi kenyataannya, saya masih sering sombong, banyak mengeluh, kurang bersyukur. Astaghfirullah.. tapi disisi lain, saya bersyukur karena dengan segala nikmat dari rahmat Allah, artinya saya masih disayang. Atau mungkin sekarang ini saya lagi di uji? Supaya nggak teledor dan lalai? Wallahu a’lam.

Alahmdulillah, banyak hal yang saya pelajari selama ramadhan tahun ini. Bukan hal-hal besar. Justru hal-hal kecil yang sebelumnya tidak saya sadari ternyata punya efek besar dalam kehidupan. Salah satunya cerita di atas. Ya Allah, ampunilah dosa saya selama ini baik yang disengaja maupun tidak.

Semoga aja, saya yang masih sombong ini, pemikiran saya yang masih dangkal, segala tingkah perilaku saya yang masih belum dewasa, bisa saya perbaiki menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Saya benar-benar berharap untuk nggak khilaf dan lalai, saya harap bisa selalu jadi seseorang yang instropektif dan bangkit lagi. Menjadi seseorang yang lebih baik demi kebaikan diri sendiri dan orang lain. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s