Daily

Sharing their moment

We had a field trip to Besalen Village, Agromulyo. Cangkringan, Sleman to visit a villagers representative who used to live in temporary shelter and sand miner. Since it’s an immersion class we had a six international student and also six of Indonesian student including myself. We were doing an interview with villagers representative and finally I had a session where I didn’t have to speak english. There was my moment, finally *nangis*

Haha, abisnya selama ini saya gagap gitu kan kalo ngomong di kelas, tapi lebih banyak diemnya. Secara kemampuan Bhs Inggris cuma cukup untuk daily life conversation, bukan untuk kemampuan speaking akademik setingkat universitas. I speak fine with the international student as long we’re not having an academic discussion, hehe.

Simon rupanya fasih banget ngomong Bahasa Indonesianya. Ternyata dia udah pernah tinggal 2 tahun disini. Pantesan aja pengetahuan lokalnya luas, di kelas cas cis cus tanya tentang isu-isu di Indonesia. Satu-satunya bule paling ramah dan suka bercanda, he’s very kind.

Trus ada temennya Lya dari Denmark yang datang bareng pacarnya. Waktu kita kenalan, dia bilang namaku cute (norak lagi deh) trus dia tanya apa artinya. Saya jawab nggak ada artinya, trus saya tanya balik dan dia juga jawab namanya nggak ada arti khusus sambil ketawa. Yaah, sama aja dong. Namanya Anita, btw. Namanya lokal banget ya. Saya bilang aja kalau itu nama pasaran banget disini. It’s a Spanish, she said. Heran gitu dia dan agak nggak percaya. Saya malah baru tahu kalau Anita itu nama asal Spanyol, saya pikir itu nama lokal lho secara di buku-buku Bahasa Indonesia gitu kan seringnya pakai contoh nama Anita, ya nggak sih? Haha.

Btw, yang paling lucu tuh pacarnya si Anita. Fisiknya sih timur tengah gitu walau asal Kanada, tapi emang keturunan Iran sih katanya. Saya lupa siapa namanya, tapi si Anita tadi manggil “Nas, Nas!” gitu. Namanya Anas kali ya #HEH

Nah, si “Nas, Nas” ini lucu banget dia gayanya model gipsi gituh. Trus agak pendiem, mungkin karena nggak kenal juga sama yang lain. Nah, dia ini kayaknya paling menikmati alam kampung yang masih asri banget. Sering dia berhenti di suatu tempat untuk mengamati satu hal dalam waktu lamaaaa banget. Misalnya nih, Kebo.

Jadi di rumahnya Pak Dukuh tuh ada kandang Kebo dan selama setengah jam si “Nas, Nas” ini berdiri diam di depan si Kebo. Asli, dia ngamatinnya khidmat banget kayaknya. Si Lya dan Simon becanda, si “Nas, Nas” is having their moment.. (..of love, with Kebo, maybe). LOL. Sedangkan yang lainnya becanda, si “Nas, Nas” lagi pakai telepati sambil nyatain cinta, “Marry me, marry me!” Haha. Menurut saya si “Nas Nas ” ini lagi curcol heart to heart ajah sama si Kebo. Ah, sumpah kocak.

Trus, si Lya kan masih aja make tas anyaman plastik warna pink yang sering di bawa Ibu-Ibu ke pasar itu. Nah, kita sharing joke jahat gitu, “Woy, Mbak! Mbaknya ini mau ke pasar mana?” keras-keras, untung mereka nggak ngerti bahasa Jawa. Haha.

Terlepas dari betapa panasnya perjalanan kami tadi sebenernya kelasnya ini menyenangkan kok. Saya bersyukur dapat pengalaman satu kelas sama mereka. Walaupun mereka lebih tua dan dewasa secara usia dan psikologis, tapi pengalaman ini nggak akan tergantikan. Kapan lagi saya ngerasain sekelas bareng international student, hehe.

Hopefuly, one day I become an international student myself in other country. It’s my dream. Pengennya sih… tapi butuh meningkatkan kemampuan bahasa dulu deh. Doakan ya ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s