Daily

Friend in Disguise

Ketika awal-awal setelah kejadian itu saya berusaha ikhlas dan nggak mau lagi mikirin si ‘Friend in Disguise’ ini. Bilang aja saya polos, terlalu mudah memaafkan, atau dangkal.

Tapi seikhlas-ikhlasnya saya beberapa minggu terakhir ini tetep masih kepikiran ajah. Otak kadang bekerja dengan aneh. Makin berusaha lupa, makin terpikirkan. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini akhirnya sering muncul: Kok bisa yaaaa? Kok dia tega yaaa? Kenapaaaa?

Nggak ada alasan khusus selain rasa iri dengki dia kepada saya. Benar kata orang, rasa iri adalah pangkal kejahatan. Namanya manusia ya pasti nggak luput dari kesalahan. Setiap orang pasti punya rasa iri, saya pun punya. Tapi nggak pernah saya ngejahatin orang seperti sekarang saya di jahati dia.

Jujur, saya malah kasihan sama dia. Karena dia merasa punya banyak kekurangan dan nggak senang dengan kelebihan orang lain. Padahal yo saya tuh punya kelebihan apa toh? Kan selama ini saya juga nggak jauh beda dari dia. Saya lho nggak ngerasa, tapi dianya aja yang merasa ‘kurang’.

Di jahati because being myself and she’s being jealous, it’s so sad.

Tapi hanya karena iri trus saya di jahati, berarti irinya uda dalam banget ya sampai dia sakit hati, eh pasti sudah jadi mendengki. Dia kurang ikhlas dalam menerima kelebihan dirinya sendiri, jadi yang dia ingat cuma kurangnya aja. Dia juga kurang iman jadi dia nggak menggunakan akalnya dengan baik, hanya menuruti nafsunya ajah. Nafsu untuk menjahati orang lain.

Dalam sejarah, sudah banyak orang-orang terbunuh hanya karena seseorang iri padanya. That’s freaking aweful. It’s tragic. Kalo pihak yang di jahati juga kurang beriman, pasti akan timbul dendam. Dan kalo orang pendendam, dia akan berusaha membalas orang yang menyakitinya itu. Revenge is a dish best served cold. Yang ada jahat di balas dengan jahat. Jadilah pertumpahan darah. Nggak akan ada habisnya. You’ll hurt each other and maybe a lot of innocent people in your way. Seperti kata Confucius bilang, “Before you embark on a journey of revenge, dig two graves.” Persiapkan dirimu, because you’ll lose yourself, your heart or your soul in revenge.

Saya kesal. Saya nggak terima. Saya sakit hati. Iya benar. Tapi apa saya dendam? Nggak. Terlalu banyak baca buku tentang pembalasan dendam yang saya baca. Menyeramkan banget deh bagaimana dendam merubah seseorang menjadi tidak manusiawi. At least I’m wise enough to not follow the dark path. So I won’t gonna get hurt. And innocent people, especially people I love won’t get hurt either.

So, you know who you are, in case you read this, babe. Kamu sebenernya tahu nggak sih, atau cuma pura-pura nggak tahu kalau aku tahu? Tapi nggak mungkin deh ya, kan kemarin aku sendiri yang ngasih tahu kamu kalau aku tahu itu kamu.

So please, nggak usah muna ya, terutama di depan saya. Don’t worry. I won’t blow your cover. It have to be you to show what kind of person you really are. Saya nggak akan nyindir-nyindir lagi di twitter deh, cukup sehari itu aja. It’s not my style, atau kata temen, sayanya terlalu naif. Yang mana pun pokoknya semua saya kembalikan kepada Allah SWT. So you better watch your step ya, karena Allah Maha Melihat kok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s