Uncategorized

POEM kills me

Akhirnya ada waktu buat update lagi, yes!

Tahu nggak sejak denger UAN di majukan jadi minggu ketiga, bulan Maret 2010. Sekolah jadi heboh dan para guru ga henti-hentinya maksa para murid untuk ngebut belajar, ngurangi jam main, serius, berdoa, belajar, serius, ngebut, belajar.. aduh, pengulangan kata tak efektif nih. Pokoknya gitu terus.

Para murid juga punya kehebohan sendiri, heboh mengutuk diknas yang seenaknya majuin jadwal. Gila apa. Tahun-tahun lalu kan udah maju, masa tahun ini di majuin lagi jadwalnya. Mana katanya satu ruangan ujian mau di oplos (di campur/terdiri dari murid beberapa sekolah). Udah gitu tempatnya ujiannya di satuan pendidikan lain pula, alias di sekolah lain. Bukan di sekolah sendiri. Yah, males banget. Rute ke SMADA kan udah yang paling deket dari rumah saya (FYI, saya pilih SMADA soalnya jaraknya paling deket dari rumah, kalau ga macet cuma 12 menit). Jujur aja, saya takut telat, atau parahnya, saya nyasar (jujur, buta jalan).

Ups, udahan ah ngeluhnya. Percuma juga ngeluh, meski begitu, ga bisa di pungkiri ngeluarin uneg-uneg juga perlu. Hehe..

Ah, btw, karena akhir-akhir ini kegiatan saya cukup membosankan (dari dulu sih, tapi ga pernah semembosankan ini) jadinya saya mau update dengan kegiatan yang ga jauh-jauh dari masalah sekolah juga. Habis kerjaannya sekolah mulu nih.. hampir ga ada yang menarik. Haha.

Nah, hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia. Dari semua materi, ada satu yang paling nggak saya suka dan paling tidak saya kuasai. Ayo tebak!

P-U-I-S-I

Puisi. Terdiri dari lima kata. Berawalan huruf “P” dan di akhiri dengan “U”. Pisau? Parau? Payau? Pulau? Lho?

Saya dari dulu nggak cocok sama puisi. Bawaannya nggak ngerti. Kalau udah nggak ngerti, jelas dong saya nggak bisa menginterpretasikan makna puisi tersebut. Kalau udah ga bisa, gimana dong nilai saya? Yah, jeleklah. Tapi untungnya yang namanya puisi itu kan merupakan suatu karya sastra. Dan karya yang sudah pasti memakai kiasan dan konotasi yang terkadang hanya di mengerti penulisnya sendiri. Jadi saya di untungkan disini. Tiap bikin puisi, saya mah asal naruh padanan kata yang kira-kira mirip ama temanya. Jadi kalau nggak keliatan jelas banget maknanya (pake istilah sehari-hari), yah pasti sisanya nggak jelas banget dan tiap baris pendek-pendek gitu. Cuma dua atau tiga kata. Dan tiap bait terdiri dari satu atau tiga baris. Totalnya nggak pernah lebih dari lima bait.

Pendek banget, asli.

Saya sendiri seringkali nggak ngerti maksud puisi buatan saya, apalagi gurunya coba. Hahaha.. yang jelas untuk nilai menulis dan membaca puisi saya nggak pernah jeblok. Tapi giliran disuruh menginterpretasikan puisi itu saya pasti… salah semua.

Nah, akhirnya hari ini datang juga. Materi puisi. Kita di kasih tiga puisi, disuruh baca berkali-kali dan disuruh jawab pertanyaannya. Berikut ini puisinya;

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar, Maret 1943)

Pertanyaan:
1. Objek puisi tersebut adalah..
Jawaban saya: si “Aku” yang tetap teguh dengan prinsipnya — si penulis, sudut pandang orang pertama
Jawaban guru: pemberontakan si “Aku” atas ketidakbebasan yang dialaminya.

comment: Yeah, right.. *rollingeyes*

2. Puisi tersebut mengungkapkan isi tentang..
Jawaban saya: -nggak bisa jawab-
Jawaban guru: keinginan “Aku” yang tidak dapat dihalangi oleh siapa pun

comment: Brilliant, bravo!

***


Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’

(Taufiq Ismail, Tirani, 1966)

Pertanyaannya:
1. Menggambarkan peristiwa..
Jawaban saya: berkabung/suasana duka/pemakaman
Jawaban guru: demonstrasi para mahasiswa yang menentang Orde Lama pada tahun 1966

comment: tuh kan salah..

2. Tiga anak kecil menggambarkan..
Jawaban saya: keingintahuan rakyat kecil
Jawaban guru: anak yang tidak tahu apa-apa, masih polos/suci atau rakyat kecil dan orang lemah yang turut berduka cita

comment: Mendekati!!

3. Pita hitam melambangkan..
Jawaban saya: lambang duka
Jawaban guru: berdukacita/berkabung

comment: Woaa, tumben bener

***

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bar
a kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

Pertanyaan:
1. Tema puisi adalah..
Jawaban saya: perjuangan, diponegoro, penghormatan, perang
Jawaban guru: keteladanan

comment: Shit! Setelah ngetip-X berkali-kali gara2 salah nulis dan kepleset lidah ngomong DIPONEGORO jadi DIPONOROGO si guru dengan kejamnya bilang “Salah!” atas jawaban-jawaban ngawur saya. Iya toh ngawur, lha wong saya emang nggak ngerti. Tuh, lihat jawaban saya banyak banget (tapi salah semua =.=a).

Ah, parah banget dah. Kalau gini caranya gimana mau lulus UAN? =.=a

Omong-omong, saya dari SD suka banget sama puisi AKU by Chairil Anwar. Entah kenapa di masa dia, puisi jenis itu jarang banget. Bahkan sampai sekarang saya jarang nemuin puisi yang bisa memberikan kepuasan batin macam AKU by Chairil Anwar. Tidak juga dengan puisi Chairi yang lain. (Kayak pernah baca puisi lainnya aja :P)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s