Cogitans · Daily

Si Kaya yang ingin jadi miskin

Hari ini telat lagi. Udah berapa kali ya saya telat selama seminggu ini? Dua kali deh kayaknya. Telat masuk sekolah gara-gara kesiangan. Kemana-mana kepala rasanya enteng banget, jalan sambil melayang gitu. Jadi nggak jejek kalau jalan. Nggak bisa tegap/teges. Bener-bener kayak setengah tidur gitu. Nggak tahu rasanya? Wah, kalau gitu kalian harus kena insomnia dulu lah, atau cara paling ekstrim: konsumsi miras!

Eits, saya nggak niat ngajarin jelek ke anak orang lho. Itu cuma ngasih contoh doang kalau saya lagi flying kayak orang mabok atau teler (abisnya waktu saya curhat temen saya bilang saya kayak orang yang mengkonsumsi narkoba). Semua itu tergantung kalian sendiri mau nyoba apa enggak, haha.

Trus siangnya kepala sakit banget. Nyut-nyutan, detak jantung meningkat, berkeringat, udah gitu lemes pula. Maklum, puasa. Aduh, bener-bener nyiksa banget deh 😦
Apa perlu ya saya mengkonsumsi pil tidur? Ugh, tapi ntar bikin ketagihan T.T

Ah, omong-omong tadi waktu pelajaran Agama saya dapet SWEAR (Sarana dakWah genErasi islAm beRprestasi). Jadi SWEAR ini merupakan bulletin (kayak selebaran majalah gitu) yang hanya satu lembar bolak-balik yang isinya dakwah. Dikemas dengan design dan bahasa yang lumayan menarik supaya mudah untuk dipahami adik-adik SMP-SMA. Dan yang paling asik, SWEAR ini di bagikan secara GRATIS oleh FORSSKI Madiun di bawah bimbingan LMI Madiun. Tapi sayang, kadang anak-anak banyak yang nggak bersyukur atas ke-GRATIS-annya. Padahal kan manfaat yang terdapat dalam artikelnya banyak banget itu. Sering saya lihat buletin ini di geletakkan begitu saya di meja, terinjak di lantai, dan bahkan tersimpan rapi di tempat sampah. Ck.

Nah, sebenernya saya mau mengangkat salah satu artikel yang berupa kisah tentang Nabi Muhammad saw. tertulis di SWEAR ini nih. Adanya di rubrik Cermin Diri dengan judul Belajar Ilmu Akhlaq. Berikut isi artikelnya yang saya ketik ulang:

Di sudut pasar Madinah al-Munawwarah hidup seorang pengemis buta beragama Yahudi. Apabila ada orang yang mendekatinya, ia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Ia itu orang gila, ia itu pembohong, ia itu tukang sihir! Apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.” Hari demi hari ia selalu berbuat seperti itu.Sementara itu, tiap pagi orang yang dicelanya, Rasulullah saw. mendatanginya dengan membawa makanan tanpa berkata sepatah kata pun. Rasulullah menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Tentu, karena tidak tahu, pengemis itu pun selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah saw melakukannya hingga menjelang beliau wafat, sehingga tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar ra. berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah. “Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?” tanya Abu Bakar.

“Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.” jawab Aisyah

“Apakah itu?”

“Setiap pagi Rasulullah saw. Selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis yahudi buta yang berada disana.” kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapa kamu?”

“Aku orang biasa,” jawab Abu Bakar

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” sergah pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya sendiri.”

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu. “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah saw.”

Setelah mendengar penuturan Abu Bakar, pengemis itu pun menangis. “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”

Pengemis yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di depan Abu Bakar.

(dikutip dari; nyala satu tumbuh seribu)



Subhanallah.

Saya yang saat itu sedang sakit kepala langsung berkaca-kaca dan hampir menangis ditengah-tengah pelajaran. Saya ini orangnya jarang tersentuh dan jarang menangis. Katakanlah, misalnya sewaktu kemah besar, tengah malam seluruh peserta dibangunkan untuk mendengarkan ceramah tentang bagaimana jika kita membentak orang tua kita karena hal sepele, lalu keesokan harinya saat pulang dari sekolah kita mendapati kedua orang tua kita terbujur kaku padahal baru kemarin kita marahan dengan mereka (ortu, red). Saya tidak menangis tersedu-sedu atau meratap seperti kedua teman yang duduk di kanan-kiri saya. Tidak. Saya dengan jujur berani berkata saya sama sekali tidak menangis, berkaca-kaca pun tidak. Saya tidak tersentuh. Saat itu saya malah setengah tidur sambil menahan sakit perut karena dinginnya udara malam.

Entah saya yang berhati keras atau mbak-mbaknya yang kurang hebat dalam merangsang hati nurani saya. Pokoknya saya tetep nggak bisa nangis. Tapi kemungkinan besar sih gara-gara saya udah bosen banget sama plot cerita yang begitu-begitu aja. Bayangin aja, sejak saya kelas 3 SD dan ikut serta dalam kepramukaan/kemah besar, pasti plot yang dikisahkan untuk merangsang hati nurani kita SAMA. Iya, beneran. Sama aja kok ceritanya. Itu-itu lagi. Beuh. Jadi kebal sendiri.

Tapi kisah yang satu ini, penggalan kisah tentang Nabi Muhammad diatas bikin saya berkaca-kaca dan menahan diri nangis sesenggukkan. Gengsi euy, masa udah gede masih nangis sih? Ditengah pelajaran pula. (FYI, buletin ini sama sekali nggak ada kaitannya dengan pelajaran Agama. Cuma kebetulan aja dibagiin pas pelajaran agama) Oke, sudah dipastikan bukan ka
rena kondisi saya yang sedang fly atau sakit kepala sehingga hati bebal saya jadi tersentuh. Bukan itu kok.

Saya yakin kisah nyata ini memang bikin hati siapa saja terenyuh. Soalnya Tika, temen saya yang saat itu duduk sebangku berkata, “Eh, Ky, aku ini kok cengeng banget ya? Baca kisah begini aja langsung mbrebes.*” kata Tika sambil menatap saya.

*berkaca-kaca

Saya sendiri yang saat itu mati-matian menahan air mata segera memalingkan muka sambil mengambil tisu. “Nggak kok Tik, ceritanya emang bagus. Aku juga hampir nangis nih.” Srrot (bekson ingus yang dibuang).

Tika cuma nyengir dengan mata merah.

Tahu tidak apa yang saya dapat dari membaca kisah di atas selain pesan moral mengenai keikhlasan? Sakit kepala saya seketika hilang. Mungkin saja dengan keluarnya air mata dan ingus saya (well, entahlah mengenai ingus) ada zat-zat atau hormon entah-apa-namanya yang bikin peredaran darah dan oksigen menuju otak jadi lancar. Haha, siapa tahu.

Memang kadang kita nggak perlu lebay-lebay amat kalau pengen menyentuh hati nurani seseorang dengan mengisahkan hal-hal yang tragis (semacam sinetron nggak mutu yg mengumbar sikap jelek dalam diri manusia), nggak perlu harus membangunkan anak-anak di pagi buta dengan keadaan mata ditutup kemudian di ceritain tentang orang tua yang meninggal tiba-tiba (kayak kasus pramuka itu). Cukuplah satu dua kisah nyata yang menghadirkan kesederhanaan dan keikhlasan hati yang terangkum dalam 5-8 paragraf sajalah. Yang penting sarat makna.

Lalu saat saya pulang ke rumah lagi-lagi saya menemukan buletin dakwah berada di kamar saya. Kali ini langsung dari LMI Madiun sendiri yang lebih menyerupai majalah dengan jumlah halaman sebanyak 20 lembar.

Saya tertarik membaca artikel pertama yang berjudul Permohonan si Kaya dan si Miskin di cover depan (sebenarnya buletin ini tanpa cover, jadi langsung di kasih artikel gitu). Berikut saya ketik ulang:

Nabi Musa as memiliki umat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin.

Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa as. Ia begitu miskinnya sehingga pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Bagian Musa as. “Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya.”

Nabi Musa as tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”

Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur. Aku makan pun jarang dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!” Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa as. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa as. “Wahai Nabiullah, olong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agae dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.”

Nabi Musa as. pun tersentum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, janganah kamu beryukur kepada Allah SWT.”

“Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah SWT? Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya?” jawab si Kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian yang terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu beryukur sedangkan si miskin menjadi bertambah miskin hingga tidak memiliki selembar pakaian pun yang melekat di tubuhnya karena tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

(sumber: Buletin LMI Madiun)

Pesan moral:
1. Kalau kamu kaya dan pengen jadi miskin. Nggak usah bersyukur.
2. Kalau kamu miskin dan pengen jadi kaya. Maka beryukurlah.

Padahal kan Nabi Musa as. udah baik-baik mengatakan pada si kaya resep agar si kaya itu jadi miskin sesuai keinginannya, tapi toh si Kaya malah marah-marah dan terus bersyukur. Makanya dia jadi tambah kaya lagi deh. Nabi Musa nggak salah, si Kaya itu juga nggak salah. Aduh, kenapa di artikel ini saya ngerasa ini sebuah paradoks yang satir ya?

Alhamdulillah hari ini saya banyak mendapatkan manfaat dari dakwah-dakwah buletin itu. Mimpi apa ya saya hari ini? Jarang-jarang lho saya melalui hari yang dapat saya petik hikmahnya. Memang banyak program televisi seperti Rahasia Sunnah, Minta Tolong, serta program religi lainnya. Tapi berapa banyak sih yang bisa menyentuh hati saya? Dikit banget. Yang ada saya malah eneg dan mencibir. Kok ya sampai segitunya mengekspos kekurangan suatu bangsa.

Memang bener bangsa kita ini rakyat miskinnya masih banyak. Jumlah pengemis yang menyesaki lampu merah Madiun juga bertambah banyak banget. Ini Madiun loh, helloo… Madiun yang notabene cuma kota kecil? Kenapa jumlah pengemisnya bisa tambah banyak ya? Apa ini pengemis-pengemis dari Jakarta yang dipulangkan ke kampung halaman oleh para polisi itu? Atau malah pengemis jadi-jadian yang pura-pura memiliki keterbatasan demi mendapat recehan uang logam?

Ah, saya sebel ngelihat ibu-ibu muda dengan badan ginuk-ginuk seger, muda (dalam usia produktif), sehat dan 100% tubuhnya masih utuh tanpa kurang suatu apapun menggendong Batita (yg saya duga usianya antara 1-3 tahun) nangkring di pinggiran lampu merah dan mulai ngemis-ngemis dengan tangan di bawah keliling kendaraan bermotor. Please deh, apa nggak sayang anak ya mereka? Bayi-bayi itu kan masih kecil banget. Dimana bayi-bayi harusnya tumbuh di lingkungan yang bersih, aman dan kondusif bagi perkembangan mental maupun tubuh, eh mereka malah disodorin di tengah kepulan asap yang penuh pembakaran tak sempurna itu. Mau jadi apa generasi bangsa di masa depan kalau Ibu-ibu muda itu sudah berani nyiksa bayi mereka dengan merusak paru-paru serta kesempatan mereka mendapatkan otak yang cerdas (entah kenapa saya yakin karbon monoksida berpengaruh besar pada perkembangan otak).

Astaghfirullah.. aduh, kok saya jadi marah-marah gini sih 😛

Yah, cuma pengen ngasih pendapat aja sih. Kalau keadaan memungkinkan, kenapa ibu-ibu muda itu nggak nyari pekerjaan yang lebih bergengsi dikit? Emang sih jadi PRT itu bagi sebagian orang terkesan nggak elit, tapi seenggaknya lebih elit lah daripada minta-minta di pinggir jalan. Apalagi mereka kan masih muda dan berada pada usia yang produktif.

Coba deh dengerin:
“Kerja dimana, mbak?”

“Oh, saya jadi pembantu rumah tangga di keluarga bapak XXX”

bedain dengan

“Oh, saya ngemis di perempatan jalan Diponegoro, Buk.”

Enakan denger yang mana?

Udah ah, balik lagi yuk ke topik awal.

Tersentuh pun saya hampir nggak pernah menangis lho. Mbrebes aja enggak. Entah kemasannya yang kurang menarik atau karena saya sudah muak dengan skenario yang lebay dan kelihatan dibuat-buat. Yang jelas jarang sekali saya tersentuh. Mengambil hikmahnya jelas bisa lah. Tapi sedikit banget yang nembus sampai hati.

Siapa yang harus memperbaiki diri? Penonton yang hatinya bebal atau tim redaksi yang kurang kreativitasnya.

Hmm..

Jika di hadapkan pada komentar teman-teman saya mengenai fenomena novel Ayat-Ayat Cinta yang kata mereka bikin banjir air mata saking menyentuh dan romantisnya. Saya hanya tersenyum kalem saja. Karena jujur aja saya sama sekali nggak nangis baca novel itu. Memang kisah cintanya indah serta wawasan islamiah serasa memenuhi nuansa novel AAC tersebut. Tapi saya tidak bisa merasakan hati yang terpelintir karena dahsyatnya kisah cinta Aisha-Fahri-Maria seperti yang saya temui di beberapa novel/film roman yang pernah saya baca sebelumnya. Tentu saja saya tidak bilang novel ini jelek. Bagus kok ceritanya, cuma chemistry kisah cintanya masih kurang.

Pernah saya baca teenlit yang mana pengarangnya bener-bener hebat dalam menghadirkan alur walau plotnya, bisa dibilang, biasa aja, mudah ditebak dan terkesan klise sampai-sampai kalian kalau baca satu bab pertama pasti bilang, “Ah, plotnya begini doang. Beginian mah banyak di rak toko buku. Ada ratusan kali plot yang begini di seluruh dunia. Pasti endingnya juga si tokoh utamanya bakalan jadian sama si Fulan.” Emang bener sodara-sodara. Endingnya ketebak, lha wong namanya juga teenlit kok. Kisahnya ringan nan gurih. Tapi, masyaallah, cara pengarang mengisahkannya itu yang dahsyat. Hati saya sampai sakit diremas-remas seakan saya sendiri yang merasakan sakitnya cinta si tokoh utama itu.

Yah, pokoknya, ngerti kan maksud saya? Semua tergantung cara bertutur/berkisah. Bagaimana seorang pengarang dapat menuturkan kisah biasa menjadi luar biasa yang terkenang/terpatri dalam hati penonton. Tidak hanya menyuguhkan kisah yang crispy saja, seindah apa pun kisahnya kalau nggak merasuk dalam sanubari sampai pembaca terpelintir hatinya berarti belum bisa dibilang hebat. Iya nggak?

Pernah baca novel The Kite Runner karangan Khaled Hosseini?

Bukan kisah cinta, kalau mau tahu. Ide ceritanya sungguh sederhana. Tapi masyaallah, cara Khaled Hosseini dalam menuturkan kisah dua sahabat ini benar-benar nggak ada duanya. Emosi saya serasa di aduk-aduk. Saya dengan keterbatasan saya saat itu (kondisi sakit Vertigo) rela begadang disaat insomnia saya sedang malu menampakkan diri, demi mendapatkan selembar lagi kisah The Kite Runner. Sembunyi-sembuyi dari semburan kemarahan Ibu yang kalau tahu saya nekat baca novel dengan penerangan handphone di bawah selimut pagi-pagi buta novel pinjaman itu bakalan di bakar saat itu juga. Jam 2 pagi saya mati-matian menahan suara sesenggukan tangis. Kacamata saya sampai basah dan saya sempat nggak bisa ngelanjutin baca novel gara-gara mati penuh air mata. Nyedot ingus pelan-pelan karena nggak pengen kedengaran Ibu.

Dan akhirnya saya tetep ketahuan T.T

Alhamdulillah novel pinjaman itu nggak di bakar. Tapi saya dapet omelan setengah jam dari Ibu.

Nggak suka baca novel tebel? Nonton aja filmnya.

Walau nggak sedahsyat novelnya, filmnya dikemas cukup apik karena saya sukses berkaca-kaca di akhir film (saat itu saya belum baca novelnya sama sekali). Apapun agamamu, apapun kepercayaanmu, se-skeptis apapun dirimu, Sungguh, saya berani jamin nggak bakalan rugi kok kalau kalian nonton film ini.

Akhir kata, kepada para kader dakwah dimanapun kalian berada: Jangan Lebay!

Lebay itu milik para oknum yang bekerja di dunia pesinetronan dan hampir merajai dunia pertelevisian di Indonesia. Kalau kalian mau di dengarkan dan ingin dakwah kalian menyentuh sanubari umat. Well, cukuplah sediakan kisah sederhana yang dituturkan secara sederhana pula karena sesungguhnya kesederhanaan itu barang mewah yang nggak ada gantinya. Suer!

Well, kembali lagi ke hikmah yang saya dapat dalam satu hari ini sampai jleb masuk ke hati. Apakah ini yang dinamakan berkah bulan Ramadhan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s