Uncategorized

Marhaban ya Ramadhan


Yah, aku kan udah kelas tiga nih, jadi aku pengen les di LBB. Tapi aku juga ambil les privat. Boleh nggak Yah?

Boleh-boleh aja. Masalahnya, kamu serius nggak? Kalau nggak serius, sering bolos, nilainya standart, ya nggak usah aja!

Jadi intinya boleh nih? Trus masalah biaya gimana?

Iya, boleh. Terserah kamu maunya bagaimana. Masalah uang nggak masalah. Yang penting disiplin dan serius. Biar uangnya nggak sia-sia.

Alhamdulillah, ayah mau ngebiayain les. Sejak kelas dua SMA ketika topik mengenai kuliah mulai diperbincangkan, saya masih nggak punya pilihan mau masuk mana. Gara-garanya biaya masuk Univ yg makin menggila itu saya jadi takut mau masuk PTN. Saya maunya masuk sekolah profesi yang bisa langsung kerja begitu lulus. Biar nggak ngerepotin ortu.

Mau ambil jurusan apa mbak?” tanya seorang kenalan.

Wah, Bu, saya juga masih bingung.

Oky katanya mau kuliah di Madiun aja. Males jauh-jauh. Katanya biar deket sama rumah dan kopen sama ibunya. Dasar manja. Mau nggak mau kamu itu harus hidup jauh, harus mandiri. Nggak mungkin Ibu ngopeni kamu seumur hidup, tho?” Ibu ikut menimpali.

Hmm..” mesam-mesem doang.

Sudahlah, masih kelas 2 ini. Biar dia mikir dulu. Semua anak kelas 2 juga masih mencla-mencle. Hari ini milih A, besok milih B. Ntar kalau udah kelas 3 juga pakem sendiri.” Ayah ikut bicara juga.

Iya. Tapi sekarang kuliah mahal banget. Makanya, di Madiun aja. Ambil Wearnes atau apalah. Kasian Ayah.

Goblok. Uang itu nggak masalah. Yang penting kamu itu pinter dululah. Kalau kamu diterima di Amerika pun Ayah sanggup kok.

Diatas itu sekilas percakapan yang saya ingat menjelang masuk tahun ajaran baru. Well, saya naik ke kelas 3, btw. Dengan emosi masih labil, pengetahuan sempit, dan nilai pas-pasan akhirnya saya bisa naik juga ke kelas 3. Surprise banget rasanya. Hahaha.

Jadi begitulah. Walau hati ini nggak siap, yah, mau nggak mau harus survive di kelas 3 ini. Semuanya mewanti-wanti saya untuk bisa lebih serius belajar dan mengambil langkah yg tepat untuk masa depan. Masalah uang yg dulu sempet bikin saya ketar-ketir sudah bukan masalah lagi. Ayah dan Ibu sudah meyakinkan saya dengan seyakin-yakinnya bahwa uang itu sama sekali bukan masalah besar. Sekarang saya sudah ayem. Karena insyaallah segala jalan menuju kesukseskan di mudahkan. Amin.

Kelas 3 itu tekanannya besar lho, cah” kata Bu Rini guru BP kami waktu kelas 2. (Cah=Bocah=Nak!)

Wanti-wanti yg dilontarkan Bu Rini itu dulu cuma saya anggap angin lalu. Ah, masih kelas 2 ini. Kelas urusan kelas 3 mah dipikir ntar aja. Begitulah kira-kira pikiran impulsif saya waktu itu. Dan tiba-tiba aja sekarang saya sudah kelas 3. Waktu untuk mikirin masa depan, UN, dan datangnya tekanan besar sudah tiba! Tidaaaaaaak.

Hiyaaaaah~

Ternyata, tekanan itu datang lebih cepat dari perkiraan. Baru aja 2 bulan masuk sekolah, atmosfir dagdigdugserrrrnya datang. Dari rumah misalnya, berhubung adik saya yg cuma satu-satunya itu juga udah kelas 6, jadi rasa tegangnya berlipat ganda deh. Ibu mulai cerewet nyuruh makan ini itu, minum jamu ini itu, ngasih suplemen ini itu. Ayah sudah masang jadwal ketat. Kalau magrhib semua harus ngumpul di rumah, nggak boleh keluar malem-malem kecuali untuk urusan les. Lainnya itu, no way. Dan absensi les nggak boleh bolong. Katanya sih beliau bakalan memonitor masalah absensi saya sebulan sekali ke LBBnya. Ah, pupus sudah harapan saya untuk bolos dan ngelayap. Terus masalah buku, wah, sejak liburan kenaikan kelas ayah udah cerewet banget buat nyuruh saya beli buku SIAP UAN – SNMPTN DINI, dsb. Lalu, tiap makan malam bareng ceramahnya itu.. bikin depresi banget;

Ky, STAN itu blablabla. Menurut ayah kalau kamu nggak keterima di STAN ya cocoknya di STIS aja. Soalnya dulu waktu ayah sekolah di STT Telkom pas masih kedinasan itu mulyo banget. Mulai dari sepatu, seragam, kaus kaki, kasu dalem, gesper, topi, buku, tas, alat tulis, wuiiih.. tiap tahun pasti dapet jatah gratis. SPP gratis, malah di gaji. Satu-satunya yang nggak dikasih itu bondo dari rumah cuma celana dalem thok.

Trus, maksudnya Oky disuruh masuk STAN, gitu? Tapi Oky nggak minat masuk sana deh, Yah. Oky maunya kalau nggak UGM ya UI. Syukur-syukur kalau Oky mampu, Oky mau ambil Management atau IT di STT Telkom.

Iya boleh. Terserah Oky kok maunya masuk mana. Tapi yo nek keterima di kedinasan alhamdulillah. Bapak agak ringan. Apalagi adikmu kan masih kecil tho.

Deg.

Sialan. Walau cara ngomongnya nggak memaksa tapi kenyataannya kan emang maksa. Sejak kelas dua semester akhir ayah terus saja menyugesti saya tentang keuntungan sekolah kedinasan. Mendoktrin saya dengan kisahnya selama sekolah di kedinasan. Memaksa saya menyetujui pendapatnya tentang hidup terjamin yang akan saya dapat jika sekolah di kedinasan, dst. Apalagi namanya itu kalau bukan maksa?

Lebih parahnya lagi, tiap temen saya main lama di rumah, pasti ayah saya bakalan menceritakan kisah dan doktrin yg sama (iya kan, Tik?). Malu-maluin aja. Nggak apa-apa kalau sama saya, seenggaknya saya masih bisa maklum. Tapi mereka kan anak orang. Orangtua mana yg sudi anaknya lebih dengerin kata orang lain daripada omongan mereka sendiri? Saya baru nyadar kalau ternyata ayah saya pinter omong =.=a

Ah, derita masa SMA…

Btw, tadi pagi saat saya dibangunkan Ibu ada rasa malas menelusup. Badan ini remuk. Capek banget, kepala pening, dan dehidrasi. Alamat kena flu deh. Nah, biasanya kalau badan udah kayak gini, saya pasti merengek supaya bisa bolos. Dan biasanya juga bakalan diizinin. Soalnya badan saya ini ringkih sejak kecil. Jangan heran deh gimana bentuk absensi saya. Bolong-bolong pokoknya. Ibarat grafik nih ya, nggak stabil Bentuknya kurva, dan kurvanya itu serupa palung. Menukik tajam ke bawah, membuka ke atas. Tiap seminggu sekali saya pasti ada hari dimana saya nggak masuk sekolah.

Makanya, kalau saya bisa menyelesaikan seminggu penuh masuk sekolah, Ayah langsung ngajak makan-makan (nggak makan di restoran sih, paling juga beli r
endang dibawa pulang) buat mensyukuri kehadiran saya di sekolah. Iyah, kesannya kok lebay banget ya. Tapi beneran deh, katanya sih dengan di belinya itu rendang sebagai pancingan biar saya semangat masuk sekolah. Kayak reward aja. Yang ayah nggak tahu adalah saya nggak begitu suka rendang (abisnya pedes sih). Ayah yang suka rendang. Mungkin itu cuma alesan ayah aja supaya beliau bisa makan rendang. Dasar.

Balik lagi ke masalah bangun-tidur-tapi-pengen-bolos tadi. Ibu udah ngasih lampu ijo buat bolos dan saya sudah hampir mengiyakan sambutannya. Tapi saya jadi teringat dengan kata-kata ayah.

Iya, boleh. Terserah kamu maunya bagaimana. Masalah uang nggak masalah. Yang penting disiplin dan serius. Biar uangnya nggak sia-sia.

Tiba-tiba saya seperti disadarkan. Selama ini, selama hampir 3 tahun saya sekolah (9 tahun kalau mau di tambah masa SD-SMP) saya sudah buang-buang uang ayah berapa banyak tuh hanya karena nggak serius sekolah? Semua uangnya sia-siakah? Kayanya sih iya. Terutama masa SMA ini. Soalnya masa SD-SMP saya masih serius dan bisa masuk 10 besar. Tapi SMA ini? Well, walau nggak pernah kelayapan, hura-hura atau pun hidup hedon, tapi toh saya tetep buang waktu percuma dengan ngendon dirumah melampiaskan hobi baca-nonton-ngenet selama belasan jam.

Yang menyedihkan adalah: Itu semua nggak saya imbangi dengan belajar.

Malu rasanya. Kenapa nyesel selalu datang belakangan sih? Klise.

******************************************

Ah, barusan sebelum saya menulis blog ini saya mengikuti syuro karena waktu les Ukh Vira (Mas’ul SKI SMADA) berpesan agar saya bisa menghadiri syuro kali ini karena penting katanya. Saya bisa datang walau terlambat (ah, jam karet nggak pernah hilang). Rupanya topik syuro sudah sampai pada Pondok Ramadhan yang akan di adakan SMADA pada awal bulan Ramadhan. Wow, suasana Ramadhan sudah berhembus kencang.

Di akhir syuro, saat Ukh Vira ngasih ucapan penutupan. Ukh Vira sedikit menyinggung perihal absensi. Karena saya juga manusia yg punya keterbatasan, saya nggak ingat persis bagaimana kalimatnya, tapi kurang lebih begini isinya;

Di mohon antum semua aktif dalam mengikuti liqo karena dasar SKI ada pada liqo. Kalau nggak ikut liqo berarti kita kehilangan kesempatan mendapat ilmu. Walau antum sering mengikuti acara-acara besar SKI seperti tafakur alam, pondok ramadhan, seminar-seminar, tapi kalau nggak pernah ikut liqo, antum berarti belum benar-benar disebut aktif dalam SKI. Anti nggak maksa, tapi kalau antum nggak ikut liqo, antum sendiri yang bakalan rugi. Karena justru ilmu-ilmu keagaman kita dapat dari liqo-liqo kita selama ini.

Deg.

Ah, Ukh Vira. Ngomongnya alus banget, tanpa kontak mata yg menjurus atau pun kalimat yg menuduh terang-terangan siapa saja yang nggak pernah ikut liqo. Tapi hati saya ini merasa lho. Bener-bener merasa tersindir. Karena jujur saja, keimanan saya naik turun. Males banget kalau disuruh ikut liqo. Ada aja alesan saya, yang laparlah, yang capeklah, yang ada acara lah. Pokoknya ada aja setannya yang menyuruh saya berhenti hadir dalam liqo. Saya baru aktif membantu kalau ada acara besar macam tafakur alam atau pondok ramadhan.

Walau merasa tersindir, saya sama sekali nggak merasa tersinggung. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya masih amat sangat kurang dalam ilmu agama. Hati saya masih kering. Saya masih sering tergoda hal-hal duniawi dan sering menomorduakan agama. Saya justru kagum sama ukh Vira. Padahal secara usia, jelas saya lebih tua. Tapi secara agama dan kepribadian, saya jauh dibawahnya.

Malu.

Cuma itu yang bisa saya rasakan selama beberapa saat. Malu banget. Saya masih harus banyak belajar. Banyak ikut kajian. Banyak-banyak menimba ilmu keagamaan. Sering mendekatkan diri pada Allah. Karena usia saya masih muda, kesempatan untuk berubah masih banyak. Sungguh Maha Besar Allah. Ternyata Allah masih sayang pada saya. Kalau Allah nggak sayang, mungkin saat ukh Vira mengingatkan, saya pasti nggak merasa malu dan sama sekali nggak merasa tersindir. Subhanallah ya Rabb. Semoga diberi kemudahan dan teman-teman lainnya bisa membantu saya. Mungkin perkembangannya agak lambat, jadi mohon semuanya sabar membimbing saya. Terimakasih.

Syukron Ukh Vira.

Jadwal adalah janji
salah satu kalimat Fahri di Ayat-Ayat Cinta yg masih terpatri kuat di ingatan saya.

Berakar dari situ, saya memutuskan untuk bangun tidur dan sekolah. Jadwal sekolah adalah janji. Jadwal les juga janji. Kalau nggak ditepati yang rugi saya sendiri. Insyaallah, selama saya mampu, saya akan terus menepati janji-jadwal. Insyaallah, kalau badan ini masih bisa bangkit dari kasur dan berdiri jejak hingga akhir sekolah, saya akan terus belajar. Insyaallah, kalau hati saya tegar, iman saya kuat, saya bakalan belajar serius.

Insyaallah, di bulan Ramadhan yang akan datang tak lama lagi, saya bisa menamatkan Al-qur’an. Insyaallah, saya akan menjaga puasa Ramadhan agar tidak bolong-bolong. Insyaallah saya akan disiplin shalat tarawih dan shalat fardhu tepat waktu.

Dan insyaallah saya bisa rajin mengikuti liqo’ yang di adakan SKI SMADA.

Free Blogger Template

Selamat datang bulan suci Ramadhan 1367 Hijriah.
Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan ini seluruh umatmu bisa tetap tegap berjalan di jalanmu yang lurus ya Allah. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s