Uncategorized

Bentar lagi puasa tapi kok masih marahan?

Barusan saya di sms sahabat saya si bebek. Dia lagi punya masalah sama sahabat dia yg satunya lagi (tapi bukan sahabat saya). Ah, bingung banget yak bahasanya. Oke, sebut aja si J. Inti permasalahnya… masih belum diketahui. Tapi mereka pada marahan. Lho, kok bisa?

Jadi begini. Sejak dua bulan lalu si J ini tiap papasan sama saya pasti bilang, “Si Bebek udah berubah. Temenmu itu jadi nyebelin.

Owke..

Ini maksud dia si Bebek berubah jadi gimana sih? Perasaan biasa aja deh. Yah, mungkin itu baru sudut pandang saya aja. Belum sudut pandang dia. Sampai disitu saya mah nggak ambil pusing. Paling cuma guyon atau karena si J udah kehabisan topik yg bisa kami perbincangkan aja. Eh, ternyata hal yg sama muncul dari Bebek. Katanya si J juga berubah jadi aneh. Lho? Maksudnya?

Ah, yg baca ini pasti deh ngerasa ini curhatan ngebosenin ya? Ya udah, silakan close window aja deh kalau males baca. Saya nggak maksa. Hehe..

Terusin ya? Yuk, yak, yuuuk~

Nah, si Bebek ini makin lama makin stres. Bukan maksud saya menjelek-jelekkan Bebek ya, tapi beneran, Bebek ini orangnya gampang kepikiran. Makanya masalah gini aja dia udah merengek dan meratap sedih tak karuan. Galau hatinya. Karena dia merasa J ini marah tanpa sebab. Bebek nggak tahu apa kesalahan dia terhadap J. Nah, J juga salah karena nggak ngasih tahu apa kesalahan Bebek yg bikin dia marah.

Tiap Bebek sms, nggak di balas. Ngirim comment ke wall fesbuk, dicuekin. Udah minta maaf pun, nggak di tanggepin. Seolah Bebek nggak di’orang’kan. Kalau gini caranya, gimana Bebek bisa tahu apa kesalahannya? Kalau nggak tahu apa salahnya, gimana memperbaikinya, coba? Aneh banget deh kasus ini.

Sebagai teman yang baik dan peduli, ketika saya dimintai tolong, pastinya saya ikut membantu dong. Saya paling nggak tega liat Bebek meratap pilu. Jadinya saya sms J. Tanya apa yg bikin hati dia nggak suka? Dan balasannya sungguh tidak melegakan hati. Ah, ralat, bikin saya jadi ikut emosi. Oke, aslinya nggak separah itu sih. Saya lagi lebay aja. Hehe.

Dah selesai. Nggak apa-apa kok.

Eh? Maksudnya udah selesai? Jelas-jelas si Bebek masih nggak tahu menahu gitu dia bilang udah selesai? Selesai dari Hongkong? Saya yg kebetulan lagi banyak pikiran dan gregetan liat mereka berdua kayak anak kecil begitu langsung emosi. Dan dengan kasar membalas:

Jah. Masa begitu aja sih. Nggak jelas banget. Aku minta penjelasan. Kronologis cerita dari awal. Sebab-musabab. Bukan hasil akhir.

Ah, tahu deh. Terserah. Aku males banget ngurusin kalian.

Astaghfirullah, sumpah. Saya bener-bener khilaf. Begitu saya menerima delivery report hati saya langsung mencelos dilanda rasa bersalah yg teramat besar. Salah apa si J ini hingga kena semprot saya? Salah apa si J ini sehingga jadi pelampiasan emosi sesaat? Salah apa si J ini sama saya? Masyaallah. Segera saya kirim sms permintaan maaf, saya bilang saya lagi emosi. Saya minta supaya kami bisa saling memaafkan menjelang bulan suci ramadhan ini. Susah banget bisa temenan tapi gampang banget jadi musuh. Ah, klise. Tapi yg klise itu biasanya selalu benar.

Untungnya dia pun membalas dengan lebih tenang. Alhamdulillah, kita baikan. Saya nggak mau ikut-ikutan jadi musuh. Apalagi kalau dimusuhi keduanya. Jangan sampai deh. Lusa sudah puasa masa saya malah nambah jumlah musuh. Bisa dosa besar. Eh, omong-omong tentang dosa besar, marahan itu termasuk dosa besar lho.

Ada kisah tentang Umar bin Abdul Aziz

Khalifah Umar bin Abdul Aziz melihat seseorang yang mabuk. Ketika ia ditangkap untuk dihukum dera, tiba-tiba ia dimaki oleh orang yang mabuk tersebut. Khalifah Umar kemudian kembali dan tidak jadi untuk melaksanakan hukum dera saat itu, dan saat ditanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa setelah ia memaki Anda tiba-tiba Anda meninggalkan dia?” Khalifah menjawab, “itu karena ia membuat aku jengkel. Kalau aku menghukumnya (pukul) mungkin aku memukulnya karena aku marah kepadanya (dan bukan karena ia melanggar hukum Allah), dan aku tidak suka memukul seseorang hanya karena membela diriku sendiri.”

–SOURCE: http://dickyfs.wordpress.com/–

Kesimpulannya sih simpel: Jangan marah

[ عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّ مِرَاراً قَالَ : لاَ تَغْضَبْ] رواه البخاري

9. Dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi: �Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: �Janganlah kamu marah� Orang itu mengulang beberapa kali. Beliau bersabda: �Janganlah kamu marah� (HR Bukhari)

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut mengandung larangan marah dan menjahui sebab-sebab timbulnya marah dan menghindari hal-hal yang membangkitkan amarah. Nabi membatasi lafadz ini karena penanya adalah seorang pemarah. Adalah Rasul memberikan fatwa kepada setiap orang dengan sesuatu yang memang sangat perlu (pas) untuk orang tersebut.

Dalam sabdanya �Jangan marah� Rasul mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Karena marah bisa ditakwilkan saling mutus hubungan dan mencegah kelembutan dan bisa ditakwilkan menyakiti orang yang dimarahi dengan sesuatu yang tidak perbolehkan sehingga menjadi kekurangan pada agamanya.

–Source: http://abdullah-syauqi.cybermq.com/—

Tuh, kan. Nabi aja bersabda sampai beberapa kali supaya kita menahan amarah. Barang siapa marah pasti akan banyak menyesal. Dan dalam islam, kita tidak boleh marahan lebih dari 3 hari karena lebih dari itu akan mendapat dosa dan tidak bisa masuk surga. Hii.. emang situ mau ditolak pintu surga?

Kalau pun seandainya kita marahan dan kita sudah bisa memaafkan lebih dahulu, sesungguhnya itu karena kita sayang diri kita sendiri. Soalnya memaafkan adalah hal terberat. Jadi kemungkinan pahalanya juga paling banyak. Bersyukurlah kalian yg berhati lapang. Tapi bisa memaafkan bukan berarti masalah sudah selesai. Soalnya ada masih ada satu tahap lagi, yaitu tahap berbaikan dong ah. Percuma dong kalau satu pihak yg ikhlas sedangkan pihak lainnya masih ‘panas’. Nah, makanya, ini buat Bebek-J dan semua orang yg lagi marahan lho. Saya kasih tips cara berbaikan:

Pura-pura lupa
Ini teknik yang paling mudah dan relatif manjur.. coba deh kamu tegor dia duluan seperti saat belum musuhan. Ajak dia ngobrol seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Mungkin awalnya dia akan kaget tapi siapa tau juga sebenarnya dia juga capek marahan ma kamu..

Pilihan Ganda
Tulis diselembar kertas atau kirimin dia SMS yang isinya:
baikan yuk.. nggak enak loh marahan trs…
Jawab: (a) Boleh (b) Ayo (c) Kenapa nggak? (d) …..(isi sendiri)

Ajak Ganknya
Mau hang out.. coba deh deketin ganknya atau ganknya dan ajak mereka.. sekalian aja dia juga. Kalau teman-teman seganknya ikut biasanya dia akan ikut juga… pasti dia akan ngerasa nggak enak juga kalau sendirian terus.

Satu Tim
Kalau kebetulan kamu sekelas sama dia atau satu organisasi dengannya coba kamu minta dijadikan sekelompokkan sama dia. Kalau sudah dalam satu kelompok mau tidak mau kamu dan dia harus saling berkomunikasi dan berdiskusi. Untuk melumerkan suasana panas dengannya kamu mulai basa basi tentang tugas kelompok atau meminjam catatan tugas padanya.

Bantuin dong…
Kamu lagi lihat dia kesusahan misalnya dia lagi bawa bawaan banyak atau terlihat lagi kerepotan.. Jangan sungkan untuk bantuin dia. Ini bisa jadi sinyal buat perdamaian kamu dengannya juga.
Gimana kalau kamu sudah mencoba berbagai cara untuk melumerkan suasana permusuhan tapi dia masih saja dingin dan jutek denganmu? Nggak usah kecewa dan maksain diri lagi.. yang penting kamu sudah berusaha dan berbuat baik padanya. Kalau responnya masih dingin dan nggak mau berdamai denganmu itu salah dia sendiri.. percaya deh kalau dendam marah dan sakit hati cuma buat kita capek sendiri.

–source: http://bsoeroso.blogspot.com/–

Coba deh cara-cara diatas di praktekkin. Insyaallah masalah cepat terselesaikan. Kalau semua cara diatas tidak berhasil, berusahalah sekali lagi. Masih nggak sukses lagi? Berusahalah lebih keras. Kalau masih belum bisa berbaikan juga? Kalau begitu pintu hati orang itu belum terketuk oleh Allah. Atau hatinya emang keras dan sempit. Tapi itu bukan salah kalian, kalian sudah berusaha sebaik mungkin. Sisanya, serahkan pada Allah dan waktu.

Mari sucikan hati dan pikiran menjelang bulan suci Ramadhan tahun ini. Untuk apa bersusah hati? Positive thingking aja lagi. Hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s