Uncategorized

Finansial dan hubungannya dengan kebahagiaan

Lagi mengalami kesulitan finansial nih. Pengen banget deh masuk finance biar bisa belajar ngatur duit. Soalnya bagaimana pun wanita lah yang bakalan ngatur keuangan keluarga. Entah kenapa, saya baca dimana-mana–macam personality-thingy, pribadi menurut tanggal lahir maupun astrologi–selalu mengatakan bahwa saya nggak becus ngatur duit. Boros dan sering kalap.

Kenyataannya; emang iya!

Ntar gimana coba waktu kebutuhan keluarga banyak, eh saya malah kalap belanja? Mampus dah sekeluarga gak makan. *mikirnya kejauhan*

Yah, sekarang aja nih ya. Duit buat beli buku pelajaran malah saya ambil buat beli black flat shoes (jamak, karena saya beli dua), Striped Tie High Socks (klik aja buat liat gambarnya, dapet gambar yg persis, cuma minus gambar hatinya aja), black legging, bakso dan es krim, headset buat komputer, webcam buat YMan sama sodara yg tinggal Medan, sama novel-novel bekas.

Oke, silakan sebut saya bodoh. Tapi, hei, itu semua atas seizin ayah dan ibu juga lho. Waktu saya minta duit tambahan buat beli sepatu flat and legging buat keperluan pensi, mereka nggak ngasih duit. Dengan kata lain nyuruh saya beli sendiri. Berhubung bisnis saya juga lagi seret (iya, saya punya bisnis sendiri, kok) dan Indonesia nggak punya sistem kerja paruh waktu buat pelajar saking banyaknya pengangguran, nggak ada jalan lain buat nilep dana buku dengan izin ortu.

Trus sodara dari Medan sering banget YMan pake webcam. Tapi berhubung saya nggak punya webcam, ayah, ibu sama adik saya nyuruh saya beli webcam. Sekali lagi, cuma nyuruh doang tanpa ngasih modal. Eaaah~ nilep duit buku lagi. Sekali lagi, atas izin ortu. Trus, banyak temen dateng, ada sepupu main kerumah, sialnya Ibu lagi malas masak, adik juga nggak nafsu makan. Akhirnya keluar juga kalimat sakti itu: “Ky, beli camilan dong. Eh, jangan, bakso aja. Sekalian buat makan siang. Beliin yang banyak buat lainnya juga, ya?”

Jddderrr!!
=____________________=;;
*ketawa garing*

Oke. Bulan ini, hampir genap empat minggu, entah kenapa saya ngerasa di porotin terus. Merasa nelangsa lahir batin karena keadaan dompet. Dan saya baru ngerasain apa yang biasanya Mbak atau Mas (sepupu) rasain sebagai anak sulung yang udah gede dan bekerja. Duitnya abis buat menuhin permintaan adik dan keponakan serta keluarga. Yang tersisa untuk diri sendiri dikit banget.

“Oh, jadi gini ya rasanya jadi orang dewasa?” tiba-tiba itu yang terlintas dalam pikiran saya saat merenung *tash*. Jadi orang dewasa nggak enak ternyata. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi (entah kebutuhan diri sendiri atau orang lain), kewajiban yang harus di jalani (kerja, nyari nafkah), dan tanggung jawab (untuk menafkahi atau bikin seneng keluarga). Belum lagi tekanan mental untuk memenuhi ekspektasi dari berbagai pihak. Yah, silakan pikir sendiri ekspektasi macam apa yang saya maksud.

Selain itu juga harus bermasyarakat. Menurut saya, diantara semuanya, yang paling sulit itu bermasyarakat. Karena bermasyarakat membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Tanpa bekal cukup seperti pengetahuan dasar, etiket, rasa empati, simpati, rasa solodaritas, dan kerendahan hati kita bakalan susah membangun suatu hubungan. Nah, kalau hubungan antar tetangga nggak baik, bisa jadi beban pikiran, yang akibatnya timbul rasa nggak nyaman dan nggak tenteram, kerja jadi nggak konsen, kalau nggak konsen bakalan di dapat teguran dari bos, proyek gagal, promosi ilang, bahkan bisa di pecat. Nah, lho, jadi seret rejeki deh. Kalau udah gitu, larinya kemana? Pasti nyari bantuan kan? Siapa lagi yang bisa bantuin kita kalau bukan tetangga atau temen? Padahal hubungan kita ama tuh tetangga lagi nggak baik. Mampus!

Paranoid akut!

Suer. Dalam proses menuju kedewasaan ini saya paling takut untuk bersosialisasi. Soalnya kebanyakan orang menjudge dari sampulnya sih. Belum apa-apa saya sudah takut di hakimi. Apalagi kalau prasangka mereka tentang saya emang benar adanya. Saya langsung minder dan males berhubungan lagi deh. Nggak bisa nerima kenyataan, istilahnya. Apa ya namanya penyakit ini? Tau ah!

Btw, saya barusan baca majalah yang ngulas artikel mengenai Cara Meraih Kebahagiaan dalam hidup:

Punya penyaluran yang sehat.

Dikatakan bahwa manusia sanggup menghadapi ketakutan, keberanian, dan keraguan selama bertahun-tahun. Namun manusia tetep punya keterbatasan hingga titik manusia nyaris nggak tahan lagi. Kata lainnya sih, mendem perasaan. Nah, itu yang nggak sehat. Menurut penelitian, orang yang bahagia itu orang yang suka menolong, ringan tangan dan punya selera humor yang baik. Mereka menyalurkan masalah-masalah yang di hadapi ke dalam olahraga dan gairah yang dirasakan ke dalam hubungan yang sehat.

Jangan terlalu serius dengan kehidupan.

Allah sudah berjanji tidak akan memberi beban yang tidak dapat ditanggung oleh umatnya. Itu bener banget. Jangan memandang hidup terlalu serius. Kita semua punya kelemahan. Apa kalian mau menghadapi sisi kelam terus menerus? Saatnya menikmati hidup, men. Asal jangan kebablasan main judi atau narkoba aja.

Berbagi kebahagiaan.

Happiness only real when shared.” artinya kurang lebih: “Kebahagiaan hanya bisa dirasakan ketika bisa dibagi dengan orang-orang terkasih.” Berdasarkan penelitian, mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu dalam kesendirian, pada akhirnya mengalami masa-masa sulit. Mereka yang paling bahagia adalah mereka yang sanggup menjaga hubungan yang sehat dengan kerabat dan sahabat.

Sumber: Majalah Bintang, edisi 949, dengan perubahan.

Setelah membaca artikel itu, saya jadi bisa insropeksi diri.

Pada poin pertama: Mendam permasalahan dan berusaha nyelesein masalah sendirian. Yah, banyak sih orang yang seperti itu. Tapi sedikit yang melakukan “penyaluran-tak-sehat”. Saya jarang olahraga, jarang sosialisasi jadi nggak punya kesempatan bantuin orang lain. FYI, saya bukan orang yang baik hati. Jarang bersosialisasi sama artinya dengan: Selera humor aneh atau nggak p
unya sama sekali. Yeah, I know. Saya emang garing dan terlalu serius. Coba lihat apa yg bisa saya perbaiki dari sini? Memperbaiki selera humor, jelas. Minimal olahraga seminggu sekali, oke done. Dan mencoba lebih sering “berbaik hati“, insyaallah.

Pada poin kedua: Saya terlalu serius! Oke, aslinya saya mah suka menggampangkan masalah. Cepat melupakan masalah buruk dan menyakitkan hati, membuang hinaan ataupun masalah dalam satu kebasan. Alias, saya masa bodoh sama masalah-masalah yang ada. Tapi, saya orangnya serius, dan kesan yang saya timbulkan ke orang lain jadi antara serius-males-malesan. Gitu deh. Untuk yang satu ini, saya lolos uji. Karena saya hidup nyantai dan nggak terlalu ambil pusing dengan berbagai masalah. Saya selalu mencoba untuk “meringankan beban dengan metode sekali bilas” dalam otak. Motto saya: Yang berlalu biarlah berlalu. Klise banget, kan. Ngapain dipikir-pikir terus, bikin capek aja. Iya nggak? Tapi efek buruknya itu pada ingatan saya. Bukan rahasia lagi kalau ingatan saya jelek. Saya gampang lupa.

Pada poin ketiga: Membagi kebahagiaan bersama orang terkasih. Ini paling susah. Karena menyangkut sosialisasi. Jelas banget saya bukan tipe itu. Saya itu males banget ngumpul-ngumpul. Rasanya nggak guna deh ngobrol ngalur ngidul. Mending nonton film atau baca novel aja deh. Kalau lagi seneng, biasanya nyimpen sendiri. Karena ngerasa orang lain nggak bakalan ngerti kenapa saya seneng. Contoh kecilnya nih ya, saya seneng banget dapat permen buah yang udah lama nggak saya liat beredar di toko-toko langganan saya. Padahal tuh permen favorit saya. Yah, maklumlah, saya agak autis. Hal kecil gitu aja udah bikin saya seneng setengah mati. Eh, tiba-tiba temen nanyain kenapa kok saya nyengir-nyengir sendiri. Saya jawab apa adanya dengan antusiasme berlebihan alias lebay. Lebay saya aslinya wajar-wajar aja kalau dibandingin kelebay-an temen-temen lain (kelas saya asli isinya anak lebay semua). Cuma mungkin karena saya kesannya serius, jadi kelebay-an saya yang jarang muncul itu jadi terlihat lebay nggak karuan. Ah, shit. Temen itu bilang, “Aduh, biasa aja kali, cuma permen aja sampe segitunya.” Ugh, pernyataan yang menohok hati. Katakanlah saya sensitif, tapi respon seperti itu, dengan gesture yang menyepelekan dan melihat saya seolah saya bodoh sungguh tak termaafkan *lebay deh nih tulisan jadinya*. Oh, demi bulu ketek maknyot, saya tahu kok yang mana celetukan bercanda dan yg mana yg asli menghina.

Skip, skip.

Intinya kan saya disuruh lebih banyak berteman, iya kan? Oke, walau susah, kayaknya saya bisa deh. Meski awalnya saya bakalan jadi kambing congek karena nggak nyambung dan omongan saya nggak ditanggapi, it’s fine. Saya mau hidup bahagia, nggak mau mati muda. Saya pengen belajar bersosialisasi biar lancar jodoh dan lancar rejeki *NGACO*

Hehe, kidding.

Kalau ada tips-tips cara bersosialisasi bagi pemula, call me *kedip2kelilipan*

Oh ya, satu lagi. Berhubung akhir-akhir ini kulit saya kering, kusam, dan bersisik *ikan kali* saya jadi bertekat banyak minum air putih dengan resiko bolak-balik ke toilet 7 menit sekali. Apa pun lah demi gaya hidup sehat dan bahagia. Wish me Luck! *mulai terkontaminasi iklan*

Ah, sekali lagi, Judul dan isi nggak pernah nyambung, *sigh*

PS to Ibra a.k.a LaptopMini: Hei, bro, I’m really back! *toss yuuk~*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s