Uncategorized

Koneksi kembali, hati ingin kabur saja

It’s already late now.. Hmm… actually, 1.43 AM right now.

Aneh rasanya saya duduk di kamar, dini hari, di depan laptop.

Oke, garis bawahi kata “duduk di kamar”.

Does it mean anything to you? Well, kalau-kalau ada yang memperhatikan, biasanya di awal entry saya selalu menulis keterangan ‘entry ditulis dalam keadaan offline’. Tapi tidak sekarang.

Cuma berarti satu hal, eh? I’m online right now, with mw own internet connection connected on my line. Yell it, Yeaaaah!!!

Ohoho.. aneh sekali, sungguh. Saya berangkat dari rumah, jemput teman, trus pergi ke sekolah, ‘keliaran’ disekolah selama 3 menit, trus pulang–well, tepatnya saya nganter temen saya ke rumahnya dulu–sampai di rumah (my home) ganti baju bebas, lalu keluar lagi–ke warnet, as usual.

Klik sana, klik sini. Cek ini, cek itu. Oke, done. Mata saya pedes, koneksi lola, diajak ngobrol sama adek kelas yg so friendly; her name is Yuni, tukeran nomer hp, perut saya lapar, billing abis, sesi ngenet selesai, bayar bill, lalu keluar.

Oh, sounds lame. Sorry, I don’t mean it. Maksud saya cuma mau kasih flashback sesederhana mungkin. Yah, itu cuma sekilas, bener-bener sekilas, agak membingungkan memang. Nggak penting sebenarnya, toh bukan itu inti ceritanya–saya emang suka muter-muter dulu.

Nah, setelah pulang dari warnet, saya mampir dulu ke rental komik–otaku’s fave place–untuk nyari volum Perfect Girl Evolution terbaru. Baru aja sampe pintu rental handphone saya berdering. Daddy is calling.

me: “Assalamu’alaikum, Hello?”
Ayah: “Wa’alaikum salam. Nduk, kamu dimana?”
me: *nggak berani jawab lagi ditempat terlarang* “Lagi di Ann’s Collection, mau beli kuteks.”

Oke, sampai sini jangan sampai berpikir kalau saya tukang bohongin ortu. I’m not that kind of kid. Memang sih, saat itu saya di lokasi rental komik, tapi uda ada rencana mau beli kuteks selesai pinjem. Jangan berpikir jelek dulu, ya.

Ayah: “Nduk, cepet pulang ya. Ini penting. Cepet!”
me: “Umm.. oke. Emang ada apa?” *mulai khawatir*
Ayah: “Wes tho, pokoknya cepetan pulang. Penting!! Nggak usah mampir kemana-mana dulu.”

sambungan putus

Oke, sampai sini jantung saya udah dag-dig-dug Doorrr.. terakhir kali denger nada bicara mendesak Ayah yang seperti itu, biasanya sih Ayah bohong (maksudnya nggak ada sesuatu yg bener2 penting seperti yg dikatakannya). Contohnya saja, waktu itu hujan, saya terjebak di warnet yg bahkan nggak jual roti-sehat-dan-mengenyangkan, dan hampir maghrib. Tiba-tiba ayah telepon dengan nada mendesak yg intinya menyuruh saya cepat pulang karena ada teman saya yang berkunjung ke rumah. Oke, saya bilang suruh aja temen saya nunggu kalau niatnya mau main, atau suruh nitip pesen aja kalo emang ada keperluan penting, coz keadaan saya nggak memungkinkan untuk pulang. Tapi Ayah mendesak dengan nada suara yang mengindikasikan bahwa kedatangan teman saya itu super penting. Oh, meen… Dengan berat hati saya bayar billing warnet, dan tanpa jas hujan saya menerabas badai–lebay.com–, ngebut dijalan raya, dan.. Oh.. tebak saudara-saudara, saya tergelincir aspal yg licin dan jatoh!!

Bonyok. Yah, motornya nggak rusak, lecet sedikit, keseleo disana, dan memar dibanyak tempat. Seakan semuanya tidak akan lebih buruk saja, jalanan sepi, nggak ada orang untuk bantuin saya berdiri atau minimal bertanya dengan nada simpatik. Hell. Oke, entah bagaimana saya kuat ngangkat motor sendirian–yang mustahil bisa saya lakukan di waktu lain–entah dari mana datangnya kekuatan itu. Saya bertahan dan bisa sampai rumah. Tapi, tebak saudara-saudara, tidak ada yang namanya “teman” dan tidak ada yang namanya “penting”!! Damn it!! Saya dibohongi!! Hanya karena Ayah saya ingin saya pulang, oh shit. Tidak bisakah Ayah bilang baik2 atau membiarkan saya di warnet saja? Kalau dengar dari nada mendesaknya saat ditelepon, saya pikir ada teman saya yang meninggal atau apa.

Beda, beda sekali kalau benar-benar ada situasi “penting”. Ini kejadian lama. Well, seperti biasa, setiap pulang sekolah, saya pasti telepon Ayah minta dijemput. Setelah bersabar dengan antrian telepon umum, saya telepon Ayah, bilang sudah jam 1 dan tolong jemput saya. Seperti biasanya. Dan tiba-tiba Ayah bilang hari ini saya pulang naik becak saja. Oh, saat itu saya kesal sekali. Berapa kali hal ini terjadi? Ayah selalu saja begini. Well, Dad, semoga masih ingat kalau uang jajan saya sangat terbatas dan sudah habis dipakai sekitar dua jam lalu. Tak ada uang yang tersisa untuk naik becak. Jalan kaki? Oh, yang benar saja, bisa-bisa saya nggak nyampai rumah karena pingsan ditengah jalan.

Lalu, saya bertanya, memangnya saat itu Ayah ada dimana sih, kok sampai nggak bisa jemput?

Di rumah sakit, katanya.

Uuh, bercanda, pikirku. Well, permainan masa kecil, sering menipu lewat sambungan telepon. Saya sudah terbiasa. Jadi saya ikuti permainannya. Well, memangnya ngapain dirumah sakit? Mau donor darah? tanyaku lagi.

Nggak, ini nemenin ibumu.

Ibu? Besuk siapa sih? Kupikir ada tetangga atau temen mereka yg sakit.

Ya ibumu yang sakit. Tadi pagi sakitnya. Ayah jawab dengan nada biasa seperti lagi ngobrolin tentang cuaca cerah saja. Saya pikir ini pasti jenis lelucon terbaru Ayah yang sama sekali nggak ada lucu-lucunya.

Serius deh, kalau memang besuk, pasti sebentar doang kan? Udah, cepetan jemput deh. Saya masih skeptis. Percakapan berlanjut, saya masih tidak percaya, dan Ayah dengan nada santainya terus menerus bilang bahwa beliau tidak bercanda. Oke, ini aneh. Tumben-tumbenan ayah bertahan dengan lelucon anehnya selama ini. Dan semua sampai titik puncak, ia hanya berkata;

Ya sudah, kamu jalan kaki aja ke RS, deket sama sekolahmu kan? Nanti masuk aja ke ruang tunggu.

Saya langsung pucat pasi. Ayah serius.

Ahahaha *ketawa garing*, flashbacknya kepanjangan ya? *kebiasaan* Intinya, saya cuma mau bilang, Ayah saya itu aneh!! *intinya segitu tapi embel2nya panjaaaaang, ckck*

Yah, pokoknya, walau saya deg-degan dan mulai berpikir yg bukan-bukan, saya tetep memilih untuk tidak percaya dan berlambat-lambat dalam memilih komik serta memilih kuteks (akhirnya malah beli kuteks bening gara2 inget mendadak bahwa kuteks bening saya hampir abis, next week beli warna merah, ah).

Tiap dua menit sekali Ayah pasti nelepon yg makin lama makin mendesak dan tidak sabaran. Oke, dad, I’m coming. Dan sampailah saya dirumah. Wow, ada banyak petugas telkom. Aneh, ngapain yah? Perasaan rumah saya udah punya dua line telepon dengan nomer yg berbeda, masa mau nambah lagi? Ataukah… spidi? Ugh.. jangan-jangan spidi mau komplain gara-gara dua kali berturut-turut tagi
han saya overlimit. Tapi kan tagihannya sudah dibayar–walau akhirnya dicabut juga gara-gara saya nggak bertanggung jawab dan bikin Ayah bangkrut–lagian masa perusahaan komplain ke pelanggan sih? Apa nggak kebalik?

Saya datang dan raut wajah Ayah terlihat lega. Saya hanya menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk dihujat. But, it was not gonna happen. Ayah hanya bertanya apa password laptopku karena mau dipasang spidi (lagi), katanya!!

Saya bengong–melongo, tepatnya.

MAU. DIPASANG. SPIDI.

MAU. DIPASANG. SPIdiii…

MAU. DIPASANG. spi…

MAU. DIPAsa….

Kata2 itu bagai lonceng kemerdekaan yang dibunyikan saat Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Yang membuat serentak rakyat bersorak gembira. Yah, itulah yg terjadi pada saya. Dengan cepat saya beritahu passwordnya, orang telkom bekerja dengan cepat, dan wusss….. Saya duduk didepan laptop, membuka window Multiply.

Omaigad, Dad, I love you so much >.<

Arigatou gozaimasu!!

Sudah 6 bulan saya berpisah dengan yang namanya begadang semalaman di depan laptop-dengan-koneksi-broadband. Bergaul dengan yang namanya warnet dan puasa-jajan-bakso setiap hari. Oh, dad, dunno how can I say ‘thank you’ enough. Dan waktunya sangat tepat! UAS selesai, menjelang hari rapotan, dan minggu depan libur. Perfect!!

But, it does not that perfect, though.

Rapotan!! Momok mengerikan bagi saya. Kenapa? Yah, karena saya bukan murid yang baik. Saya ngaku, selama satu semester ini saya tidak pernah serius sekolah. Saya bukan anak nakal, demi Tuhan. Saya hanya…. umm… Males belajar. Iyah, saya males. Saya juga bukan murid yang pintar, jujur saja. Dan umm.. sungguh, saya takut membayangkan nilai rapot saya bakalan jadi seperti apa. Well, kata-kata maut seperti “TIDAK TUNTAS” sudah bergentayangan dalam mimpi-mimpi saya setiap malam. Oh, meeeen…

Bayangkan, gimana nanti reaksi ayah? Maksud saya, Ayah dengan baik hatinya mau masang internet lagi–setelah sekian lama–disaat saya mau liburan, sudah pasti demi menyenangkan saya. Membuktikan betapa sayangnya Ayah. Tapi, saya membayangkan bagaimana perasaan Ayah saat melihat hasil belajar selama enam bulan saya itu menyedihkan–kalau tidak mau disebut mengerikan. Kecewa, jelas. Marah, ya sudah pasti. Oh, matilah aku.

Lebih dari itu, saya merasa sangat bersalah. Kecewa pada diri sendiri. Saya bukan tipe anak yang gemar ke mall, ngegeng, dan melakoni segala jenis haha-hihi bareng cewek-cewek-suka-senang-senang. Bukan juga tipe anak cewek yang lebih mentingin pacaran sehingga lupa belajar (saya bahkan nggak pacaran). Bukan tipe cewek yang nakal yang suka bolos, gaul sama cowok-cowok, atau berbuat onar. Oh, bukan-bukan itu. Sebaliknya, saya malah tipe introvert yang langsung pulang kerumah begitu bel pulang dibunyikan. Lebih suka mendekam dalam kamar daripada shopping. Lebih suka baca novel daripada nongkrong di kafe. Well, tahu kan tipe-tipe anak nggak neko-neko, penurut nan membosankan? Pokoknya, 60% dari satu hari saya habiskan di dalam rumah.

Harusnya–biasanya–tipe cewek seperti saya ini minimal rajin belajar. Tapi, hell, itu bukan saya. Saya aslinya males banget. Males belajar dan males menyimak pelajaran. Nggak heran nilai saya turun drastis. Sumpah, dulu saya nggak kayak gini. Dulu… entah kenapa? Saya sudah mulai nggak fokus. Saya ngerasa muak dan bosen dengan rutinitas keseharian yg diisi bangun tidur-ke sekolah-pulang-tidur siang, atau kegiatan apa punlah-belajar-tidur malam-bangun lagi. Itu-itu saja. Kalau saya mau bisa aja sih saya ikutan gajelas di mall-mall. Tapi sumpah, saya nggak tertarik.Apa manfaatnya coba? Well, apa manfaatnya juga baca buku/nonton film dirumah. Yah, sama aja sih, kan hobi tiap orang beda.

Cumaa…. uhh… saya gelisah, sungguh. Nilai-nilai saya jatuh. Nggak yakin bisa lulus. Nggak yakin apa saya bisa naik kelas? Oh meeen…. saya tahu saya salah. Sudah instropeksi, tapi yg sulit itu berubahnya. Prakteknya. Iya, saya tahu saya harus mulai disiplin sejak saat ini. Mulai belajar. Mulai ngejar ketertinggalan. Apalah namanya. Saya tahu sejak dulu, sejak awal2 semester dan menerima nilai jelek gara-gara saya milih baca novel ketimbang belajar dimalam ujian. Tapi, wow, sumpah, saya nggak bisa tahan jauh-jauh dari baca novel/komik dan nonton film (baca: film. Bukan sinetron). Saya sudah coba, tapi hasilnya ngantuk. Saya coba nggak pinjem novel lagi tapi saya malah depresi dan stres sendiri. Saya jadi berpikir, seperti inikah rasanya para pecandu? Oh, saya rasa saya butuh rehabilitasi–konseling.

Ungg… Besok rapotan, shit. Saya bener-bener nggak kuat ngehadapinnya. Saya sudah merencanakan kabur sejak jauh-jauh hari. Oke, pilihannya adalah;

1. Ke rumah nenek : Cuma 4 menit ditempuh jalan kaki. Ayah nggak mungkin ngejar sampai kesana. Yang ada Ayah nunggu saya sampai pulang lalu di marahin habis-habisan.

2. Rumah nenek Buyut : Sekitar 15 menit naik motor. Jauh, dan resiko nyasar lebih besar secara saya buta arah. Lagian disana isinya orang tua semua–mbah-mbah lain, adik nenek–yang nggak akan nyambung diajak ngobrol. Mereka pakai bahasa jawa dan menginginkan saya melakukan hal yang sama, padahal kemampuan bahasa alus–krama inggil–saya setingkat anak bayi.

3. Rumah temen : Well, ini bermasalah karena teman2 saya pasti sedang menghadapi sidang dari ortu mereka masing2. Nggak mungkin dung saya main kesana dan dihadapkan pada pertanyaan seperti; “Berapa nilai kamu, sama nggak kayak anak saya? Bagusan siapa?” Mampus!!

4. Sekolah : Cari mati!!

5. Warnet : Well, ketika waktu menunjukkan pukul 9 malam dan saya belum pulang, pasti ditendang dengan tidak terhormat oleh penjaganya. Hebat.

Oh, no!! Sudah jam 3 AM. Omaigad. Saya masih belum bisa memutuskan mau kabur kemana??? Help!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s