Uncategorized

Review on Sunday Night

Minggu, 11 Januari 2009  *penulis ngedraft entry dalam keadaan Offline*

Nge-review lagi?

uhuk-uhuk.. akhirnyaaa…

Yatta!!

Setelah sekian lama.. setelah sekian lama akhirnya saya selesai juga mereview novel non-fiksi karya mbak Lia (quavi) yang berjudul ga-gi-gu giGi. Belinya sih udah lama. Kapan tepatnya sih saya lupa. Pokoknya udah lebih dari sebulan yang lalu. Dibaca habis hari itu juga. Tapi, niat untuk menuliskan komen saya mengenai novel tersebut dalam blog ini hampir nggak ada—sampai sekarang. Niatnya sih saya mau review duluan karya-karya mbak Okke Rizka (Orizuka) yang sudah jadi pengarang favorit (kategori pengarang dalam negeri—selain Raditya Dika) saya untuk waktu yang lama. Rasanya nggak adil aja. Kan novel-novel Okke Rizka sudah di lemari saya lebih lama, tapi tiap saya mau review rasanya berat sekali. Pasalnya sih sepele, kalau mau nge-review saya harus baca dulu bukunya sekali lagi. Jadi feelnya dapet, dan komennya nggak sembrono yang bisa berujung protes panjang dari pengarangnya atau fansnya yang lain. Nah, kebiasaan jelek saya. Kalau uda sekali baca gaya bahasa Okke yang—sumpah—mantab abis, saya jadi ketagihan. Saya jadi mengulang-ulang paragraf favorit saya yang sama, mengulang bab yang sama, lalu membaca novel karyanya yang lain. Ujung-ujungnya makan banyak waktu dan saya ngantuk atau terlalu terbawa dengan kisah karangan Okke dan malah males nge-review. Selalu saja pola yang sama yang terjadi.

Lalu, kenapa pada akhirnya saya malah nge-review ga-gi-gu giGi duluan yang notabene tergolong masih freshman alih-alih novel Okke yang jadi favorit saya? Novel ini, saking bagusnya, dan faktor masih virgin—jamahan saya nggak diitung—artinya belum dipinjemin ke orang lain, mau saya jadiin kado ke sobat saya. Bye bye darling.. *susut umbel a la nta* *lebay*

Saya masih dalam suasana UAS—hell. Untuk lingkungan Jatim memang UASnya telat. Yang mana hal ini merupakan fakta menyebalkan karena membuat saya tidak bisa menikmati liburan bareng sepupu yang tinggal di Jakarta. Dan, oh.. skip, skip. Bloody Magda, saya melupakan hari ultah sobat saya!! Jadi ceritanya begini, saya bangun pagi—mengherankan mengingat biasanya bangun pas dzuhur—di hari Minggu yang cerah. Kemudian, dengan HIV (Hasrat Ingin Pipis) parah saya beranjak ke KM. Oh, sialnya keduluan Ibu. Oke, tunda-tunda nanti saja. Dengan setengah merem saya balik ke kamar, mau lanjutin molor lagi. Baru saja kepala nempel di bantal, Ayah buka pintu kamar dengan paksa lalu mengacungkan senjata. Beneran, saya nggak melebih-lebihkan! Ayah saya mengacungkan senapan angin ke anaknya sendiri, betapa mengejutkannya. Beliau bilang, “Ayo bangun atau ditembak, pilih mana?” biasanya sih saya di guyur air dari gayung, bukannya horor gara-gara senapan, saya malah lega karena Ayah nggak bawa gayung, mana mungkin kan tuh senapan diisi timah, jadi saya dengan santainya, memejamkan mata dan kembali tidur.

Ayah yang bosan tidak diacuhkan bersungut-sungut kesal karena ancamannya nggak mempan. Ya iyalah, siapa yang percaya Ayah perasa macam beliau mau nembakin anaknya sendiri. Bego. Jadilah saya merem untuk beberapa saat yang damai. Tiba-tiba… Byuuurr.. Oh, shit. Who’s dare.. oh, he got me. Guyuran air gayung pada minggu pagi yang biasa akhirnya datang juga. Sambil misuh-misuh dalam hati saya bangun juga. Mana betah basah-basahan gini tiduran. Dengan keki saya mandi dan ganti baju. Setelah rapi—definisi rapi disini; baby doll bersih yang sudah disetrika, niatnya mau tidur lagi sampai dzuhur seperti biasa karena mata—biar udah mandi tetep aja—berat. Tapi, seakan tidak pernah bisa membiarkan saya tenang, Ibu manggil saya untuk sarapan. Uh-oh, melihat menu sarapan pagi ini membuat nafsu makan saya yang hampir hilang musnah sama sekali. Nasi Goreng untuk sarapan, berapa banyak kalori yang terkandung di dalamnya? Kemana bubur ayam yang biasanya? Well, saya bukan tipe gadis-gadis yang suka sibuk memikirkan barometer timbangan mereka, saya hanya merasa nasi goreng adalah menu berat untuk perut sebagai sarapan. Sambil mengulum senyum kecut, saya keluar rumah, tahu tidak akan mendapat izin tidur sebelum sarapan—seperti biasanya.

Well, kalau-kalau ada yang bertanya mengapa saya terlalu sering mengetik kata “seperti biasanya” itu bermakna harfiah. Seperti biasanya, setiap akhir pekan saya akan begadang hingga jauh malam. Tertidur setelah subuhan pukul 4. Dibangunkan pukul tujuh, minggu pagi—sepulang Ayah Ibu jalan-jalan pagi—dengan guyuran gayung air. Kadang mandi kadang hanya cuci muka dan gosok gigi. Curi-curi tiduran sambil menanti sarapan pagi. Setelah selesai sarapan baru diizinkan tidur lagi hingga waktu dzuhur tiba. Seperti biasanya.

Oke, kembali lagi, sambil menanti sarapan saya keluar rumah. Tertarik menghirup udara pagi? Hell no, saya nggak tertarik menghirup aroma menusuk kotoran ayam—seperti yang saya hirup setiap pagi sebelum berangkat sekolah—dari kandang ayam kesayangan Ayah. Saya keluar bukan karena suka, saya keluar karena Ibu melarang saya menyalakan televisi—dengan adik saya yang tertidur di kasur kecil di depan TV—karena beresiko membangunkan adik—Ocha. Oh, siapa yang tidak adil sekarang? Ocha diperbolehkan tidur sedangkan saya harus menunggu sarapan? Membiarkan karbohidrat dan lemak yang dibawanya menyatu saat saya tidur, menumpuk jadi satu dan menggelambirkan bagian tubuh yang ogah saya ekspos disini? Great. Thanks Mom. Di luar saya memelototi apa saja yang bisa dipelototi. Entah itu kursi kayu jati yang kalau ditendang bisa membuat tibia dan fibula saya mengalami fraktura berganda parah, atau pohon gelondongan naga yang mungkin saja patah dan menimpa saya hingga gepeng. Sambil berharap kalau itu mungkin terjadi, saya ingin sekali bisa menendang ayam-ayam sialan itu atau memelototinya hingga hangus terpanggang. Seenggaknya dengan niat jahat ini saya bisa membayangkan masa depan yang terbebas dari polusi udara dan ceceran tahi—yang dengan sangat murah hatinya—telah ditebarkan di penjuru halaman rumah oleh ayam-ayam manis-memuakkan itu.

Ayah saya, yang entah bagaimana tanpa saya sadari berdiri di samping saya, menempelkan moncong senapan di pelipis saya. Dengan gaya sok bagai polisi-polisi tampan di film action yang berhasil menangkap penjahat-mesum-tukang-culik-anak-gadis-orang tersenyum sok keren dan berkata, “Kena kau! Anak cewek kok pagi-pagi ngeluh terus.” Saya makin maknyun.

Selanjutnya yang terjadi adalah saya diajari Ayah cara menggunakan senapan angin. Mulai dari memasukkan peluru timah, memompa senapan angin, hingga cara membidik target dengan cepat saya serap. Sekali coba saja saya bisa membidik dengan tepat—begitu juga dengan percobaan kedua, ketiga, dan keempat kalinya. Saya bukan gadis pintar atau memiliki insting kuat atau bahkan bakat dengan deskripsi serap-cepat diatas. Jujur saja, cara menggunakan senapan angin itu gampang sekali. Siapa pun bisa. Bahkan Ocha saja bisa. Jadi jangan terburu-buru menyimpulkan dulu. Senapan angin adalah senjata yang mudah digunakan, semudah menggunakan pisau.

Sarapan datang, dan saya melahap nasi goreng itu cepat-cepat sebelum berangkat tidur. Niatnya sih begitu, tapi ternyata saya lebih tertarik dengan senapan angin lebih dari yang ingin saya akui. Bukannya balik ke kamar dan tidur, saya malah menembaki pipa baja yang jadi tiang tempat Ayah menggantung koleksi anggreknya. Tidak pernah meleset—tidak sekali pun—itulah kenapa saya bilang senapan angin adalah senjata yang easy-to-use. Saya ketagihan—atau tadinya begitu—hingga akhirnya senapan angin itu macet dan tidak bisa membidik peluru. Maklum, sudah tua. Kesal, saya kembali ke kamar. Tidur sampai dzuhur.

Sorenya, saya mendapat sms dari temen. Menanyakan ide akan mengerjai sob
at saya seperti apa. Sebagian sms masuk menanyakan kapan sobat saya ultah. Wew, tanpa berdosa atau perasaan bersalah, saya segera balas, menyampaikan pada mereka bahwa ultah sobat saya masih dua hari lagi dan memberi tahu bahwa kami masih bisa merencanakan ide jahil besok siang karena saya mau konsen belajar. Ultah sobat saya bisa menanti, masih lama ini. Setidaknya, itu yang ada dalam pikiran saya sebelum saya melihat kalender.

Shit! Ultah temen saya itu ternyata besok. Bagaimana mungkin saya bisa lupa? Oh, tentu saja mungkin, itu sudah terjadi—saya lupa. Hebat.

Jadi, apa yang saya lakukan kawan-kawan? Bengong. Iya, bengong. Merasa jadi orang bego dan cengo sedunia dan merasa buruk karena melupakan hari ultah sobat sendiri. Teman macam apa saya ini? Hujan—atau tepatnya badai—derasnya minta ampun. Dan sepertinya akan berlangsung lama mengingat sudah dua jam terus menerus seperti ini. Bagaimana saya akan membeli kado? Menerabas hujan? Tindakan bodoh. Berani, ya, tapi bodoh. Resikonya saya bisa terpeleset di jalanan, atau sakit, padahal masih UAS. Yah, satu-satunya cara, cara paling kepepet yang akan saya lakukan kalau sudah sampai tahap ini. Mengaduk-aduk koleksi novel saya yang seuprit untuk menemukan sebuah novel bagus, baru—minimal masih layak—untuk diberikan sebagai kado ultah. Yeah, tahun lalu juga saya ngasih Belin koleksi novel “Bayi Biang Kerok” karya Agoeng Nadh. Bukan karena kepepet, memang saat itu saya membelinya untuk Belin. Masih baru, fresh from the oven. Kado novel juga untuk Bebek, dua tahun berturut-turut. Tapi tahun ini kado buat Bebek bukan novel, meski masih dalam kategori buku. I’ve been cursed. Kayaknya memang nasib saya ngado orang dengan jenis buku-novel ya. Okelah, nggak papa, kan penting niatnya *alasan klasik*.

Hanya saja, ga-gi-gu giGi, novel paling baru punya saya, masih belum sempet di review. Dengan mengesampingkan fakta bahwa besok masih punya bahan mata pelajaran yang akan di ujikan dalam rangka UAS, saya bela-belain buka laptop untuk mengetik review amburadul dengan EYD yang jauh dari kata “baik”. Jika di skala 1 sampai 10, pasti dapet minus 5. Menyedihkan. Saya hanya berharap tidak ada pihak yang tersinggung atau secara terang-terangan mengkritik bahwa review saya itu “buruk”, “menggelikan”, atau “menyedihkan” karena saya sendiri sudah tahu kualitasnya. Tidak perlu dinyatakan lagi *susut umbel lagi*

Untuk karya Okke Rizka (Orizuka), review menyusul. Secepatnya. Insyaallah. Doakan sajalah, amin.

Sekian sesi curhat hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s