Uncategorized

Taste Like Chicken

Saya shock!!

Kenapa kalimat pertama saya adalah ekspresi dari rasa terkejut yang amat sangat seperti itu? Well, saya nulis ini dengan tangan gemetaran saking emosinya. Saya bingung mau mulai dari mana. Oke, bagaimana jika saya runut dari awal saja. Bagi yang pernah mampir ke blog saya akhir-akhir ini pasti akan mendapati saya menulis mengenai kehidupan saya di dunia Net World, right? Jadi pasti hampir semua yang mampir ke blog saya ini akan berpikir, pemilik blog ini tidak memiliki kehidupan Nyata. Oh, get real, semua orang punya kehidupan nyata. Hanya saja, tergantung bagaimana pribadi orang tersebut. Sebagian besar yang kita kenal bersifat Ekstrovert pasti sudah menulis panjang lebar menceritakan kisah hidup mereka. Momen kecil yang berharga sehingga mereka rasa patut di abadikan dalam sebuah tulisan. Tapi tidak semua orang pintar menulis, dan tidak semua orang gemar menceritakan kisah pribadinya. Terutama, tidak semua orang berpikiran kisah hidupnya menarik sehingga tidak yakin akan ada orang yang mau membaca kisah hidupnya. 

Contohnya saja saya. Saya jenis orang yang susah sekali curhat. Banyak sekali alasannya. Pertama, sifat saya yang introvert. Sedikit tertutup dan indivisualis. Sehingga saya tidak ingin urusan saya di campuri orang lain, dan orang lain tidak perlu tahu. Tentu saja, saya juga tidak mau tahu urusan orang lain, dan tidak berminat sedikit pun untuk mencampurinya, terima kasih. Kedua, saya rasa saya tidak punya kehidupan menarik untuk di ceritakan. Ini yang paling utama sebenarnya. Jika saya sudah tidak menyukai sesuatu, saya susah mengajak orang lain untuk menyukai sesuatu juga. Rumus ini sebenarnya berlaku untuk semua orang, tidak hanya saya saja. Ketiga, saya tidak punya tips&trick, kata-kata indah, pesan moral, pengetahuan, hot news, whatever you name it, untuk di share di blog. Oke, see? Lalu, kenapa saya buat blog kalau saya uncommunicative? Easy, dear. Saya hanya sekedar nyoba. Saya hanya sekedar ingin tahu bagaimana rasanya memiliki blog, karena jujur saja, sejak kelas 2 SMP saya sudah mulai bosan dengan yang namanya Friendster. Saya rasa, bisa dibilang, sudah tahu seluk beluk friendster, dan detil-detil kecil lainnya, sehingga saya mulai bosan dan ingin memulai sesuatu yang baru. Blog! Yeah, pertama kali saya tahu blog juga akibat browsing kesana kemari, dan seakan mendapat mainan baru, saya mulai masuk ke dalamnya. Mungkin setelah saya tahu seluk beluk blog—mulai dari setting, layout, coding, dst—saya akan segera bosan dan beralih ke hal menarik lainnya.

Alasan lainnya adalah, yah, seperti ini. Saya isi dengan curhatan hati pilu, atau riak kemarahan, serta gelombang emosi tak berkesudahan. Istilah kerennya, tong sampah. Buang urat leher. Buang teluh sembelit. Buang leak busuk. Buang.. oke, jika saya teruskan tak lama lagi topik akan segera memasuki area TPA (Tempat Pembuangan Akhir). So, setelah pembukaan panjang lebar di atas (sudah sifat jelek saya untuk berbelit-belit dulu sebelum memasuki inti) saya ingin mengatakan sesuatu:

SIALAN KAMU SOBAT!!!

Oke, oke. Saya minta maaf kalau lupa dengan batasan sensor. Dan buat anak di bawah umur, silakan pergi dari entri ini sebelum menemukan tambahan kosa kata tidak benar dan tidak valid yang dapat merusak moral serta jiwa suci penerus bangsa. Get The Hell Out Of Here. Peringatan ini juga berlaku bagi mereka yang tidak ingin moodnya dirusak oleh aura jengkel serta makian saya. (Konon kata orang tua, aura jahat saya bisa bikin sembelit 7 malam bagi yang tidak sengaja terkena virusnya). Hmm.. lebih tepatnya, kalian akan mati bosan dengan cerita tanpa akhir ini. Lebih baik pergi saja. Tidak usah baca entri tidak mutu ini.

Kembali ke topik, SAYA SHOCK!!

Well, mungkin setelah membaca habis entri ini, beberapa orang akan misuh-misuh karena masalah yang di bahas dalam entri ini terdengar sepele dan ecek-ecek cemen. Oke, whatever you say, honey. Ready to have it, or you better leave it. It’s up to you. No one asking you, anyway. Go to Hell, yeah, you!!

Jadi, kisah berawal dari salah seorang sahabat saya. Kami bersahabat sejak kelas 3 SMP. Kami bertiga—saya, Bebek, dan Muzz-muzz—jadi akrab karena selalu satu kelompok. Sejak dulu, diantara kami bertiga, yang paling aktif membangun suasana adalah si Bebek—that’s why she’s called that way—yang paling cerewet dan dasarnya suka banget curhat masalah ini itu. Dari yang nggak penting sampai genting. Nggak peduli kalau yang dicurhatin bete atau dilanda kebosanan luar biasa. Dan yeah, selama dua semester kebersamaan kami, yang di bahas nggak jauh-jauh dari masalah cowok, dan tebak, cowok yang sama. *Rolling eyes* *sigh*

Bebek ini akan bercerita mengenai, yeah. Temen SDnya bernama “D” yang ditaksir sejak dulu, yang dia anggap cowok paling oke sejagat raya, dan nggak peduli sebrengsek apa pun cowok itu sekarang, Bebek tetep cinta mati sampai saat ini. Saya dan Muzz-muzz hanya bisa memberi komentar pasrah yang sama seperti yang sudah-sudah, dan Bebek kembali berceloteh mengenai hal yang sama dalam sehari setidaknya dua kali. Kalau denger dari kisahnya, kamu pasti akan membayangkan “D” itu sosok cowok perfect, perhatian, cakep, berkharisma, pintar, dan yang baik-baik lainnya. Oh, like I cares. Kisah Bebek mulai sampai tahap seru ketika “D” yang sudah lama tidak ia jumpai menelepon ke rumahnya dan berusaha menjodohkannya dengan temannya, si “R”. Tapi si Bebek, akunya, tidak peduli dengan “R” yang berusaha mengajaknya bicara. Ia hanya berfokus pada “D”. Baginya, selama “R” menelepon tiap malem minggu, berarti “D” juga akan ada disana. Ia tidak peduli dengan segala celoteh berbunga-bunga penuh cinta dari “R”, yang ia inginkan hanyalah “D”. Seorang “R” hanya dimanfaatkan, kasihan. Saya dan Muzz-muzz yang mendengarkan romansa yang di dramatisir harus tersiksa mendengarkan cerita dan kisah yang sama berkali-kali setiap hari, dan dalam hati diam-diam merasa kasihan pada “R”. 

Suatu ketika saya menanyakan, sebagus apa sih “D” sampai-sampai Bebek cinta mati segitunya? Bebek pun menjawab;

  • Tampangnya tidak cakep (Oke, minus besar dalam penampilan, cek).
  • Sekolah di tempat tidak elit (oke, jauh dari kata pintar, dan begitu saya dengar nama tempatnya bersekolah, eugh, bukannya saya tipe orang yang mendiskriminasikan seseorang dari tempat mana dia berasal, tapi, itu sudah jadi lubang besar dalam daftar saya, minus panjang).
  • Suka mabuk-mabukkan (See? Sekolah tempat anak-anak rusak, sudah pasti “D” bukan anak baik-baik).
  • Suka ngomong kasar dan bentak-betak Bebek via telepon (Jerk, tidak ada yang lebih buruk dari pemabuk berotak kosong dan tidak beretika yang hanya bisa main kasar. Sudah tahu sifatnya begitu Bebek masih nekat mengharapkan jadi pacarnya “D”. Huh, dasar Sinting).
  • Punya pacar (Apa yang Bebek harapkan dari cowok orang lain?).
  • Terakhir kabar yang saya dengar, si “D” di DO dari sekolah (Perfect, lengkap sudah daftar hitam saya!).

Dan mau tahu apa respon si geblek Bebek ini? Tampang bukan masalah katanya. Dia lebih suka personality si “D” yang katanya—dulu, saat masih SD—satu-satunya anak cowok yang paling cocok dengannya. Oh, yeah.. makan tuh mimpi!! Masa lalu di bawa-bawa. Berapa tahun beda masa SD dengan sekarang? 5 tahun, bego!! Angan-angan palsu aja yang dibawa. FYI, Bebek ini tahu kabar si “D” lagi setelah lulus SD adalah saat kami duduk di bangku kelas 3 SMP dan via telep
on. Which means, he doesn’t really exist for about the past 3 years!! Tapi sosok zaman SDnya si “D” masih tetep di hati Bebek. Bayangkan apa yang bisa terjadi dalam waktu 3 tahun? Banyak!! Dengan pergaulan yang salah, sudah bisa dipastikan si “D” terjerumus hal yang nggak benar. Maaf, bukannya su’udzon, ya, tapi, si “D” sendiri ngaku kalau sudah mabuk-mabukkan dan ngerokok sejak awal masuk SMP. See? Tahukah bagaimana perasaan saya ketika mendengarnya? Urat leher saya langsung tegang! Dan via telepon? Oh, lain di mulut lain di mata. Siapa yang tahu si “D” dan si “R” nggak sedang mesra-mesraan dengan cewek lain saat nelepon Bebek, eh? Suka bentak-bentak sambil ngomong kasar pula. Kalau masih temenan saja sudah berani kasar apalagi waktu pacaran nanti? Mau di mutilasi, huh? Gila!!

Bebek adalah orang paling sinting, keras kepala, dan susah di kasih tahu yang pernah saya kenal. Tidak peduli berapa kali pun Bebek di sakiti si “D” ketika Bebek ketahuan sama sekali nggak tertarik dengan sahabatnya (si “R”), dan masih suka pada si “D” sendiri. Bebek pasti akan cerita sambil tersedu-sedu dan dramatis pada kami berdua (saya dan Muzz-muzz). Muzz-muzz yang malas berurusan dengan hal semacam itu dengan tegas menolak membicarakan itu dengan Bebek. Sisanya hanya saya. Sebagai sahabat yang baik dan peduli, tentu saya mendengarkan, meski dilanda kebosanan setengah mati karena Bebek mengulang cerita yang sama minimal dua kali sehari, dan dua minggu penuh, bahkan berlarut-larut hingga tahun berikutnya. Berkali-kali saya menasehatinya, karena dia sendiri yang minta, berkali-kali juga saya memberikan pendapat, karena dia juga yang minta. Tapi dia seakan tidak pernah sadar bahwa dia sudah menceritakan hal yang sama ratusan kali, saya juga memberikan saran dan pendapat yang sama ratusan kali. Hingga suatu ketika, semua memuncak, Sampai pada titik klimaks dimana saya sudah tidak tahan lagi!!

Ini terjadi ketika kami memasuki SMA yang sama namun di kelas yang berbeda. Sedangkan Muzz-muzz sekolah di SMA lain. Saya berhasil membuat Bebek mematahkan SIM CARDnya agar “D” maupun “R” berhenti menganggunya (yang artinya Bebek bisa berhenti mengganggu saya). Dua-tiga minggu berjalan dengan baik, dan saya bisa tahan dengan keluhan “kangen” dan “sakit rindu” kepada “D” dari mulut Bebek. Oh, beberapa waktu sebelumnya, Bebek kenalan sama cowok lain dari sekolah dekat sekolah kami, ambil saja namanya “P”. Dari cerita yang saya dengar, “P” ini kriterianya masih lebih baik dari pada makhluk sebelumnya. Okelah buat saya kalau Bebek suka sama “P” ini. Walau kemudian “P” membuat Bebek sakit hati, sehingga saya memutuskan cara ekstrim itu (memutuskan kontak dari “P”, “D” dan “R” dengan mematahkan SIM CARD). Berhasil untuk beberapa saat, Tapi ternyata, secara diam-diam, Bebek memberikan nomer hpnya yag baru kepada “P” karena tidak tahan. Dan entah bagaimana si “D” dan “R” bisa mendapatkan nomer Bebek yang baru!!

Holy Crap!! Setan memang tidak kemana-mana ya. Kembalilah Bebek berkontakan ria dengan mereka bertiga. Oh, selamat bersenang-senang deh, dengan mereka, saya malas ngurusin makhluk keras kepala satu itu. Sudah saya kasih solusi terbaik tapi pada akhirnya Bebek kembali ke jalan sesat bersama makhluk-makhluk sesat. Saya tidak mau tahu. Resmi saya putuskan untuk marah pada Bebek. Tidak mengacuhkannya, jika ia sudah mulai berbicara mengenai tiga cowok itu. Saya malas. Kenapa? Karena Bebek masih menceritakan hal yang sama dan meminta pendapat serta saran dari saya, Yang Mana Pastinya Sama Saja Kayak Saran Saya Selama Setahun Belakangan Dodolz!!

Sejak itu hubungan kami mulai renggang. Saya memang menjauh. Tapi tidak sepenuhnya, saya masih tetap individualis dan malas bergaul dengan murid lain. Tidak mau berusah payah dekat dengan salah satu dari ratusan murid SMA seperti beberapa anak perempuan yang mulai nge-geng atau nge-blok sesuka hati. Saya masih ada kalau Bebek mau curhat, tapi saya dengan jelas mengatakan tidak mau mendengar kisah cowok-cowok itu lagi. Begitulah, akhirnya Bebek mulai di sibukkan dengan kegiatan Teater, sekolah, dan cowok-cowoknya. Saya sendiri, menikmati kebebasan individual yang jarang saya dapatkan di sela aktivitas menjemukan sekolah. Kemudian, saya di hadapi suatu pernyataan mengejutkan dari mulut Bebek.

BEBEK. Jadian. Sama. Si “R”. Sejak. Hari. Minggu. Dan. Baru. Memberitahu. Saya. Hari. Kamisnya.

WHAT THE DAMN HAPPENNED!!

BRENGSEK!!

BEGO. SINTING. TOLOL. DUNGU. MAKAN TUH PTK!! 

Wajah saya biru ungu saat menerima sms pengakuan Bebek di jam terakhir mata pelajaran Kimia. Tangan saya gemetaran hebat saking marahnya. Segini murahnya kah saran saya? Perhatian saya? Perlindungan saya? Selama setahun berteman dengan Bebek. Ratusan wejangan dan puluhan jam yang saya luangkan untuk mendengar kisah picisan dramatis yang sama berulang kali, untuk Bebek? Di balas dengan kelakuan super bodoh nan nista dari Bebek? Saya sangat marah. Sakit hati. Ingin tertawa. Dan merasa dilecehkan dalam waktu yang sama. Bebek Goblok. Itu hal pertama yang terlintas dalam benak saya dan dorongan untuk meneriakkan makian itu saat Guru sedang menjelaskan mengenai Kesetimbangan Reaksi begitu kuat. Bibir bagian bawah saya sampai robek karena saya menggigitnya kuat demi menahan dorongan ingin berteriak histeris. Saat itu saya sedang diare, pula. Perut sakit, kepala pusing, badan lemas. Seketika pandangan saya gelap seperti mau pingsan. Shok sekali, sangat shok. Akan lebih mudah jika saya pingsan sekalian.

Saya meringis membayangkan masa-masa saya meminjamkan buku-buku islami mengenai larangan muslim untuk berpacaran. Buku-buku penuh kutipan hadis qur’an akan dosa-dosa yang diberikan pada hambanya jika berdekatan dengan yang bukan muhrim. Bukannya saya melarang Bebek pacaran, tidak. Saat itu kami berada di tahun terakhir SMP, menjelang ujian dan tidak tahan Bebek lebih memikirkan cowok daripada belajar. Buku-buku itu hanya untuk mengeremnya saja. Yang ternyata tidak berhasil karena buku itu teronggok begitu saja di lemari Bebek selama berbulan-bulan tanpa di baca. OH, my, my

Sambil menahan hasrat ingin ke KM, saya tinggal di sekolah lebih lama karena kebetulan akan menonton kelas saya bertanding bola. Sambil menunggu Bebek selesai dengan kegiatan teaternya, saya mengobrol dengan salah sahabat saya yang lain yang sekelas dengan Bebek. Belin tidak mau bercerita lebih banyak karena merasa itu bukan haknya. Saya mengungkapkan perasaan saya pada Belin. Yang mana jarang sekali saya lakukan (curhat, maksudnya).

Di antara ketiga sahabat saya (Bebek, Muzz-muzz, Belin), saya paling terbuka dengan Belin. Saya hanya bisa curhat dengan Belin, karena hubungan saya dengan Belin ada timbal baliknya. Jika bersama Belin, saya bisa bercerita panjang lebar dan Belin akan melakukan hal yang sama dengan porsi yang sama. Tapi dengan Bebek sudah lain cerita. Bebek akan menyerocos tanpa henti tanpa menyadari perasaan saya ketika mendengarnya. Dan begitu saya mulai bercerita—baru intronya saja—ia sudah menunjukkan raut bosan dan segera mengalihkan pembicaraan kembali mengenai dirinya lagi. Berat sebelah. Untuk Muzz-muzz, sifat muzz-muzz yang sedikit tertutup membuat kami susah menjalin komunikasi, tapi muzz-muzz setidaknya bisa mengimbangi saya. 

Dan tahukah saudara-saudara. Alasan Bebek menerima lamaran “R”?

Semua ternyata atas dasar “penasaran”, “pengen tahu”, dan “pengen coba”!!

Hell.
Berapa banyak generasi muda yang terjerumus jerat narkoba karena rasa “penasaran”, “pengen tahu”, dan “pengen coba”? Ribuan!! Begitu juga dengan jerat setan yang dosanya tidak bisa mencium bau surga karena berzina—pacaran. Yang lebih menyedihkan lagi, Bebek menerima lamaran “R” via telepon!! Bayangkan, via telepon. Rawan sekali saudara-saudara. Kenapa saya bilang begitu? Karena kita tidak tahu bagaimana rupa seseorang lewat telepon. Yang mana perasaan seseorang bisa ketahuan lewat pancaran wajah, binar mata dan gerak tubuh. Seharusnya Bebek yang paling tahu hal itu, dia yang ikut teater, bukan saya!! Jadi, kenapa masih bisa Bebek melakukan hal itu? saya yang punya daya ingat lemah saja masih ingat berulang kali saya menasehati Bebek agar tidak percaya dengan pernyataan lewat telepon.

Siapa yang tahu kalau “R” hanya menjadikan hal itu sebagai lelucon, atau taruhan, di seberang telepon? Bebek mana mungkin tahu, ya kan? Di atas itu, orang tua Bebek adalah orang tua religius. Lebih religius dari pada orang tua saya. Keluarga yang lebih religius dari keluarga saya. Tapi kenapa Bebek bisa berpikiran seperti itu, disaat orang tuanya melarang anaknya pacaran? Saya saja tidak nafsu-nafsu amat pengen punya pacar, padahal orang tua saya welcome banget dengan segala kemungkinan. Nauzubillahiminzalik. 

Saya tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Saya benar-benar kecewa dengan tindakan Bebek. Belakangan ia sms dan bilang ia merasa bersalah telah menerima “R” dan pengen putus, yang langsung saya dukung penuh. Namun, urung ia lakukan karena merasa kasihan dengan “R” yang sudah mengejar-ngejarnya tanpa henti sejak dua tahun belakangan. Tahu tidak apa akibat menerima cinta seseorang atas dasar kasihan? DOSA BESAR!! Karena Bebek hanya akan menyakiti hati orang lain dan yang lebih parah menyakiti diri sendiri karena terpaksa bersama dengan seseorang yang sebenarnya tidak ia sukai.

Tuh, kan, lihat sendiri betapa keras kepalanya Bebek? Berapa kali pun saya tarik urat menyuruh Bebek untuk putusin “R” sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang lebih besar dari sekedar status ‘pacaran’. Bebek tetap saja keras kepala, sama seperti dulu-dulu. Tidak pernah berubah. Akan lebih mudah jika Bebek bilang dia memang suka dengan “R” dan mau pacaran dengannya (atas dasar suka), tapi nggak perlu dong sengaja bilang pengen putus segala hanya agar suasana hati saya membaik. Yang ada saya malah makin khawatir. Kenapa dulu-dulu saya tidak pernah setuju Bebek dengan “R”? sudah pasti karena cowok-cowok itu pembawa masalah. Belum pacaran saja masalah yang ditimbulkannya banyak sekali, apalagi kalau berpacaran? Hanya Allah yang tahu. Saya tidak ingin tahu. Saya nolak keinginan Bebek juga karena saya ogah diseret-seret kalau Bebek kena masalah lagi. Saya capek, jujur saja.

Dan, OMAIGAD. Saya harus bagaimana sekarang???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s