Uncategorized

Hikayat Nama Oky

5 Desember 2008 (catatan: tanggal post tidak pengaruh dengan tanggal disamping karena entri ditulis dalam keadaan offline)

Begini saudara-saudara. Saya ini anak cewek yang terlahir dengan nama cowok. Well, bukan berita baru lagi, memang. Banyak cewek di namai dengan nama cowok atau sebaliknya. Tapi tetap saja mengganggu kenyamanan masyarakat sana. Sedikit banyak, saya akan bercerita mengenai susahnya punya nama Oky ini.

Bahkan dalam proker atau proposal kegiatan panitia apa pun yang saya ikuti berkali-kali di tolak kepsek gara-gara temen saya salah nulis nama saya. Nggak ada yang tahu nama panjang saya (pada males nanya juga, mereka yakin amat nama panjang saya–padahal salah–itu). HOHOHO… geblek!! Dan “Okky” btw, itu juga salah lho, nggak Cuma Nta. Temen sekolah sering juga pada nulis Okky alih-alih Oky. Saya mah udah biasa dengan ini. Nggak ada masalah. No problemo.

Nah, selama idup saya juga tenang-tenang aja semisal guru baru ngabsen lalu sampe ke nama Oky, pasti mata tuh guru jelalatan nyari tangan ngacung dari bangku anak cowok. Dan terbelalak heran lalu mahfum begitu menemukan anak cewek kecil, pendek, item yang ngacung. Menjengkelkan pada awalnya, tapi lama-lama saya terbiasa. Dan saya tidak pernah mempermasalahkan kesalahan dalam penulisan nama. (e.g. Oky jadi Okky).

Pernah juga suatu ketika saya bergabung dengan klub bola voli (penulis sekali lagi lupa nama klubnya sehingga tidak bisa memberikan bukti konkrit) di luar sekolah sewaktu duduk di bangku SMP. Disana tidak hanya anak SMP saja yang menjadi anggota. Banyak yang sudah bapak-bapak malah. Nah, disinilah lucunya. Tiap minggu pagi pasti ada latihan gabungan (dari anak kecil bau permen, remaja banyak jerawat, dan bapak-bapak tekak serta ibu-ibu berlemak). Disana, saudara-saudara, banyak anak cowok usia 15+ dari golongan remaja yang bernama Okky. Saya hitung sejak pelatih meneriakkan nama pemain untuk men-smash bola, ada lima anak cowok yang bernama Okky. Gila!! Nama Okky ternyata pasaran sekali =)) *ngakak konyol* Dan tiap ada yang meneriakkan nama Okky dari berbagai penjuru lapangan saya pasti menoleh dengan dahsyat. Pulangnya, leher pasti penuh koyo karena leher saya kejang kebanyakan nengok. Okelah, kejadian itu berlalu. Saya menikmati masa tenang selama tiga tahun. Hingga takdir menjungkirbalikkan leher saya lagi.

Naik ke kelas dua tahun ini saya kena cacar di awal tahun ajaran. Seminggu nggak masuk kelas membuat saya ketinggalan jauh—bukan dalam pelajaran, kalau itu sih siapa yang peduli—dalam hal bergaul dengan teman baru. Nah, pertama masuk kelas, saya di kagetkan dengan sosok tinggi besar dan terkenal nakalnya. Mr. Okky, hell yeah. Ituh, ada yang ngembarin nama saya. Sialan,dasar tukang contek nama!! *padahal okky cowok yang lahir duluan*

Mari kita sambut, Okky Dwi Astanto, great!

Ituh, Okky Dwi ituh, temen satu SMP saya. Beruntunglah selama SMP kami nggak pernah sekelas, jadi saya adalah pemegang tunggal nama Oky dalam setiap kelas. Tapi kok, hei, goblok banget sih tuh yang nyusun daftar murid tiap kelas!! Kok bisa-bisanya tega gitu sama kami. Dua tahun, boi. Saya akan sekelas dengan Okky selama dua tahun. Damn it. Tuh orang sakit yak? Sinting! Saya sudah pengen protes saja sama yang nyusun. Kalau perlu saya pindah kelas sekalian deh, saya bukannya males sekelas sama Okky, tapi ada satu orang cecunguk: musuh dalam selimut, karang di gusi bagian dalam, kutu dalam air, dan.. apalagi yah, pokoknya, tuh orang-nyebelin-banget-dan-saya-berdoa-siang-malam-supaya-nggak-sekelas-lagi-tapi-apa-mau-dikata-emang-sudah-nasib yang males saya sebut namanya. Cunguk satu itu, ugh, kadas, kurap, jah, cacing kremi sialan, saya ogah sekelas lagi. Tapi lagi-lagi nasib. Gara-gara cacar nista, saya kehilangan kesempatan untuk pindah kelas. Terpaksa, nasib tiga tahun sama cecunguk. Semoga Allah memberikan kekuatan hati dan perlindungan pada hambanya yang susah ini, Amin.

Jadilah, prens. Selama satu-dua minggu, saya sabar saja nengok sedemikian rupa sampai urat leher ringsek begitu ada yang manggil nama saya—kami—hingga radang tenggorokan. Hebat sekali efeknya, sampai bikin saya radang. Applause to my name. Dan ini berlanjut, tapi saya kian sabar karena ini ujian. Ujian batin dan ujian kesabaran. Perlahan saya mulai bisa mengacuhkan panggilan-panggilan. Tapi itu tidak membuat segalanya mudah. Asal tahu saja, segalanya segera menjadi makin menyebalkan.

Pertama, Kesalahan penulisan nama. Dia “Okky” dengan dobel “k”, sedangkan saya “oky”. Kami—saya dan Okky—sering kesulitan jika ada panggilan (maksudnya, panggilan kegiatan acara, panitia ini-itu, dsb). Pernah dia nyasar ke ruang guru dan terlibat perdebatan panjang tak berdasar dengan salah satu guru karena salah panggil. Kembali ke kelas dengan wajah kusut masai dan misuh-misuh. Ternyata saya yang di panggil. Buakakaka… kasihan Okky. Atau kasus dimana kami berada dalam panitia kegiatan yang berbeda tapi waktunya sama (karena itu rapatnya sering bareng). Nah, disinilah yang sulit. Karena kami hanya “kadang-kadang” saja rapat gabungan. Kalau misal rapat timnya sendiri-sendiri, otomatis panggilannya jadi nggak jelas. Pasalnya semua selalu menulis nama “Okky”—tak perduli itu okky cowok atau oky cewek—pada surat panggilan. Jadi terkadang, demi menghindari kesalahan panggilan, kami berdua berangkat bersama-sama ke tempat yang tertulis. Jika ternyata yang rapat tim A, maka Okky harus kembali ke kelas dengan wajah malas, atau saya yang harus kembali ke kelas dengan wajah malu. Tidak enak pada guru. Lama-kelamaan kami jadi malas. Sering nggak dateng memenuhi panggilan karena nggak jelas sapa yang di panggil.

Kedua, kami memiliki beberapa persamaan lain. Sama-sama cadel (nggak bisa melafalka huruf “R” dengan jelas) dan memakai kawat gigi (bedanya sekarang kawat gigi saya sudah dilepas). Ini dia yang paling menyebalkan. Kami berdua sering kali di ejek gara-gara persamaan tidak disengaja ini. Ugh, kurang kerjaan yah ini anak-anak. Kalau lagi nggak ada bahan obolan seru, pasti deh mulai nyela-nyela kami. Kalo saya sih stay cool. Makin di tanggepi makin senang mereka. Tapi Okky ini bukannya marah, dia juga nggak stay cool mencontoh teladan saya. Nih anak malah seneng di ejek. Imbasnya kena ke saya, dia selain ikut mengejek diri sendiri juga ngejek saya. Mau nggak mau saya keseret dunia pengejekan tiada habis itu. Dua tahun, boi. Tega nian dirimu itu.

Ketiga, nickname. Listen carefully *iya saya tahu ini baca, ngikut ajah nape*. Biasanya, seorang guru itu baru berhasil mendapat tempat di hati para muridnya jika ‘dinamai’ atau dapat panggilan unik. Entah itu kesannya jelek atau bagus. Pokoknya, bagi para guru, itu merupakan suatu keberhasilan dan kebanggaan terbesar. Karena dengan nickname itulah mereka akan di kenal sepanjang hayat, sudah pasti, kita para murid akan lupa siapa nama aslinya (terutama buat orang macam penulis). Yang teringat pasti nicknamenya saja, kayak saya, lupa sama sekali dengan nama asli guru ekonomi saya waktu SMP. Yang saya ingat hanyalah nickname “Nomos” karena bibirnya maju. Saya bahkan lupa apa singkatannya. Yang teringat hanya “Nomos” (tentunya, semua sudah tahu bahwa ingatan penulis tidak bisa diandalkan). Nah, kembali ke topik. Sa
ya juga dapat panggilan unik, saudara-saudara. Itu lebih disebabkan temen saya iseng saja. Kan kalau manggil biasanya “Ok, Oky!” Nah, dikarenakan temen saya itu dulunya sekelas sama Okky cowok, dia uda kebiasaan manggil “Okky” dan merasa aneh memanggil nama yang sama ke orang yang berbeda. Jadilah, tiap hari dia manggil saya “Ok. O, Ok!!” (baca: o’ok). Ah, brengsek!! Sinting apa! Nggak enak banget di dengernya. Misal kita lagi di pasar yang ramai, trus kami terpisah saat menyebrang jalan. Dia yang di sebrang jalan manggil saya, “O’ok! Woi, O’ok!!” Arrghhh… memalukan! Orang yang denger, meski kenal pun akan mengernyitkan dahi karena definisi dari “O’ok” adalah blo’on atau idiot. Bisa jadi sindiran atau ejekan yang kasar sekali. Bayangkan bagaimana perasaan saya? Dongkol, dongkol setengah mati!! Sumprit!

Keempat, joh, saya lupa. Gara-gara keasyikan chatting sambil ngeblog saya lupa mau nerusin apa. Padahal kalo di itung, tadinya ada empat hal menyebalkan lho, guys. Penyakit pelupa saya kumat lagi. Maap yak, lanjutin kapan-kapan kalau udah inget lagi  *berlalu sambil di lempar mangga* *tangkepin dengan riang*

Yang lebih parah, hikmah dari itu semua adalah asas biasa. Asas kebiasaan. Karena biasa adalah racun paling menghanyutkan. Pelan-pelan digerogoti perasaan terbiasa sampai mati sehingga sulit menghilangkannya. Itu yang terjadi pada saya. Saya terbiasa dengan ejekan “cadel”, terbiasa dengan panggilan dari kegiatan yang salah kaprah itu, Saya jadi terbiasa mengacuhkan panggilan “Okky” karena terbiasa dipanggil “O’ok”  ini yang paling menyedihkan. Saya terbiasa.

Lalu.. apalagi sih yang mau saya bahas dalam hikayat nama Oky? Entah bagaimana kata-kata dan ide awal saya menguap terbang. Lain kali sajalah *mengulang paragraf lalu* Pokoknya, sekian dulu. Saya permisi. Mood saya sudah ilang. Daripada saya nulis bertele-tele yang OOT, saya pergi duluan ajah. *melenggang anggun kembali ke sarang*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s