Uncategorized

a lil’ story from my past…

Udah lama banget semenjak terkahir kali update blog ini. Kangen, jelas. Tapi bingung mau bahas apa. Mending bahas semua yang uda terjadi belakangan ini dan beruntung file-filenya masih mengendap dalam kepalaku. Huehehe…

Disusun berdasarkan urutan kejadian yang terlintas dalam kepala aja yah. Bahas apa aja deh. Omong kosong semua isinya. Kalau males, mending langsung lewatin post ini aja deh. Cari blog dengan isi yang lebih berkualitas (artinya bukan blog ini… klik tetangga sebelah). Fufufu…

Pertama
Sabtu lalu, 9 Agustus 2008. Ada tamu yang datang dari jauh. Namanya siapa ya, lupa aku. Pokoknya ibu-ibu, anaknya seumur aku. Oke, lebih tua anaknya setahun sih, tapi kita seangkatan. Ibu-ibu (tante, red) itu, tetangga aku dulu waktu di Samarinda, Kalimantan Timur. Yeah… aku nggak inget. Soalnya, aku di sana baru umur 4-5 tahun, kayaknya, aku uda Lupa!! (kalian bakal menemukan kata-kata “lupa” dalam blog ini). Entah dalam rangka apa, dia dateng kesini (Madiun, red). Yang jelas, siangnya uda telepon mau mampir ke rumah. Karena sepertinya di kasih petunjuk lewat telepon nggak ngerti-ngerti, akhirnya Ayah jemput entah dimana pake motor.

Setelah sampai dirumah (waktu itu jam 5 sore), tante itu langsung cipika-cipiki dengan ibuku. Aku langsung mengunci diri dikamar. Yeah, perlu diketahui, aku males banget nerima tamu-tamu. Terutama tamu yang nggak aku kenal (kasus ini sih karena aku lupa ma orangnya). Biasanya aku bakalan gugup dan gagap atau malah diem aja. Nggak bisa bales obrolannya, malah nggak nyambung jadinya. Daripada mempermalukan diri sendiri, aku pilih nggak ikut gabung. Ini selalu terjadi pada setiap tamu yang datang. Antisosial, I know.

So, aku nyetel vcd Smallville season 3 dari laptop. Dengan suara superminimum, jadi tamunya nggak bakalan sadar kalau ada makhluk idub di dalam kamar. Biasanya sih, sikapku ini bakalan di biarkan aja. Nggak bakalan di marahin, karena tamu-tamu itu biasanya kan tamu untuk orangtuaku (Ya iyalah). Oke, yang jelas aku punya masalah dengan kehidupan sosialku. Puas? Ini lebih karena aku punya pikiran individualitis yang tinggi. Dalam arti lainnya, cuek; ga perhatian terhadap lingkungan sekitar; males bergaul (bukannya nggak bisa); cukup puas dan nyaman dengan kehidupan sendiri (dalam arti harafiah, bener2 sendirian).

Bener kan indivdualitis? Soalnya aku risih sama anak-anak cewek, kalau mau ijin ke toilet aja rombongan. Nggak praktis banget sih? Mending kalau toiletnya itu merangkap spa, salon, ada stan meni-pedi atau kantin sekalian. Emang di toilet ada apa lagi selain cairan kuning dan yang kuning-kuning lainnya coba. Merepotkan. Mending sendirian aja. Keluar kelas, masuk toilet, buang hajat, pasang kancing rok, cuci tangan, lap tangan sampe kering, selesai. Balik lagi deh ke kelas. Dijamin, nggak sampe lima menit. Lha itu.. cewek2, jalan dari kelas ke toilet aja ngabisin waktu 2 menit sendiri, pake ngobras segala sih. Sampai di toilet masih aja sempet-sempetnya haha-hihi, ngeggosipin si itu-si anu, sampai ngerjain PR segala (ebuset). Ini yang bikin males. Toilet yang berubah fungsi jadi mengganggu fungsi utamanya. Rasanya sebel banget tahu.

Ini pengalaman pribadi. Tiap pagi selalu minum 3 jenis minuman sebelum berangkat ke sekolah. Air Putih (abis makan), lanjutin susu, lalu teh (biar nggak seret). Nah, walhasil aku jadi beser tiap pagi. Salahkan ibuku *lirik keki ke ibu*. Pagi-pagi, ijin ke toilet. Karena udah biasa ijin beser tiap jam pertama, jadi dengan tulus ikhlas para guru mempersilakan diriku untuk pergi, “Ya, mbak. Langsung aja.” kata guru2 begitu aku berdiri dari kursi. Bahkan aku belum sempet buka mulut buat minta ijin.

Sampai toilet, aku malah nemuin arena besar para biang gossip dikelilingi para gadis dengan napsu mendengarkan berita-berita hot, berita miring, sampe berita tentang pak kebun yang dapet panu semalem. Mau tahu berita terhangat tentang sekolah? Datangi aja toilet sekolah masing-masing. Aku paling males denger cewek-cewek ngeggosip. Ngobrol tentang hal-hal nggak penting gituh? Mending tidur aja deh. Yang nge-bete-in, ini cewek2 ngeggosipnya sambil nunggu giliran beser (nggak cuma aku aja yang beser pagi-pagi gini, sedikit melegakan). Jadi, antriannya makin lama, lha mereka ngobras dulu sebelum masuk bilik. Udah gitu, toiletnya kan kecil, cewek2 ada banyak, jadi sumpek banget. Aku sampe kejepit di pojokan deket kain pel (iiihh..). Sampai-sampai aku takut beser duluan sebelum sampai toilet. Dalam hati, aku uda maki-maki tuh cewek2 kurang kerjaan. But, thanks to them karena bikin aku ketinggalan 20 menit pelajaran trigonometri. Great, jaminan nilai do re mi fa sol buat ulangan. Sampai kelas, guruku uda ngelihat aku sambil senyum2. Karena nggak ngerti, dengan pedenya aku duduk di kursi.

Guru: “Tumben lama, kebanyakan isi ya tadi pagi? Lain kali kasih saya surat ijin dulu sebelum BAB.” *senyum2 ga jelas*
Aku: “hah?” *pasang tampang blo’on karena nggak ngerti*
Anak-anak: *ketawa ngakak sambil mukul-mukul meja*
Aku: *sadar setelah bbrp detik, wajah uda merah, gugup, balas memberi jawaban bodoh* “Err.. iya deh kapan2, pak.”

See? Salah aku dimana coba? Yeah, ini lebih baik di sebut kesialan karena berada dalam waktu dan tempat yang salah. Contoh lainnya,di mall. Pernah nggak ketemu sama anak ABG yang jalan-jalan ke mall sendirian? Khususnya anak cewek. Pasti nggak. Mereka pasti bakalan pergi bareng temen-temen, pacar, atau ortu. Kenapa sih repot amat. Kenapa kemana-mana harus bareng orang lain? Ini menunjukkan betapa kita sangat tergantung pada orang lain. Pernah nggak mikir bahwa belanja sendirian di Mall itu bakalan selesai lebih cepet dan nggak merepotkan? Well, aku mulai terdengar seperti nyari-nyari alasan karena sering ke toilet dan jalan2 ke mall sendirian. I’m Not. Ini masalah personal. Aku males bareng ma yang lain karena itu merepotkan. Lebih praktis dan nyaman sendirian. Bisa dibilang, bukannya aku nggak ada teman atau nggak ada yang mau temenan sama aku, itu lebih karena aku malas nge-gank atau bergerombol seperti remaja lainnya. Teman bisa di cari, tapi kalau aku pribadi lebih suka dengan kesendirian dan ke praktisan karena sendiri, kalau suka itu kenapa harus menyusahkan diri dengan hang-out rame2?

Aku bukan orang yang takut jadi berbeda dengan yang lain. Aku sering memperhatikan secara nggak sengaja. Temen sekelasku, sepertinya dia terlalu bergantung pada teman2nya. Tahu kan, anak2 remaja yang menganut paham “Nggak ad
a teman, nggak selamat”
. Bukan seperti mayoritas remaja yang manganut paham “Nggak ada teman, nggak asyik”. Dari yang aku perhatikan, mereka selalu memaksakan diri. Yang satu mengeluarkan joke garing, dia tetep aja ketawa seakan-akan itu adalah pernyataan terlucu di dunia. Mana ketawanya kenceng banget, keliatan maksanya. Atau jika ada yang bilang “A” dia juga ikut-ikutan bilang “A” tapi begitu yang lain bilang “B” dia ikut bilang “B” juga. Bener-bener nggak punya pendirian dan jati diri. Hal ini jadi merambat ke berbagai aspek lainnya, seperti masalah pelajaran, masalah mode rambut dan pakaian, dll. Nggak asik bgt kalo satu sekolah mdoel rambutnya sama semua. Pakaian aja uda seragam, masa masih harus di tambah model rambut juga sih. Jika ingin berbaur, kan nggak perlu memaksakan diri segitunya. Aku aja bisa berbaur meskipun kemana-mana sendirian. Dan aku ngerasa enjoy begini, jadi kenapa dia harus memaksakan diri seperti itu.


Back to Topick. Tante yang datang dari Samarinda itu, ngotot pengen ketemu sama anak Ayah yang pertama (Aku, red). Otomatis, diriku yang suci ini diseret keluar kamar untuk ketemuan sama itu tante2. Omaigad. Kenapa jadi beginiii…. Aku tak mau *lebay*

Yah, seperti biasa, kita salaman, lempar senyum basa-basi, dsb. Ini tante (yang namanya aja aku nggak inget) negliatin aku sambil mesam-mesem. Kayaknya sih nunggu aku ngomong, tapi dasarnya aku lagi nggak mood untuk main tamu-tamuan begini jadinya malah diem aja. Trus, akhirnya tante itu cerita-cerita tentang kami waktu masih di Samarinda dulu. Katanya, dia uda pergi ke Aussie untuk sekolah waktu aku pindah ke pulau Jawa. Pantes aku nggak inget. Dasar dudul. Tapi nih tante inget aku.

Katanya wajahku nggak banya berubah dari dulu. Apa itu nggak berlebihan? Hello.. terakhir aku di Kalimantan itu 10 tahun lalu. Oh iyah, aku bisa bayangin. Dari dulu sampai sekarang aku paling males sisiran (apanya yg perlu disisir, lha rambut ini aja tipis dan lembutnya bukan main) sekarang aja tiap berangkat sekolah aku nggak pernah sisiran maupun bedakan. Rambutku tersayang ini sangat pengertian, tanpa disisir uda bisa rapi seperti semula. Mungkin karena jarang bedakan, wajahku yang bersih dari bahan kimiawi tetap terlihat awet item kusem seperti anak TK dulu, nggak ada perubahan. Trus, dulu aku tuh kecil imut mungil. Yang bagian ini aku paling tahu, sekarang juga masih kecil dan mungil, tapi yang jelas aku sama sekali nggak imut. Good. Sekarang aku baru sadar kalau tante ini lagi nyindir.

Katanya lagi, dulu tuh aku ngeggemesin. Cerewet dan ramah pada siapapun. Lincah dan gemar berlari-larian. Ceriwis dan pinter omong seperti orang dewasa. Seperti kutu loncat, mampir kerumah tetangga yang satu lalu ke tetangga yang lain (kok kedengarannya malah mirip salesgirl). Katanya lagi sih, keliatan cerdas karena berani ngobrol dan nyapa orang2 dewasa, caraku ngomong nggak kayak anak TK lainnya, lebih gede. Bisa ngimbangi obrolan orang-orang dewasa.

Itu benar. Sampai di penghujung SD, aku tetep seperti itu. Tampak cerdas, dewasa, bisa di andalakan, ceriwis, aktif, kayak kutu loncat, bahkan aku ngerasa sedikit populer. Bukannya sombong, tapi itu fakta. Aku uda pindah-pindah SD empat kali, dan kejadiannya selalu sama. Jadi leader, bisa di andalkan, ikut lomba ini-itu, ikut les ini-itu, keliatan cerdas. Main sepedah sampai ke kota sebelah hanya karena ikut-ikutan temen. Uh-Oh. Aku capek. Bosen. Males. Setelah melewati masa-masa menyusahkan bahwa aku harus ngurus anak2 kecil bawel susah diatur dan kurang ajar, bisa nggak sih aku dapet sedikit istirahat? Waktu untuk diriku sendiri?

Yeah, itu kejadian saat masuk SMP. Aku jadi orang yang bener2 beda. Mumpung ada kesempatan. Nggak banyak yang orang-orang dari masa SD yang kenal aku di SMP. Aku jadi anak yang pendiem yang males ikut event ini-itu. Lebih sering duduk manis baca novel atau nyalin PR. Menolak jadi leader dengan dalih memberi kesempatan anak-anak kecil lainnya untuk unjuk gigi. Kurang baik apa coba? *caelah*

Dan aku keterusan… sampai sekarang, aku bener-bener menikmati hidupku. Terima kasih Allah. Keseharianku, sekolah, ngenet, nonton film, baca novel, tidur, nyalin PR (yg ini teuteup). No events. No pressing. Semua kegiatan menyenangkan itu di lewatin sendirian aja. No friends. Nggak ada yang ngganggu. Huaaa…. *Teriakan bahagia*

Oke Tante, People change. Pernah denger itu? Yah, just deal with it.



Kedua
Aku minum susu. Setelah baca blognya Cubung, dimana dia masih nggak puas dengan tinggi badan 178nya, dia jadi minum susu tiap malam sebelum tidur. Masa dia uda setinggi tiang listrik masih belum puas sih. Trus, di mana harga diriku yang tingginya nggak lebih dari 155 cm? So, aku langsung beli Frisian Flag yang Low Fat. Tiap malem aku minum satu gelas dengan penuh perjuangan. FYI, aku trauma sama susu. Tiap minum susu bawaannya mual dan pengen muntah. Itu karena dulu sering di paksa minum susu campur telur mentah yang di aduk begitu saja setelah ditambah gula untuk pemanis. Eneg banget deh. Bau amisnya itu lho.. aku masih inget.

Jadi, setelah dua hari full aku minum susu dengan perasaan tak menentu. Pagi berikutnya perutku mules dan mencret dengan sukses. Bikin anak-anak sekelas panik karena wajah pucet karena nahan hasrat pengen mencret. Menolak bicara karena takut keceplosan bilang “e’e”. Bahkan sampai guru Biologi ngancem aku untuk pulang karena ngelihat kepalaku tiduran di meja nahan mencret. Enak aja pulang pagi. Seneng sih. Tapi nggak keren ah, pulang pagi karena perut mules dan pengen mencret gini. No Way. Tengsin dong ah.



Ketiga
SMALLVILLE, I’M IN LOVE. Awalnya sih nggak ngeh. Soalnya kan Trans7 muter Supranatural sebelum nayangin Smallville. Dan aku nggak ngeh kalau Smallville itu kisah preSuperman. Yaitu Superboy. Padahal kan, aku demen ma Superman gara-gara ada akang Brandon. Nyehehe… Tapi uda ketinggalan jauh. Di TV uda sampai season enam. Sedangkan aku, paling males kalau masuk saat di tengah-tengah. Jadinya aku bela-belain nabung buat minjem season satunya di Ezy.

Tiap hari liat wajah Tom Welling, Michael Rosenbaum, dan Kristin Kreuk. Pulang sekolah nonton, malem nonton, pagi nonton. Gitu aja terus. Dan dalam dua minggu, aku sukses nge-RUN Smallville sampe season 6. Ada planning m
au beli DviX Smallville Season 7. Doain aja XD





Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s