Endorsement

Boleh kok Melakukan Pinjaman, Asalkan Alasannya Masih Masuk Akal

Saat kebutuhan sedang sangat banyak-banyaknya namun pemasukan sedang tidak maksimal atau gaji belum turun, duh nggak heran bikin kita pusing tujuh keliling memikirkan cara untuk membayar tagihan yang menumpuk. Urusan uang memang seringkali bikin pusing, meskipun lagu lama mengatakan bahwa uang bukanlah segalanya, tapi realitanya setiap kebutuhan hidup tetap harus dibayar pakai uang, ya kan? Kalau sudah kepepet begitu, tentu akan terlintas di benak setiap orang untuk mencari pinjaman. Namun, meski solusi melakukan pinjaman muncul pada setiap benak orang, nggak jarang ada juga orang yang segan dan ragu untuk melakukan pinjaman.

Banyak bayangan ketakutan yang menghinggapi pikiran. Takut nanti nggak bisa melunasi lah, takut hutang jadi menumpuk lah, dan juga merasa pinjaman bukanlah solusi yang tepat. Namun, saat solusi lain pun nggak kunjung didapatkan. Saat itulah, tentu kita akan semakin bingung dong. Sudah bingung memikirkan kebutuhan yang harus segera dipenuhi, eh masih ditambah bingung memutuskan akan melakukan pinjaman atau tidak. Pusing deh eyke. Nah, sebenarnya pinjaman nggak ada salahnya. Namun ada syaratnya nih. Syaratnya yaitu bahwa pinjaman yang akan kita lakukan harus benar-benar masuk akal tujuannya.

 

                         (Pic taken from here)

Sebelum memutuskan untuk melakukan pinjaman. Kita juga harus memperhatikan berbagai hal saat akan melakukan pinjaman. Apa saja sih, yuk disimak.

  • Mengetahui dari mana dan bagaimana Anda akan melunasi pinjaman.

Sebelum mengambil pinjaman, berpikirlah selangkah ke depan lebih dulu yaitu harus tahu dari mana dan bagaimana nanti kita dapat melunasinya. Jika memang memiliki penghasilan tetap, maka Alhamdulillah yah (ter-Syahrini) kita bisa dengan tenang melakukan pinjaman. Atau ketika kita sudah memiliki gambaran tertentu tentang dari mana Anda mendapatkan pemasukan, maybe sudah ada next project yang sudah pasti akan segera dibayar. Perlu dipikirkan juga bagaimana rencana pelunasannya, maksudnya apakah bisa kita lunasi sekali lunas atau harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Jika memang harus mengumpulkan dulu, maka kita harus lebih disiplin untuk mengumpulkannya agar nggak terpakai untuk keperluan lain, atau bahkan belanja hal yang tidak perlu. Duh susah deh emak-emak kalau lihat diskon mata langsung ijo pengen ambil ini itu.

  • Berkomitmen untuk melunasi

Seringkali orang yang bermasalah dengan penumpukkan hutang biasanya karena kurangnya komitmen untuk untuk segera melunasi sehingga kemudian hutang menumpuk dan terlalu berat untuk ditanggung. Namun, jika kita adalah tipe orang yang bisa disiplin pada diri sendiri untuk melunasi, maka masalah itu nggak akan pernah kita alami. Kuncinya, saat kita memiliki uang atau menerima gaji, segera langsung sisihkan uang untuk melunasi hutang, baik untuk langsung melunasi maupun untuk dikumpulkan dulu. Pokoknya jangan sampai menunda-nunda, apalagi malah menggunakan uang tersebut untuk hal-hal yang nggak penting kayak tergoda Sale atau diskonan.

  • Selektif memilih pihak penghutang

Hal lain yang harus diperhatikan saat akan melakukan pinjaman selanjutnya adalah selektif memilih pihak penghutang. Kita mungkin bisa melakukan pinjaman ke banyak pihak, mulai dari individu seperti saudara atau tetangga maupun lembaga pemberi hutang tertentu. Nah, selektiflah dalam memilih di mana tempat Anda akan melakukan hutang. Jangan sampai salah pilih. Misalnya kalau mau pinjam ke individu maka lihat dulu bagaimana karakter individu tersebut. Apakah kiranya orangnya cukup toleran atau tidak. Pikirkan juga tentang kemungkinan terburuk kalau kita telat mengembalikan hutang, kira-kira seperti apa sikap orang tersebut ya, jangan hanya gara-gara hutang sampai jadi masalah besar dan memecahkan tali persaudaraan. Kemudian, jika memilih meminjam ke lembaga pemberi pinjaman tertentu, maka pertimbangkan apakah mensyaratkan agunan atau tidak, besar bunga, dan berbagai aturan apa yang diterapkan. Nah, jika ingin melakukan pinjaman dana tunai tanpa agunankita bisa juga lho mencari platform online yang menyediakan pinjaman tersebut.

  • Tahu besar bunga, tenggat waktu pengembalian, dan segala aturannya

Jika memilih lembaga pemberi pinjaman, maka pastikan kita tahu berbagai aturannya seperti besar bunga dan tenggat waktu. Jangan sampai asal memilih tempat hutang dan asal melakukan pinjaman. Kalau sudah mengetahui berbagai aturan peminjaman, maka kita bisa memutuskan apakah akan meminjam di lembaga atau tempat pinjaman tersebut atau tidak. Dengan begitu kita nggak akan dirugikan.

Nah itulah beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mengambil pinjaman. Kalau sudah paham dengan hal-hal diatas, maka kita bisa tenang melakukan pinjaman karena terhindat dari resiko-resiko yang selama ini kita takutkan seperti memiliki banyak tumpukan hutang dan tidak mampu menanggung bebannya. Jadi sebenarnya melakukan hutang itu tak masalah asalkan dengan alasan yang masuk akal. Juga mengetahui apa yang perlu diperhatikan saat akan dan sedang dalam konsidi berhutang.

 

(Pic taken from google)

Lalu, apa saja sih yang biasanya menjadi alasan yang nggak masuk akal orang-orang yang berhutang kemudian akhirnya malah hanya mencemplungkan dirinya ke dalam masalah? Berikut ini beberapa diantaranya, jangan ditiru ya…

  • Membeli barang branded seharga puluhan bahkan ratusan juta

Banyak orang yang memiliki gaya hidup selangit walaupun sebenarnya kemampuannya tak setinggi itu. Seringkali mereka membeli barang-barang branded dengan harga mahal demi tampil glamour dan menjaga gengsi. Nggak punya uang, maka berhutang jadi pilihan. Baik hutang  dalam arti sesungguhnya atau berhutang melalui kartu kredit. Nah, ini persis kayak di film Confession of Shopaholic. Saking gilanya ketagihan belanja, dia punya hutang puluhan dollar di 11 kartu kreditnya. Wuidih parah, punya 1 kartu kredit aja pusing, dia malah punya 11 CC. Kalau nggak mau sampai mengalami masalah dengan hutang, maka hindari alasan seperti ini. Membeli barang branded nggak masalah,  boleh kok, asalkan kita mampu mengukur tingkat kemampuan.

  • Berlibur ke luar negeri atau berlibur yang menghabiskan banyak biaya

Tak ada yang salah dengan berlibur. Bahkan berlibur memang merupakan salah satu kebutuhan psikologis manusia. Berhutang untuk liburan juga masih masuk akal. Misalnya memang istri, anak, atau keluarga menuntut liburan dan memang sudah lama sekali keluarga nggak berlibur. Hanya saja mereka menuntut liburan di waktu yang kurang tepat, misalnya seperti saat tanggal tua sebelum menerima gaji. Ajaklah saja keluarga berlibur, berhutang bisa dilakukan asal nantinya segera dikembalikan. Tapiiiiiiii, tetaplah masuk akal. Berlibur untuk menghilangkan penat dan bosan keluarga maupun Anda sendiri nggak perlu yang mengeluarkan terlalu banyak biaya lho. Kita bisa berlibur di dalam negeri saja atau tempat-tempat yang tergolong membutuhkan budget terjangkau. Banyak tempat wisata di dalam negeri yang menawarkan keindahan yang bisa membuat penat dan bosan menghilang. Apalagi sekarang pemerintah kota sudah banyak menggelontorkan dana untuk merubah lahan-lahan kosong menjadi tempat wisata murah meriah bagi masyarakat. Two thumbs up for Indonesian local government. Tiap malam minggu, saya bisa mengajak Edgar main di lapangan kota yang sudah dikondisikan sedemikian rupa untuk hiburan rakyat murah meriah.

  • Berjudi

Alasan nggak masuk akal selanjutnya adalah berhutang untuk berjudi. Bahkan membeli barang branded atau berlibur ke luar negeri yang masih ada manfaatnya saja bisa jadi alasan yang tidak masuk akal. Lalu bagaimana dengan berjudi? Tentunya semakin jadi nggak masuk akal dong. Kayak lagunya Rhoma Irama (duileh gue dangdut amat). Berjudi menyebabkan kecanduan. Setelah kalah berkali-kali ternyata malah semakin penasaran dan ujung-ujungnya nekat berhutang. Sudahlah, lupakan saja niat untuk berhutang karena alasan itu sangat nggak masuk akal.

Nah, itulah beberapa alasan berhutang yang tidak masuk akal. Berbagai alasan berhutang yang hanya untuk bertindak konsumtif atau nggak penting adalah alasan-alasan yang tidak masuk akal. Namun, jika uang yang akan kita pinjam memang untuk kebutuhan penting dan mendesak seperti membayar biaya rumah sakit, memperbaiki rumah, memulai bisnis, dan sebagainya, maka berhutang adalah tindakan yang masuk akal. Tentunya dengan tetap mengingat hal-hal yang harus diperhatikan sebelum berhutang di atas ya.

Apakah Anda sedang memerlukan dana untuk kebutuhan mendesak atau barangkali untuk modal usaha? Maka ketahui cara pinjam uang di koperasi onlineSelamat memanfaatkan uang dengan baik, dan tetaplah masuk akal!

Advertisements
Uncategorized

Wabah Difteri vs Vaksin: Karena Kesehatan Adalah Hak Mereka

Very well written. Dulu pendapat saya terhadap orang yang anti vaksin sangat ignorant. “Ya itu urusan lo, deh. Mau vaksin atau enggak silakan. Kalau sampai kena virusnya, duh kasian deh lo.”

Tapi kemudian saya hamil dan punya anak. Edgar ini the most precious person in the world buat saya. Kalau bisa, saya mau kasih dia vaksin lengkap supaya nggak kena penyakit. Apalagi setelah saya paham mengenai Herd Immunity. How could everyone still be so selfish after understanding that? 

Waktu saya hamil, saya super parnoan. Saya baca apa saja kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada janin. Termasuk virus. Saya bahkan cek Tokso dan segala macam sebelum menikah, just in case. Dan setelah membaca blog Mama Ubi, saya menyesal dulu kenapa nggak ambil vaksin Rubella sekalian. Tapi saya bersyukur kehamilan saya sehat. Dan amat sangat bersyukur ketika Edgar lahir, kebetulan MR menjadi vaksin wajib dan gratis. Saya senang nggak perlu keluar kocek untuk bayar MMR. Sejak usia dua bulan, saya kasih edgar vaksin tambahan untuk PCV dan Rotavirus pakai uang pribadi. Setelah ini saya berencana mau kasih Edgar vaksin Japanese Enchepalistis. Yup, sebesar itu ketakutan saya.

Saya juga sudah pernah baca sharing ibu-ibu di Facebook yang kebetulan tinggal di Arab sono. Bahwa vaksin, yang kata para anti-vaks mengandung zat babi dan tidak halal itu, di Arab sono justru menjadi wajib ‘ain harus dilakukan hukumnya. Just like what Mba Dewi Nur Aisyah said di blog postnya (makanya, dibaca yaah). Jadi, masih mau egois dan membahayakan banyak masyarakat yang tidak bersalah? Coba dibaca lagi literatur sciencetificnya supaya tidak mudah terprovokasi.

Dewi Nur Aisyah

“Being a parent is not about what you think best for yourself. It’s about doing what is best for your child”

Saat ini di tanah air sedang ramai berita tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di banyak provinsi di Indonesia. Sedikit coretan ini akan membahas mengenai difteri, tentunya dari kaca mata epidemiologi. Difteri pernah menjadi penyebab utama penyakit dan kematian tertinggi pada anak-anak. Pada tahun 1921, terdapat 206.000 kasus difteri di Amerika Serikat dan mengakibatkan 15.520 kematian. Difteria juga merupakan penyebab utama kematian ketiga pada anak-anak di Inggris dan Wales pada tahun 1930-an. Sejak diperkenalkannya imunisasi yang efektif pada tahun 1920, angka kejadian difteri telah menurun secara drastis di Amerika Serikat dan negara-negara lain yang mencanangkan program imunisasi secara luas di wilayahnya.

Difteri blog 2 Chart kasus difteri di Amerika Serikat dan poster pencegahan difteri pada tahun 1900

Kapankah pertama kali ditemukan kasus difteri?

Difteri pertama kali digambarkan oleh

View original post 1,499 more words

Healthy Lifestyle

BBG: Bikini Body Guide by Kayla Itsines – Demi tubuh idaman

Kalau orang-orang pengen kurus, saya justru pengen gemuk. Punya badan kurus kerempeng itu nggak enak loh. Nggak enak rasanya di badan dan dilihat juga nggak enak. Mau pakai baju apapun keliatan jelek karena kayak pake karung, gombor-gombor kegedean. Kalau mau beli baju, susah cuy. Soalnya ukuran standar, size SMALL aja masih kegedean. Masalahnya, badan saya nggak cuma kerempeng, tapi juga pendek alias stunted.

Now, here I am. It’s been 14 months post partum. Believe it or not, sejak 6 bulan post partum, BB saya uda balik ke BB sebelum hamil, yakni di 39 kilogram. What the hell, eyke kerempeng lagi cynn. Sampai sekarang nggak naik-naik nih timbangan. People who knows me in real life semua tahu porsi makan saya kayak kuli. Sejak melahirkan, porsi makan saya masih kayak kuli PLUS suka nambah sampai 3x pula. Jadi istilah tepatnya, sekarang saya makan kayak babon. Tapi kok BB tetap segitu-segitu aja. Ya wes lah, kerempeng nggak apa-apa yang penting nggak gembos kiwir-kiwir.

Makanya saya pengen punya badan yang toned. Nggak perlu bohay layaknya guitar body. Yang penting nggak kerempeng-kerempeng amat dah. Body goals saya sekarang yaitu pengen keliatan lean and toned. Alias keliatan padat, nggak cuma kulit dan tulang doang kayak sekarang gitu.

Then I stumbled on this BBG program by Kayla Itsines. Awalnya justru saya lebih dulu dengar program yang namanya Fit Girls Guide yang cuma 28 hari saja. Tapi karena itu workout yang harus dilakukan selama tiap hari non stop dan saya tahu kapasitas diri ini nggak sampai segitu, akhirnya saya coret program itu dari daftar. Saya keep searching on sampai saya menemukan BBG program. But, then, saya nikah lalu hamil lalu terlupakan lah semua program ini wkwkwk.

Hamil adalah satu-satunya masa dimana saya mendapatkan tubuh ideal impian saya. My booty looked nice, lengan dan paha keliatan berisi. My boobs? Hahaha sayang sekali, sama ajah bentuknya dan nggak ada perubahan ukuran. Secara keseluruhan, body saya keliatan PAS. Walau banyak yang komentar I looked like busung lapar, atau kayak cacing kremi (I don’t even know what is cacing kremi look like). Soalnya, perut eyke doang yang gede, sisanya cungkring, hahaha, naseb.

Duh jadi kemana-mana deh ceritanya. Anyway, back to topic. BBG ini adalah program workout selama 12 week. Saya merasa this program is for me karena gerakannya bisa dilakukan di rumah, hanya butuh waktu 28 menit saja, nggak perlu banyak peralatan fitness, dan hanya dilakukan 3x seminggu. Ini mah cocok banget buat emak-emak pemalas kayak saya.

Tapiiiii setelah baca review sana sini dan nonton honest review di youtube, buset dah kayaknya ini workoutnya berat juga ya. Full cardio, bok. Buat yang nggak pernah workout sama sekali kayak saya ini, kudu Pre-training selama 4 weeks dulu biar badan nggak kaget. Jadi totalnya saya harus workout selama 16 weeks. Well, so be it.

Setelah saya tanya kesana kemari, kata tante saya, kalau mau workout pasca 1 tahun c-section pada dasarnya sudah boleh melakukan semua gerakannya. Tapi harus main feeling. Kalau dirasa badan nggak kuat atau nggak mampu, ya nggak usah dilakukan. Kalau kuat, teruskan. As simple as that, saya bismillah Nawaitu mau nyoba BBG program ini SEMAMPUNYA. Yang penting tujuan akhir, which is lean and toned body goals, tercapai. And hopefully, bisa jadi healthy lifestyle sampai akhir hayat saya.

Picture taken from instagram: @puspadewihc

My life goals is having young looking and healthy body for the rest of my life. Just like Mama Hadi at the picture above. Saya sampai kaget kalau jeng geulis di foto itu adalah seorang Ibu berusia 50 tahun yang sedang dicium putranya sendiri. Cuy, itu kayak lagi foto sama pacarnya. Ya ampun, how could she looks so young and pretty at 50??? Unbelievable! I also want to be just like her at 50!